Agnihotra di Bali

149 views
banner 468x60

HOMA YADNYA

Agnihotra (अग्निहोत्र)

Agnihotra atau Homa adalah upacara berdasarkan Veda, Ritual Api Suci ini perlu mendapat perhatian untuk dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif di dalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna. Kalau dilihat sejarah di Bali, Agni hotra yang sering disebut Homa Yajna sama seperti yang tersirat dalam Atharwa Weda 11.7.9, Yajur Weda Samhita dan Shatapatha Brahmana 12.4.1. Agnihotra atau Homa telah datang dan dilaksanakan di Bali bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Bali. Namun seiring jaman ritual ini tenggelam karena sulitnya pemenuhan syarat ritual tersebut.

Oleh karena itu, ketika upacara Agnihotra mulai hidup lagi, maka tidaklah patut dicurigai, apabila ia hadir sebagai ritual yang jelas dasar sastranya, penerapan aturannya jelas dan tentu yang melaksanakan sesuai sastra. Perkembangan ritual Agni Hotra

Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. jadi pengembangan Agnihotra kedepan sepenuhnya terserah pada umat untuk memilihnya. Kebebasan ini tercermin dalam Bhagawad gita dengan menyebutkan “jalan apapun yang kau tempuh akan aku karunai

Seperti dalam petikan kisah Ramayana, di mana pada tampilan awalnya selalu muncul upacara Agnihotra yang dilakukan oleh para pertapa, guru-guru suci (Brahmana) di pertapaannya. sedangkan dalam kisah Mahabharata upacara agnihotra dilakukan oleh Raja Pancala (Ksatria) dalam usaha memperoleh putra.

Jadi jelas bahwa upacara Agnihotra memanglah sebuah upacara tua menurut Veda yang sampai saat masih banyak dilakukan di India. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.

Agnihotra adalah suatu tatpurusa campuran (samāsa), suatu persembahan ke dalam Agni atau api yang disucikan (pada awalnya, yang dipersembahkan adalah susu). Upacara api suci juga dilakukan oleh penganut agama Zoroaster (Yasna Haptaŋhāiti). Bagian utama dari upacara suci Agnihotra adalah mempersembahkan susu ke dalam api suci tepat pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam, diiringi dengan lantunan mantra-mantra dari Weda. Agnihotra biasanya dipimpin oleh seorang Pandita atau Pinandita, diikuti oleh semua peserta upacara.

Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu Agni dan Hotra.

  • Agni adalah api, dan
  • Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan.

Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.
Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci.

Api juga disebut sebagai sang pemimpin (agne naya); juga sebagai pendeta (purohitam) sebab Ida Sang Hyang Widi Wasa telah mengizinkan adanya matahari, sifat tuhan yang tak terbantahkan dalam diri api yakni sebagai saksi semesta. Demikian pula seorang pendeta dalam memimpin upacara akan mewujudkan diri sebagai Siwa Raditya dengan cara menghidupkan astra dupa dipa mantra; inilah yang memimpin upacara itu.

Mengapa persembahan harus didepan bahkan dimasukan kedalam api?

disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ketempat lain.

Ini disebutkan dalam petikan mantra Reg Veda I.1.1, yang merupakan rujukan utama agnihotra;

agním īḷe puróhitaṃ yajñásya devám r̥tvíjam, hótāraṃ ratnadhā́tamam
kami memuja TUHAN (dewa agni), pendeta utama alam semesta, yang melakukan kegiatan melalui hukum abadi, yang memelihara dan menghidupi segalanya, yang bersifat ilahi dan cemerlang.

Rgveda I.1.1

Maknanya adalah bahwa dewa Agni berfungsi dan bertugas sebagai Purohita (Pendeta Utama),

maka dapat disimpulkan bahwa tanpa dewa Agni berarti semua upacara persembahan akan sia-sia belaka. Kalau dikaitkan dengan yajna di jaman sekarang tidak akan lepas dari api itu sendiri.

menurut sri aurobindo, Agni sering diartikan sebagai API di altar (kunda), padahal yang dimaksud AGNI itu lebih merujuk pada GNI RAHSYAM, api spiritual yang ada dlm tubuh. ini diperkuat dengan tidak adanya indikasi bahwa API itu dihidupkan secara manual oleh orang lain (pendeta) namun lebih mengacu pada kemampuan diri, ini mengacu pada mantra Rg Veda I.36.4 yang menyebutkan bahwa api tersebut dinyalakan oleh kekuatan kosmis Mitra (cinta dan harmonisasi suddhi) dan VARUNA penguasaan diri, sehingga lebih mengacu pada kekuatan meditasi

dalam Tradisi bali, prosesi menghidupkan API dalam diri tersebut disebut dengan NGURIP GNI SAKTI atau GNI RAHSYA

hal itu tersirat dalam lontar Sang Hyang Aji Saraswati dimana meditasi penyatuan triaksara yang menghidupkan api dalam kunda nabi (sekitar pusar), efeknya tentu energi spiritual yang bisa dibuktikan secara nyata baik via kawisesan nerang jana (dengan melihat obyek tertentu, maka obyek tersebut terbakar), ataupun diuji dengan menjadi pangusada. Lebih mendalam bisa dilihat dalam lontar-lontar pangiwa, pangusada ataupun kawisesan seperti rajapeni, punggung tiwas, dasa aksara dll.

Fungsi AGNIHOTRA

Pada hakekatnya Agnihotra adalah upacara multifungsi. Secara garis besar kehidupan manusia dibagi menjadi dua yaitu :

  1. kewajiban; yaitu berupa perintah Tuhan yang harus dilaksanakan oleh umatnya
  2. tindakan yang dilakukan berdasarkan untuk pemenuhan kebutuhan/keinginan

Demikian pula upacara Agnihotra dilakukan untuk :

  1. Nitya Karma (sebagai kewajiban) adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan seseorang sebagai penganut Hindu. Dari kewajiban ini dapat diketahui bahwa semua tugas mulia tersebut berguna untuk membersihkan diri dan selalu melakukan pencerahan hidup. Ada enam hal penting yang menjadi tugas pokok yang harus dilakukan sebagai pelaksanaan Nitya Karma, yaitu : (a) Dewa Puja, (b) Melaksanakan Homa dan Belajar sastra Agam, (c) Melayani Orang Tua, (d) Memberi pelayanan kepada binatang, orang miskin dan orang tak punya, (e) Melayani Guru, Athiti, dan (f) Meditasi
  2. Naimitika Karma/Kamya Karma (sebagai bentuk keinginan pada kebaikan) adalah suatu kegiatan yang dilakukan berdasarkan keinginan.
  3. Mencapai Pembebasan. Disebutkan dalam Aitraiyabrahmana, 5,31,2 bahwa jika dia melakukan persembahan sebelum matahari terbit, ini seperti memberikan pada seseorang seekor gajah, ketika tangannya tidak menjulur keluar. Tetapi jika mempersembahkan setelah matahari terbit, ini seperti memberikan sesuatu pada seseorang seekor gajah setelah ia menjulurkan tangannya. Oleh karean itu, harus dilakukan pada saat matahari terbit yang akan membawanya pada Surga.
  4. Penebusan Dosa. Disebutkan dalam Satapathabrahamana 2.3.1.6 bahwa seperti seekor ular bisa bebas dari kulitnya, demikian pula ia membebaskan dirinya dari kejahatan malam hari, demikian pula halnya yang mengetahui dengan melakukan persembahan Agnihotra ia akan bebas dari kejahatan. Penjelasan tentang pembebasan dari kejahatan dan dosa dapat dilakukan dengan melaksanakan agnihotra pada saat matahari terbenam. Ini disebutkan dalam kitab-kitab suci Jaiminiyabrahmana I.8;I.9-10 dan masih banyak kitab lainnya.
  5. Homa Therapy, berarti penyembuhan. Ini ditimbulkan karena efek pelaksanaan Homa di udara. Methodenya adalah harmonisasi putaran energi yang sederhana dari planet. Seorang ahli menjelaskan bahwa reaksi kimia yang terjadi ketika pyramid api Agnihotra membakar semuanya. Yang terpenting adalah radiasinya, kita tahu aspek kimia dari api dimana bagian akhirnya didapatkan H2O, CO2 dan CO. Kemudian ada sinar dan sinar infra merah. Ini adalah pemandangan klasik. Jika dilihat struktur yang lebih halus dari api, maka didapatkan lompatan-lompatan electron dari satu atom pada atom lainnya (seperti sinar dari lampu) dan ini merupakan emisi pada level yang sangat halus dengan serangan tiba-tiba yang kuat seperti teori quantum modern.

Waktu Yang Tepat Melaksanakan AgniHotra

Waktu pelaksanaan agnihotra yang baik sangat tergantung pada jenis upacara agnihotra yang dilaksanakan, yaitu :

  • Waktu untuk Nitya Karma. Pelaksanaannya ditentukan oleh keberadaan matahari yaitu matahari terbit atau terbenam. Seperti disebutkan dalam beberapa kitab suci, yaitu : (a) Kitab Katakasamhita;6,5;54-4 disebutkan “ dia hendaknya melaksanakan agnihotra di sore hari ketika saat matahari terbenam, pagi hari ketika matahari belum terbit, dan (b) Maitrayanisamhita I.8,7 ; 129-9 disebutkan “agnihotra hendaknya dilaksanakan pada saat malam tiba dan pagi hari setelah matahari terlihat bersinar terang”
  • Waktu untuk Naimitika Karma. pelaksanaan agnihotra dalam rangka Naimitika Karma sedikit berbeda dengan waktu sandhya agnihotra atau Nitya Karma. Pada Kamya atau Naimitika Karma, agnihotra dilaksanakan sesuai dengan waktu yang dipilih oleh Yajamana dan Purohita.

Cara Kerja AGNIHOTRA

Prinsip keseimbangan sangat dominant dalam kerja Agnihotra. Seperti proses terjadinya hujan, dimana Air laut menguap karena panas matahari, membentuk awan tebal, terbawa angin kearah pegunungan, karena dingina membentuk titik-titik air, jatuh menjadi hujan, memberikan kesuburan kepada hutan. Air hujan meresap dan disimpan oleh lapisan hutan, mengalir mengikuti aliran sungai dan berakhir di samudra. Siklus ini terulang terus, tiada henti.

Dengan adanya hujan ini maka kelangsungan hidup semua mahluk hidup menjadi terjaga. Demikian juga kerja agnihotra dengan menyalakan api suci, dimana persembahan utama ghee, biji-bijian, dan bunga-bungaan, semua keharuman ini terbawa oleh asap yang bergabung bersama awan, kemudian menjatuhkan hujan. Hujan mendatangkan kesuburan, kesuburan ini dinikmati umat manusia dalam menjalani hidupnya di dunia.

Pernyataan ini termuat disebutkan dalam:

"ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmaya, apah samudriya dharah"
tujuh sinar matahari, mengangkat uap air dari samudra naik ke langit dan semuanya itu menyebabkan turunnya hujan

Atharvaveda VIII.107.1

Yadnya Sebagai Pusat Alam Semesta

Yajna dikatakan sebagai suatu sarana untuk mengembangkan sesuatu dari ketidakberaturan menjadi teratur. Teratur ini dimaksudkan ada suatu patokan atau titik tolak yang dapat digunakan dalam pelaksanaannya. Oleh karena Yajna merupakan sumber aturan dan efisiensi, maka hal ini diagungkan sebagai ”Pusar Alam semesta” seperti disebutkan dalam Regveda I.164.35

Iyam vedih paro antah prthivya ayam yajno bhuvanasya nabhih, ayam somo Vrishno asvasya reto brahmayam vacah paramam
Altar (kunda pemujaan) adalah tempat tertinggi di bumi, tempat yajna (kunda) adalah putsat alam semesta. Persembahan berupa daun-daun atau rerumputan akan menyuburkan bumi dengan jatuhnya hujan secara teratur, Oh Tuhan, Engkau adalah Mahakuasa dan tersuci diantara semuanya

Regveda I.164.35

Makna sloka ini, dimana ada kalimat

  • yajno bhuvanasya nabhih” artinya ”dimana ada pusat, disana ada bundaran (mandala) yang mengelilinginya. Pusat budnaran membentuk bagian integral dari lingkaran yang sama, dan masing-masing menjadi yang lain.
  • bhuvanasya nabhih” artinya ”pusat alam semesta” adalah diskripsi dan sekaligus definisi yajna dalam segala bentuk manifestasi.
  • Sedangkan satya merupakan prinsip utama yang memungkinkan beroperasinya kekuatan-kekuatan menghadapi ketidakbenaran atau kekacauan. Yajna adalah pernyataan tentang deva atau prinsip sattvik menghadapi asura-asura atau kekuatan-kekuatan yang negatif.

Dari penjelasn di atas, maka bentuk pelaksanaan agnihotra, pemimpin upacara -  Yajamana (Brahmana Nabe), serta peserta lainnya (Brahmana dan Raja - Ksatria) duduk mengelilingi kunda, sebagai pusat alam semesta. Kunda pemujaan adalah tempat tertinggi dan pusat alam semesta. Sedangkan pendeta, yajamana dan peserta lainnya duduk sejajar di tanah, menyimbolkan persamaan kedudukan di mata Tuhan. Sebab, bekal manusia setelah meninggal hanyalah karma sewaktu hidupnya atau karma yang tersisa dari kehidupan masa lalu.

Dijelaskan dalam Regveda, mengapa peserta agnihotra duduk melingkar mengelilingi kunda atau Vedi

"Agneyam yajnam advaram, visvatah pariburasi sa, Id devesu gacchati"
Dengan persembahan tanpa himsa, persembahan dilakukan dari segala arah, semoga sampai kepada para dewa

Regveda I.1.4

Makna persembahan dilakukan dari segala arah, menunjukkan bahwa kunda menjadi pusat persembahan, karena pusat alam semesta ada pada api suci. Hal ini tentu saja berbeda dengan pola pemujaan yang mengambil Purana sebagai sumber. Karena adanya lingga atau di Bali lingga diletakkan di pelinggih, sehingga pemujaan dilakukan menghadap pelinggih. Perbedaan ini muncul ketika pemujaan berpusat pada api suci pada Agnihotra.

Dalam perkembangannya maka sang yajamana dengan tulus mempersembahkan persembahan kepada deva-deva dan selalu mencari persahabatan kepada deva-deva, ini akan meningkatkan kemuliaan hati dan pribadi sang yajamana, maka dengan mantra permohonan atau doa berikut sang yajamana menyatakan ketulusikhlasan dalam beryajna. Seperti disebutkan dalam Regveda I.89.2 tentang hubungan atau korelasi yang dilakukan yajamana dengan para deva;

"Devanam bhadra sumatir rijuyatam devanam ratir abhi no ni vartatam, devanam sakhyam upa sedima vayam deva na ayuh pra tirantu jivase"
Semoga Tuhan yang Mahabijaksana selalu melindungi kami. Kami dengan tulus ikhlas telah membina hubungan yang intim dengan pada dewa dan mudah-mudahan para dewa memperpanjang hidup kami sehingga dapat hidup selamanya

Regveda I.89.2

Disini jelas sekali harapan tersebut ditumpukkan pada para deva, terutama dalam timbulnya keingina untuk hidup lama, kekayaan, kemakmuran dan bentuk keunggulan lain yang kiranya dapat diraih. Tentu semua ini bermanfaat jika semua anugerah tersebut dapat digunakan untuk tujuan kebaikan dan akan menjadi bumerang jika digunakan untuk ketidakbaikan.

Seperti biasa, setealah upacara Agnihotra berakhir disertai pula dengan ”Nagarasankirtana”, kalau dibali disebut ”Purwa Daksina”. Dimana berjalan mengelilingi pusat yajna dari arah Timur ke Selatan dengan mengucapkan Bumi Sukta atau Prthivi Sukta, Purusa Sukta dan Nasadiya Sukta. Sukta ini sering ini juga diganti dengan Maha Mantra atau bhajan atau kirtan atau dengan ista dewata tertentu untuk ikut serta hadir dan menganugerahkan rahmatnya kepada sang yajamana.

berikut ini sloka weda yang berkaitan dengan API

Dalam kitab Weda API merupakan salah satu indikator penting dalam setiap yadnya, berikut ini uraiannya:

  • "Sraddhaya agnihsamidhyate Sraddhaya huyate havih, Sraddham bhagasya murdhani Vacasa vedamayasi" - Api pengorbanan (persembahan) dinyalakan dengan keyakinan yang mantap (sraddha). Persembahan (korban suci/yadnya) dihaturkan dengan keyakinan yang mantap (sraddha). Kami mohon keyakinan yang mantap (sraddha), yang memiliki nilai tertinggi di dalam kemakmuran [Reg Weda X.151.5]
  • "Ekam sad vipra bahudha vadanti Agnim yamam matarisvanam ahuh" - Tuhan Yang Maha Agung adalah tunggal. Para bijak menyebut beliau dengan nama yang berbeda – beda. Mereka menyebut beliau dengan Agni (api suci), Yama (Sang pengawas semesta) dan Matarisvan (udara) [RgVeda X.151.5]
  • "Agnim manye pitaram agnim apim Agnim bhrataram sadamit sakhayam, Anger anikam brhatah saparyam, Divi sukram yajatam suryasya" - Tuhan yang bermanifestasi sebagai Dewa Api Suci, yang kami anggap bapak kami, sanak kerabat kami dan saudara kami [Rgveda X.7.3]
  • "Agne naksatram ajaram A surya rohayo divi Dadhaj jyotir janebhyah, Agne ketur visam asi Prestah srestah upasthasat Bhodha stotre bayo dadhat" - Engkau yang bersinar, engkau yang telah menciptakan matahari, bintang – bintang, bergerak dilangit, menyinari semesta, engkau yang bercahaya, menjadi pelita bagi ciptaanmu, sangat mulia dan tercintalah engkau yang mendampingi kami, berkatilah penyanyi pemujamu, berilah kami kehidupan yang baik [Rgveda X.156.45]
  • "Visoviso ci atithim Vajayantah purupriyam Agni vo duryam vacah Stuse bhusasya manmabhih" - Ia yang menjadi tamu kalian di setiap rumah, Dewata sangat dicinta, kawanmu Kita muliakan (agni) mohon kekuatan [Rgveda VII.74.2]
  • "Tad eva-agnis tad adityas Tad vayus tad u candramah Tad eva sukram tad brahma Tad apah sa prajapatih" - Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung memiliki berbagai sebutan (nama). Dia dinamakan Agni (api), Aditya (matahari), Vayu (udara), Candramas (bulan), Sukra (cahaya), Brahman (makhluk teragung), Apah (yang meliputi semuanya, cair) dan Prajapati (dewa para makhluk) [Yayurveda XXXII.1]
  • "Agne naya supatha raye asman Visvani deva vayunani vidvan Yuyodhy-asmaj-juhuranam eno Bhuyistham te nama uktim visdhema" - Ya Tuhan yang bermanifestasi sebagai Agni, dikau mengetahui semua perbuatan kami, diaku maha mengetahui. Bimbinglah kami menuju ke jalan yang benar untuk kemakmuran dan nasib yang baik. Hapuskan dosa – dosa kami yang membangkitkan kebencian. Berulang kali kami menghaturkan sembah memuja kehadapanmu. [Yayurveda V.36]
  • "So agnih sa u suryah Sa u eva mahayamah" - Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung adalah Agni (api), Surya (matahari), dan Maha Yama (dewa kematian) [Atharvaveda XIII.4.5]
  • "Agnir jyotir jyotir agnir, Indre jyotir jyotir indrah, Suryo jyotir jyotir suryah" - Tuhan yang bermanifestasi sebagai Agni adalah sinar, sinar adalah Api. Indra adalah sinar, sinar adalah Indra. Surya adalah sinar, sinar adalah surya [Sama Veda 1831]
  • "tamaso ma jyotir gamaya" - tuntunlah kami dari gelap ke terang [Br. Up I.3.28]

catatan:

agni bukan hanya sekedar api, tapi manifestasi Tuhan yang menjadi Api.

Sekilas gambaran pelaksanaan Agni Hotra di Indonesia

Kisah agni ini di Indonesia khususnya bali memang tak sederhana; bahwa api juga dilambang sebagai nafsu yang berkobar-kobar, tak kenal siapapun disaat murka; akan menghancurkan apapun tanpa kenal ampun. Agni juga mendapat gelaran sarwa baksa; pemakan segalanya.

Pelaksanaan Agnihotra atau Homayajna di Indonesia (Bali) dapat kita lihat dan kaji lewat peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat. Salah satu peninggalan purbakala adalah adanya lobang api (Yadnyasala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya upacara Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana upacara Agnihotra. Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yadnya kunda (Yadnya sala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya upacara Agnihotra. Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Sala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya upacara Agnihotra.

Manfaat Melaksanakan Agni Hotra

  1. Menghapus Dosa Sang Yogiswara (brahmana) "...sakweh ning papa nika sang yogiswara, lawan ikang wasana kabeh, yateka tinunwan de Bhatara ning siwagni..." - seluruh dosa beserta karmawasana seorang yogiswara dimusnahkan oleh Tuhan dalam siwagni..[wrhaspati tattwa].
  2. Menghapus dosa warga negara, lewat ritual Aswameda yadnya. "...Gunaning aswameda yajna kawruhaken denta naku, ikang yajna angentasaken saisin rat bhawana, umilangaken sarwa geleh geleh ing loka makadi tang ila ila kabeh, mwang sarwa krura, sarwa mandi, sarwa magalak, sarwa mrana, marmaning pada inangaskara ikang sarwa tiryak sarwa prani, sarwa janma tekeng daitya danawa raksasa, bhuta kala dewa Bhatara. Ika samodaya inarpanakena ginawe HOMA, maka stana Sang Hyang Agni dumilah gumeseng ikang lengkaning bhuwana kabeh" - Guna dari Aswameda Yajna, ketahuilah olehmu anaku, adalah yajna untuk membebaskan seisi dunia, menghilangkan segala kekotoran di dunia, terutama segala dosa, segala yang menyeramkan, segala yang gaib, segala yang buas, segala penyakit tanaman, karena semuanya tersucikan oleh yajna itu, apakah itu binatang, mahluk hidup, manusia, sampai pada detya, danawa, raksasa, Bhuta, kala, dewa, dan Bhatara. Itu semua akan tersucikan dengan dibuatkan “homa”, sebagai stana Sang Hyang Agni yang menyala, membakar seluruh kekotoran di dunia. [Kala Tattwa]

Penggunaan API dalam Ritual di Bali

Bentuk pemujaan api terlihat dalam setiap ritual dibali seperti:

  • "api takep" pada Segehan, yang dibuat dari dua belah serabut kelapa, dasarnya ada tapak dara; lambang harmoni inilah juga oleh para cendekiawan disebut Yoga Jiwatman; yang menolak dari segala godaan.
  • "prakpak" dan "obor"; keduanya adalah penenang bhuta kala, penunjuk arah kemana bhuta kala itu harus menuju.
  • "api sundih" api ini merupakan penerang jalan untuk roh orang yang meninggal, (pitra yadnya) saat mayatnya dibawa ke kuburan.
  • "api tetimpug", api ini ada dalam rangkaian upacara mecaru, dibuat dari tiga potong bambu, jika bambu itu dibakar akan menimbulkan ledakan; namun syaratnya di ujung bambu itu dibuatkan sampian; symbol bahwa bambu itu telah dihidupkan.
  • "Sambe Layar"; serupa dengan dipa, yang digunakan sebagai sarana nerang hujan.
  • "api tabunan"; serupa dengan api unggun, digunakan sebagai penyucian darah yang tercecer karena kecelakaan; darah yang menetes diyakini dalam tradisi bali akan hidup sebagai kekuatan jahat.
  • "api ganjreng" digunakan sebagai pelindung bayi, sebagai salah satu bantuan untuk nyama papat (kanda pat rare), yang diletakkan di tempat mengubur ari-ari, digunakan hingga bayi berumur 42 hari (bulan pitung dina)
  • "api linting"; dimana api dalam upacara manusa yadnya yang dibuat dari ujung lidi dililitkan kapas yang dicelupkan minyak kelapa (nyuh surya), yang dibuat sebanyak tiga batang. digunakan sebagai petunjuk pemilihan nama bayi, Tradisi lama ini sangat menarik dimana calon nama bayi digantungkan di batang linting; lalu dinyalakan, mana pilihan nama yang terakhir terbakar; itulah nama si bayi.
  • "Blencong" (lampu sumbu) yang digunakan oleh Jro Dalang dalam pertunjukan Wayang Kulit merupakan simbol Dewa Surya/matahari (bhuwana agung) atau alam semesta, Jiwatma (roh) manusia atau bhuwana alit. selain itu Api blencong sebagai simbol dewa Agni
  • "Pasepan/Dupa" api yang umumnya digunakan dalam semua prosesi yadnya (lebih lanjut baca: Penggunaan DUPA di Bali)

Agni dalam tradisi Hindu Bali adalah tak sekedar api. Dalam kitab Sasrasmuscaya dituliskan dengan indah mengenai agni ini:

waisyo’dhìtya bràhmanàt ksatriyàdwà dhanaih kale sambiwhajyàsritàmúca,tretàpùrwan dhùmàmaghràya punyam pretya swarge dewasukhà bhinukte - "...manglelana amuja ring Sang Hyang Tryagni ngaranira Sang Hyang Apuy Tiga, praktyakanya, ahawaniya, grhaspatya, citagni, ahanidha ngaranira apuy ring asuruhan, rumateng I pangan, grhyapatya ngaranira apuy ring winarang, apam agni saksika kramaning winarang ikalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy nring manusawa, nahan ta sang hyang tryagni ngaranira sirata puja..." - taat memuja kepada tiga api suci yang digelari Tryagni; yaitu ahawanya, grhaspatya dan citagni. Ahawanya artinya pemasak makanan, grhaspatya artinya api upacara perkawinan, sebagai saksi, citagni artinya api pembakar jenazah. Itulah tiga api suci, api itu harus dihormati dan dipuja. [Sarasamuscaya 59]

Api dalam pemujaan dibali lebih merujuk pada Sarasamuscaya 59, yakni memuja 3 jenis Api, diantaranya:

  1. Ahawaniya artinya api yang terdapat didapur untuk memasak makanan (Wajib membuat Tungku Dapur tumang 3, sebagai tempat memuja Triagni)
  2. Garhaspatya artinya api yang dipakai untuk sebagai saksi dalam upacara perkawinan (Mabyakaon/Mekalan-kalan saat Nganten - Manusayadnya)
  3. Citagni artinya api yang dipakai untuk membakar mayat (Ngaben - Pitrayadnya)

disamping 3 bentuk pemujaan Api diatas, ritual HOMA dibali sudah dalam bentuk baru, yaitu pasepan.

bagi masyarakat hindu bali, Api selalu membantu dan menemani sejak lahir hingga mati; maka sang api ini sangat penting dan selalu diucapkan dalam setiap mantra hindu bali.

Karena api ini pula arah sembahyang ke arah timur; ke arah matahari terbit, sebab matahari adalah segala sumber api; dia sang pemimpin upacara, pemimpin sembahyang, saksi yang tidak terbantahkan. Bayangkan jika hidup tanpa matahari (?)

begitu pula arah tidur; kepala dianjurkan mengarah ke arah timur. Begitu pula sarana api linting, yang biasanya setiap sore dinyalakan di penjor saat galungan tiba; sayangnya tradisi ini sering dilupakan, tradisi menyalakan linting di senja hari di bagian sanggah penjor; yang tujuannya tiada lain; terus menerus mengingatkan mengenai tujuan hati dalam proses hidup ini.

Mantra-mantra Mudra, Sangkepi dan mantra-mantra lainnya di Bali sangat disakralkan, sehingga hanya seorang Wiku/Sulinggih/Sanyasin saja yang boleh mengucapkannya.

Berbeda dengan pelaksanaan agnihotra atau homa yadnya, kini banyak diikuti secara aktif oleh para walaka di mana mereka juga turut mengucapkan mantra-mantra yang sakral itu. semua itu tidak salah, tapi hanya berbeda pemahaman. dibali Sulinggih (biksuka) lebih dihormati dan diberikan kewenangan dalam pengucapan weda, sedangkan sadaka (grahasta dan wanaprasta) belum diperbolehkan, andaikata ada keinginan untuk mengucapkan, sangat dianjurakan untuk madwijati dahulu, agar mendapatkan gelar biksuka/sanyasin (sulinggih).

untuk para Walaka, cukup menggunakan pemujaan untuk dupa saja, dengan mantra: Om Ang Dupa Dipa Astra Ya Namah Swaha. ini merupakan pemujaan Dewa Agni dengan sarana Dupa yang dilakukan diawal yadnya atau persembahyangan.

Sumber tradisi seperti penggunaan pasepan oleh para pamangku, dedukun atau sedahan desa, menunjukkan pula pelaksanaan Agnihotra dalam bentuknya yang sederhana, sayang tradisi menggunakan pasepan dengan mempersembahkan "daarang asep" atau kastanggi kini nampaknya semakin memudar, pada hal yang penting dalam mempersembahkan pasepan adalah mempersembahkan darang asep tersebut. ini merupakan penyederhanaan akibat penyatuan sekte-sekte yang dahulu sempat berkembang di Bali. Pasepan merupakan ritual Homa di Bali

siapakah yang wajib dan boleh melaksanakan ritual Agni hotra?

Warna Brahmana, selaku pemimpin Yadnya (Yajamana)

BRAHMANA Sulinggih yang boleh melaksanakan dan memimpin ritual Agni Hotra

Berikut ini dasar sastra yang menunjukan bahwa seorang BRAHMANA yang diperbolehkan melaksanakan Agni Hotra, diantaranya:

  • “Mereka (Tuhan) mengatakan siapa yang melakukan pemujaan kepada Beliau, para Brahmana yang mempersembahkan kepada Beliau. Lalu apa yang diberikan, yang diberikan adalah persembahan Agnihotra dan yang ditinggalkan dalam sendok besar adalah sisa (ucchista) dari Agnihotra. Yang tersisa dalam mangkok adalah beras yang dituangkan dari wadahnya. [Kitab Satapathabrahamana]
  • adhìyìta bràhmana wai yajeta dadyàdiyàt tirthamukhyani caiwa,adhyàpayedyàjayecchàpi yàjyàn pratigrahan wa wihitànupeyàt. - "Nyà dharma sang bràhmana, mangjaya, mayajñà, maweha dàna puñya, magëlëma atìrtha, amarahana wikwaning yajñà, mananggapa dàna" - Adapun kewajiban sang Brahmana ialah mempelajari Weda, mengadakan upacara (homa/agnihotra), memberi danapunya selalu menyucikan diri lahir bathin, berkunjung ke tempat-tempat suci, memberikan ajaran agama, sebagai pemimpin upacara dan menerima dana-punya (pemberian suci). [Sarasamuscaya 56]
  • "...sakweh ning papa nika sang yogiswara, lawan ikang wasana kabeh, yateka tinunwan de Bhatara ning siwagni, ri huwusnya hilang ikang karmawasana, tanmolah alanggeng samadhi nira, tanmolah Bhatara ri sira yan mangkana, ya ta matangyan cintamani sira, asing sakaharep nira teka, sakahyunira dadi, ndah wyaktinya kapanggih ikang kastaiswaryan de nira" - seluruh dosa beserta karmawasana seorang yogiswara dimusnahkan oleh Tuhan dalam siwagni. bila pemusnahan karmawasana telah selesai, maka konsentrasinya menjadi kokoh dan kuat. tuhan selalu ada dalam dirinya. karena itu ia dikatakan cintamani, segala yang ia inginkan terpenuhi, sebagai manifestasiNYA ia mendapatkan delapan aiswatya [Wrhaspati tattwa]
  • "Suddha ngaranya eñjing-eñjing madyus, asuddha sarìra, masùrya sewana, mamuja, majapa, mahoma" - Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, sembahyang kepada Sang Hyang Surya, melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Homayadnya. [Silakrama, lamp.41]
  • "aham yajamano ma risam” - persembahan yajamana akan dilaksanakan oleh pendeta (bramana warna) [Baaudhayanasratasutra III.5.13]
siapakah Yajamana tersebut?

Menurut arti kata yajamana berasal dari kata yaj (memuja) dan mana (pikiran). Jadi yajamana adalah sang pemikir/Hyang Siwa sebagai jiwa alam semesta. Beliau juga Pandita (Brahmana) yang benar-benar memahami hakikat tujuan yajna serta memahami puja. sehingga sosok yajamana haruslah memenuhi syarat berikut ini:

  • ''Yajamana ngaran wiku watek puja'' - Maka itu betapa pentingnya yajamana (sadhaka/diksita/brahmana) dalam yajna, terlebih yajna agung, Agni hotra, Tawur Agung, Labuh Gentuh, Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra, Maligya Marebhu Bhumi [Wretti Sasana]
  • ''Mano ha Yajamanasya rupam" - pikiran adalah wujud yajamana [Satapatha Brh 12.8.2.4], dalam penggalan sloka ini dapat gambarkan bahwa yang disebut dengan brahmana yajamana haruslah mampu mengontrol pikirannya, sehingga mampu melaksanakan ritus gaib dari yadnya. hal ini diperkuat dengan adanya sloka ''Mano ha vai yajnasya Brahma'' -pikiran adalah Brahmana yang melaksanakan yajna [Satapatha Brh, 14.6.1.7]
  • ''Yajamana pawitrena..., Rsi murti namostute'' - yajamana sebagai pemberi amerta sujud pada Rsi murti [Panca Maha Bhuta Stawa], sehingga dalam konsepsi Asta Murti Siwa menguraikan bahwa yajamana menempati posisi puncak atau paling dalam (prajna matra) beliau disebut Hotri adalah Pasupati Yajamana yaitu sang Brahmana Nabe.
  • ''Saptatma Yajamanasca, Saptomkara Hutasanah, sarira dese kunde 'smin" - Sapta atma disebut Yajamana Sapta Ongkara sebagai api, badan sebagai kunda/tungku. Jelaslah yang dimaksud yajamana adalah sang muput yajna, yang dalam diri manusia disebut Atma dan di jagatraya disebut Siwa [Atma Kunda]
  • "agním īḷe purohitaṃ" - AGNI selaku (sebagai) pemimpin yadnya [Rgveda I.1.1], seperti penjelasan Sri Ourobindo diawal pembahasan Agnihotra, yang boleh menjadi Yajamana haruslah mampu menciptakan api dari kekuatan "jnana"nya hal ini merujuk pada mantra Rg Veda I.36.4 yang menegaskan bahwa API yadnya diciptakan lewat SAKTI/SIDDHI bukan dengan alat material.

dalam Weda parikrama, gegelaran Pandita (sulinggih), pemujaan dewa Agni dilakukan beberapa kali, yakni:

  • pada saat persiapan upacara Swakarna dan Saprakarananya; dilakukan pemujaan astadhupa dan dhipa.
  • pada saat pasang siwambha dan konsekrasi, dilakukan puja dipa pradiksa.

Warna Ksatria, sebagai pelaksanaan Yadnya

Ksatria RAJA yang boleh melaksanakan Agni Hotra

Berikut ini dasar sastra yang menunjukan bahwa seorang RAJA yang diperbolehkan melaksanakan Agni Hotra, diantaranya:

  • "Yatra suharda, sukrtam Agnihotra hutam yatra lokah tam lokam yamniyabhisambhuva sano himsit purusram pasumsca" - Dimana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal, orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan dan melaksanakan Agnihotra, disana majelis (pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya. [Atharwa Weda XXVIII.6]
  • Adhìtya wedàn parisamstirya càgnìnistwà càgnìnistwà yajñaih pàlayitwà prajaúca, bhåtyan bhåtwa jñàtisambandhinaúca dànam dattwà kûatriyah swargameti. - "Kunëng ulaha sang ksatriya, umajaya sang hyang Wëda, nitya agnihotrà magawayang yajnà, rumakûang rat, huninga ring wadwa, tëka ring kula gotra, maweha danà, yapwan mangkana, swargapada antukanira dëlàha" - Adapun yang patut dilaksanakan oleh Para Ksatriya ialah memperlajari ajaran weda, senantiasa melakukan upacara api suci (agnihotra), berbuat yadnya, mempertahankan negara, mengenal rakyat sampai dengan kerabat-kerabatnya, memberikan derma, dengan demikian ia kelak akan dapat mencapai alam sorga. [Sarasamuscaya 58]
  • "Lumekas ta sira mahoma, pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang yajna" - Mulailah beliau (sang RAJA) melangsungkan upacara korban api (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta Kala semuanya diusir, segala yang akan menggangu upacara korban itu [kakawin Ramayana 25].
  • "...tingkah ing yajna madana dana, kasukan sarwa mulya saraja yogya maka dulurin bhojana mwang sarwa phala mula, maka saksi Sang Hyang Siwaditya, pinuja denira sang siddhayogi, sang natha ratu juga wenang amanguna yajna mangkana...." - Tatacara yajna adalah dengan membagi-bagikan dana kesenangan, segala yang mulai seperti isi kerajaan, disertai persembahan hidangan dan umbi-umbian dan buah-buahan, sebagai saksi Sang Hyang Siwaditya, yang dipuja oleh sang pendeta yang mempunyai pengetahuan sempurna, seorang raja dapat melaksanakan/menyelenggarakan yajna yang demikian. [Kala Tattwa]

disebut ksatria disini adalah Raja, yang dijaman dahulu seorang raja dibali bergelar Dalem atau Dewa agung yang berkuasa tunggal. Raja dalam hal ini adalah raja klungkung, yang membawahi wilayah bali. Adapun raja-raja kecil lainnya diangap setingkat Adipati (dalam masa majapahit), yang dijaman modern ini setingkat dengan Bupati. Tetapi, sangatlah keliru bila menyebutkan bahwa Gubernur = Raja warna, karena Gubernur adalah Adipatinya Presiden. sehingga yang disebut RAJA adalah penguasa tunggal yang tidak berada dibawah kekuasaan Raja lainnya. Bolehkah selain Brahmana Nabe dan Raja melaksanakan Agni Hotra atau Homa?

Bolehkah selain Sulinggih dan Raja melaksanakan Agnihotra?

Warna selain Brahmana dan Ksatria adalah Wesya dan Sudra warna.
sebelum menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini penjelasan singkat tentang catur warna:

  1. Brahmana warna, merupakan profesi umat yang berhubungan dengan kebrahmanan, dibali disebut dengan Sulinggih (wiku/yajamana)
  2. Ksatria warna merupakan profesi umat yang berhubungan dengan pemerintahan, yang menjadi kepala pemerintahan (Raja)
  3. Wesya Warna merupakan profesi umat yang berhubungan dengan perekonomian (investor/owner sebuah usaha), namun yang mampu menghidupi Sudra warna.
  4. Sudra Warna merupakan profesi umat yang hidupnya bergantung pada 3 warna lainnya (Brahmana, Ksatria dan Wesya). sehingga tugas pokok Sudra adalah membantu tugas 3 warna dengan berlandaskan bhakti.

kaitan dengan pertanyaan diatas, bolehkan Wesya dan Sudra melaksanakan, tentu Tidak Boleh. karena sastra sudah mengatur tentang TUGAS dan FUNGSI pokok dari setiap warna. hendaknya setiap orang melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban warna yang dipilihnya. Bila ada keinginan untuk tetap melaksanakan Agnihotra, agar tidak melanggar aturan Weda, hendaknya seseorang tersebut pindah warna, yaitu:

  • madwijati menjadi sulinggih, sehingga otomatis menjadi Brahmana warna, namun andaikata sudah menjadi Pandita tapi Jnana-nya belum mampu menciptakan API sebagai sarana Agni hotra, tentu Pandita tersebut tidak boleh menjadi YAJAMANA.
  • menjadi Presiden, sehingga menjadi Raja (pimpinan wilayah), Kepala Negara (kerajaan) dan Kepala Pemerintahan, saat itulah baru orang tersebut menjadi Ksatria Warna.

śreyān svadharmo vigunah, para-dharmāt svanusthitāt svabhāva-niyatam karma, kurvan nāpnoti kilbisam” - Lebih baik swadharma (kewajiban) diri sendiri meskipun kurang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.

Bhagawadgita.XVIII.47

Gambaran Praktik HOMA YADNYA di BALI

berdasarkan sastra Lontar Bali yang menggambarkan aplikasi RigVeda I.1.1 di Bali:

"...Irika ta ring awan catuspatha, jabaning carangncang ngawangun kundaghni, trikunda, sanga dhepa midher panjangnya sawiji-sawiji […] ri puput upakara sami. Lumekas sang sadhaka tri, mahoma, magenah ring pantaraning kunda manglinggihin padma bata bang samapta, malungguh ta sira amusti anggrana siwa tiga, mayoga ta sira..."

"...Tan asuwe saksana mijil kukus saking ragan sang mayoga, mijil agni sakunang saking sarwwa sandi ning raga, saksana murub dumilah angarab arab ikang geni. Ri sedeng ujwala nikang agni katon dening wong akweh, rasa tan kari sang mayoga. labda jiwa, meh geseng de Sanghyang Agni..."

"...Sedeng ujwala nira Sanghyang Agni, katon masulung-sulung sumungsang tiba ring agni, hana ireng kadi megha sagunung, kadi mega putih sumeru gengnya pasumungsang ring Sanghyang Agni, hana kadi wyagra, han kadi gajah, hana kadi kuda, hana nglayang kadi paksi mapupul, hana kadi awun tan pramane kwehnya, pira warsa kwehnya tanena winilang kwehnya. Mangke meh sumurup Sanghyang Diwangkara, hita sarwwa wighna ring jagat prasidha telas tiba ring kundagni, kasreng dening mantran sang tiga wisesa...."

"...Ring puput ikang yajna homa, dadi ta mijil sang mahoma saki jeroning kundi geni anuwut kukus, paripurna kayeng lagi, tan karasa pa ikang agni, mangke parama tusta sarwwa tumuwuh ring jagat, amuji-muji saktin sang tri, tulya deweta tumurun. Ri wus karya homa, salwiring laraning manusa satingkebing rat, edan buyan sangar udug rumpuh, kepek dopang, bedug, wegah busung, salwiring lara ning gring, kadi sinapwan tan patamba dadi waras, saktin sang rumaksa jagat, tri sakti shiwa buddha satriya putus, sira wenang angilangang klesa ning iagat kabeh..."

"...Mangke tucapan Sri Bhanoraja jumeneng basmakara pudgala krama ring sira Bhagawan Purbhasomi, brahmana sangkan rare, rwa maka purohita nira, shiwa buddha maka purohita nira, sira sang sadhaka Buddha ngaran bhagawan Romacchana kadi Sanghyang Tri Purusa tulya sira, kadi Bhathara Shiwa Saddashiwa Paramashiwa sira sang tiga wisesa, tar pahi Sanghyang Brahma Wishnu Ishwara madeg ring jagattraya sira. Mangke Sri Bhanoraja puspata Bhagawan Dharmaraja, mangke mahyun ta sira manggawe yajna homatraya wisesa, anggeseng malaning gumi, apa lwirnya; traya ingaranan tri, homa ingaranan yoga, shakti, ndya tri, brahmana Shiwa Buddha Satriya putus, ika ingaranan homatraya, apan tri sang mayoga..."

Lontar ISHWARA TATTWA dalam Shastra Wangsa (Palguna, 2018:553)

Sekilas cerita rumor Raja Bali yang melarang pelaksanaan ritual Agni hotra

Agnihotra tidak hanya penting dan dilaksanakan umat Hindu semata, namun pelaksanaannya juga sudah meluas di kalangan non-Hindu. Bahkan dalam Agama Budha ada dikatakan Agni Hotra adalah Yadnya utama dari segala Yadnya.

Mengapa?

karena manusia tidak bisa lepas dari penggunaan api sebagai sarana dalam kehidupannya.

Kebutuhan manusia adalah makanan, makanan dalam wujud buah-buahan dan sayuran-sayuran memerlukan sinar dalam pertumbuhannya, sedangkan sinar adalah energi dan energi umumnya berasal dari api.

Dalam tradisi Veda, upacara Agnihotra perupakan ritual tertinggi dan tertua keberadaannya karena telah ada sejak zaman Veda, dari sejak dulu kala di India maupun di Indonesia, khususnya di Bali.

Dulu, "katanya" upacara Agnihotra pernah menimbulkan kebakaran besar, adapun rumor yang dikatakan menjadi penyebabnya diantaranya:

  • akibat sisa ritual ditinggal tidur oleh keluarga kerajaan beserta pengawal kerajaan. asumsi ini terlihat aneh, karena kebiasaan dibali setiap ritual pastinya ada "pengemit" penjaganya, walaupun ritual itu telah usai, namun pura-pura suci dilingkungan kerajaan pastilah dikemit pengawal khusus kerajaan.
  • akibat api homa yang terlalu besar, besarnya api disebabkan oleh angin musim saat itu cukup kencang. Alasan ini juga terkesan aneh, apakah ritual-ritual homa sebelumnya tidak pernah dilakukan disaat angin besar?

KATANYA, akibat kebakaran tersebut akhirnya raja memerintahkan agar Agnihotra ditiadakan atau minimal diringkas. Karenanya upacara ini sempat mengalami penyusutan dan berubah dalam bentuk yang lebih kecil menjadi Pasepan dan Pedupaan, namun, cerita ini belum dapat diyakini karena belum ada sumber yang menyatakan hal tersebut dengan jelas, misalnya lewat Raja purana, ataupun Piagem-piagem yang dikeluarkan oleh para Raja Bali.

kesemua alasan-alasan diatas terkesan mengada-ada, sehingga mengesankan raja dan brahmana dibali tidak paham arti penting HOMA tersebut. Menurut logika sastra, TIDAK DILAKSANAKANNYA sebuah ritual haruslah memiliki alasan yang jelas, tegas dan sesuai sastra agama.

Merujuk penjelasan tentang Agni hotra atau HOMA yadnya diatas, maka alasan paling tepat kenapa Ritual Weda Agni Hotra belum bisa dilaksanakan karena kemampuan spiritual yang dirasa belum memadai dalam hal ini dipandang generasi berikutnya belum mampu melaksankannya. Agni hotra boleh dilaksanakan apabila Yajamana-nya mampu membuatkan Api dengan Jnana kesaktian idepnya (Kemampuan Ngurip Gni Rahsya). sesuai Rigveda 1.1.1. dan lontar Ishwara Tattwa.

Dan yang mungkin itulah sebab terbitnya BHISAMA DALEM Waturenggong, yang menghapus Ritual ini, akibat dari tidak adanya Brahmana yang mampu melakukan syarat utama tersebut.

Agar Yadnya di Bali tetap berjalan sesuai tuntunan Kitab Suci, maka setiap yadnya ditetapkan adanya 3 tokoh pemimpin yadnya yang disebut sebagai "Tri Manggalaning Yadnya", diantaranya:

  1. seorang yajamana yaitu seorang Sadhaka (wiku watek puja - Brahmana warna)
  2. dibantu seorang Tapini (sadhika/sadhaka istri - Brahmana warna) sebagai wujud yantra/candi banten, dan
  3. seorang lagi sebagai Pengrajeg karya (Raja/Pemimpin wilayah yang berkepentingan - Ksatria warna) yang mempersiapkan perlengkapan yajna.

Sebagai Penutup, yang tidak kalah pentingnya...

PERINGATAN bagi yang bukan Ahlinya dalam pelaksanaan Agni Hotra atau HOMA

WARNING Bagi Pelaksana, Pemimpin (yajamana) dan Peserta yang ikut dalam Ritual Agnihotra

PERINGATAN
bagi yang bukan Ahlinya

AHLI dalam pelaksanaan AGNI HOTRA

"Yasya āgnihotram adarśam apaurṇamāsam acāturmāsyam anāgrayaṇam atithivarjitaṃ ca, ahutam avaiśvadevam avidhinā hutam āsaptamāṃstasya lokān hinasti"

Mundaka Upanishad 1.2.3

Terjemahan:

Ketika seseorang melakukan Yajna Agnihotra [tidak secara ketat sesuai dengan aturan Yajna] tanpa Yajna tambahan - Darsa, Paurṇamāsa, Cāturmāsya, dan Ãgrayaṇa - atau tanpa menjamu tamu, atau dengan melakukan Yajna pada waktu yang salah atau tanpa ritual Vaiśvadeva - maka dalam semua persembahan Yajna tersebut tidak dilakukan dengan benar. Akibatnya, kehancuran. [Bagi dirinya] tujuh dunia mengalami kehancuran.

Penjelasan
Sekarang anggaplah Anda tidak dapat melakukan Yajna Anda dengan benar. Sloka ini memberikan peringatan.

Agnihotra adalah Yajna seorang brahmana/brahmin dilakukan sepanjang hidupnya. Bahkan sekarang ada keluarga brahmana yang melakukan hal itu. Mereka memiliki api, mereka membakar selama beberapa generasi.

Ketika Anda melakukan Yajna ini Anda menghaturkan Yajna setiap hari. Agnihotra itu sendiri adalah Yajna yang sangat sulit, tapi itu tidak cukup hanya melakukan Agnihotra. Ada Yajna lain yang menyertainya bahwa Anda juga harus melakukan-yaitu Darsa, Paurṇamāsa, Cāturmāsya, dan Ãgrayaṇa, ditambah ritual Vaiśvadeva. Kemudian lagi, ketika Anda melakukan Yajna ini Anda juga harus menjamu tamu.

Tapi misalkan seseorang, setelah mulai ritual ini, tidak dapat memenuhi semua kewajiban yang diperlukan sesuai dengan Kitab Suci, Apa yang terjadi padanya?

Ãsaptamān lokan hinasti --tujuh dunia tersesat untuknya - yaitu, tujuh alam yang lebih tinggi, dimulai dengan bumi.

Sri Ramakrishna pernah mengatakan bahwa Kali Yoga ini sulit untuk melakukan Yajna tersebut - bahwa ritual kanda karma tidak cocok untuk jaman ini. Ketika Anda melakukan Yajna seperti itu, semua rincian harus cermat diikuti, dan jika Anda menyimpang dari petunjuk yang diberikan dalam kitab suci, Anda kehilangan.

Kitab suci mengatakan bahwa "semua hal yang baik yang telah Anda lakukan dalam hidup Anda tidak berguna". Sri Ramakrishna mengatakan bahwa saat ini orang-orang sibuk untuk mengikuti semua perintah Kitab Suci. Tapi kita semua harus bekerja. Bahkan ketika kita berpikir, itu juga jenis bekerja. Jadi kita tidak menyerah untuk bekerja, tapi hari ini tidak mungkin untuk melaksanakan Yajna yang kitab suci uraikan.

sumber:

  • aurobindo, S. 2015. Hymns to the Mystic Fire (vol. 16). india - Halaman 469
  • sayana, 2015. Rg veda samhita: mandala I,II, III. (oleh i wayan maswinara), rekomen PHDI, Paramita: surabaya. - Halaman 1
    Swami Lokeswarananda, Book Mundaka Upanishad

Agni Hotra itu PENTING

Namun, ketahui dan pahami dahulu aturan pelaksanaannya. Demikian Sekilas Adnihotra di Bali, semoga bermanfaat.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.