Bhagawad Gita 1

No comment 1 views
banner 468x60

Arjuna Wisada Yoga

Bhagawad Gita 1 - Arjuna Wisada Yoga

1.1

धृतराष्ट्रउवाच
धर्मक्षेत्रेकुरुक्षेत्रेसमवेतायुयुत्सवः।
मामकाःपाण्डवाश्चैवकिमकुर्वतसञ्जय॥१-१॥

dhṛtarāṣṭra uvāca
dharmakṣetre kurukṣetre samavetā yuyutsavaḥ |
māmakāḥ pāṇḍavāś cai 'va kim akurvata sañjaya | 1.1

Dhṛtarāṣṭra berkata (uvāca):

berkumpul (samavetāḥ) tempat suci (dharma-kṣetre) Kuruk setra keinginan berperang (yuyutsavaḥ),

pihakku (māmakāḥ) dan juga (ca-evā) para putra Pandu (pāṇḍavāḥ) apa (kim) yang dilakukan (akurvata) sanjaya?

BG I.2-11

Sañjaya berkata:

Duryodana saat itu setelah melihat formasi perang pasukan pandawa, raja mendekati Guru mengatakan kata-kata. Lihat ini guru, kekuatan besar putra pandu disusun oleh putra drupada murid anda yang cerdas. Di dalamnya ada pahlawan pemanah perkasa yang selevel dengan Bima dan Arjuna dalam pertempuran, seperti kesatria yang hebat Yuyudhana dan Virata juga Drupada. Dhrstaketu, Cekitana, dan Kasirāja yang gagah perkasa, Pahlawan dalam masyarakat seperti Purujit, dan Kuntībhoja juga saibya. Dan Yudhāmanyu yang perkasa juga Uttamauja yang kuat, putera Subhadra dan para Putera Draupadi yang semua tentunya kesatria hebat yang ahli bertempur dengan menggunakan kereta.

Tapi perhatikanlah milik kita, mereka yang gagah perkasa wahai Brahmana terbaik, para komandan pasukanku untuk informasi disampaikan kepadamu. Anda sendiri dan Bhisma, juga Karna dan Kripa yang selalu menang dalam pertempuran, Asvatthama dan Vikarna serta putera Somadatta-Bhurisrava juga tentunya. Dan masih banyak pahlawan lainnya mempertaruhkan nyawa demi kepentinganku yang dilengkapi pelbagai senjata kesemuanya berpengalaman dalam pertempuran. Kekuatan kita yang tidak terukur itu dilindungi oleh Kakek Bhīṣma, tapi pasukan pandava yang terbatas ini dilindungi oleh Bima. kesemuanya berdiri pada posisi strategis diformasi yang telah direncanakan, tentunya semua harus mendukung Kakek Bhisma.

1.2

सञ्जयउवाच
दृष्ट्वातुपाण्डवानीकंव्यूढंदुर्योधनस्तदा।
आचार्यमुपसंगम्यराजावचनमब्रवीत् ॥१-२॥

sañjaya uvāca
dṛṣṭvā tu pāṇḍavānīkaṁ vyūḍhaṁ duryodhanas tadā |
ācāryam upasaṅgamya rājā vacanam abravīt || 1.2

sañjayaḥ uvācaSañjaya berkata; 

dṛṣṭvā—setelah melihat; tu—tapi; pāṇḍava-anīkam—pasukan Pandava; vyūḍham—formasi perang; duryodhanaḥ—Duryodhana; tadā—saat itu; ācāryam—guru; upasańgamya—mendekati; rājā—sang raja ; vacanam—kata-kata; abravīt—mengatakan.

Sañjaya berkata:

Tapi Duryodana saat itu setelah melihat formasi perang pasukan pandawa, raja mendekati Guru mengatakan kata-kata.

1.3

पश्यैतांपाण्डुपुत्राणामाचार्यमहतींचमूम्।
व्यूढांद्रुपदपुत्रेणतवशिष्येणधीमता॥१-३॥

paśyaitāṁ pāṇḍuputrāṇām ācārya mahatīṁ camūm |
vyūḍhāṁ drupadaputreṇa tava śiṣyeṇa dhīmatā || 1.3

paśya—lihat; etām—ini; Pāṇḍu-putrāṇām—milik putera Pāṇḍuācārya—guru; mahatīm—herbat; camūm—kekuatan militer; 

vyūḍham—diatur, disusun; drupada-putreṇa—putera Drupadatavāmilikmu; śiṣyeṇa—murid; dhī-matā—sangat cerdas

Lihat ini guru, kekuatan besar putra pandu disusun oleh putra drupada murid anda yang cerdas.

1.4

अत्रशूरामहेष्वासाभीमार्जुनसमायुधि।
युयुधानोविराटश्चद्रुपदश्चमहारथः॥१-४॥

atra śūrā maheṣvāsā bhīmārjuna samā yudhi |
yuyudhāno virāṭaś ca drupadaś ca mahārathaḥ || 1.4

atradi sini; śūrāḥ—pahlawan; mahā-iṣu-āsāḥ—pemanah perkasa; bhīma-Arjuna—Bhima dan Arjunasamaḥ—setara; yudhidalam pertempuran; yuyudhānaḥ—Yuyudhana; virāṭaḥVirāṭaca—juga; drupadāḥ—Drupada; ca—juga; mahā-rathaḥ—kesatria yang hebat.

Di dalamnya ada pahlawan pemanah perkasa yang selevel dengan Bima dan Arjuna dalam pertempuran, seperti kesatria yang hebat Yuyudhana dan Virata juga Drupada.

1.5

धृष्टकेतुश्चेकितानःकाशिराजश्चवीर्यवान्।
पुरुजित्कुन्तिभोजश्चशैब्यश्चनरपुङ्गवः॥१-५॥

dhṛṣṭaketuś cekitānaḥ kāśirājaś ca vīryavān |
purujit Kuntībhojaś ca śaibyaś ca narapuńgavaḥ || 1.5

dhṛṣṭaketuḥ—Dhṛṣṭaketu; cekitānaḥ—cekitāna; kāśirājaḥ—Kāśirāja; ca—dan; vīrya-vān—sangat perkasa; purujit—Purujit; Kuntī bhojahKuntī bhoja; ca—dan; śaibyaḥ—Saibya; ca—dan; nara-puńgavaḥ—pahlawan dalam masyarakat.

Dhrstaketu, Cekitana, dan Kasirāja yang gagah perkasa, Pahlawan dalam masyarakat seperti Purujit, dan Kuntībhoja juga saibya.

1.6

युधामन्युश्चविक्रान्तउत्तमौजाश्चवीर्यवान्।
सौभद्रोद्रौपदेयाश्चसर्वएवमहारथाः ॥१-६॥

yudhāmanyuś ca vikrānta uttamaujāś ca vīryavān |
saubhadro draupadeyāś ca sarva eva mahārathāḥ || 1.6

yudhāmanyuḥ—Yudhāmanyu; ca—dan; vikrāntaḥ—perkasa; uttamaujāḥ—Uttamaujā; ca—dan; vīrya-vān—sangat kuat; saubhadrah—putera Subhadrā; draupadeyāḥ—para putera Draupadi; ca—dan; sarve—semua; eva—tentu; mahā-rathaḥ—kesatria hebat yang ahli bertempur dengan menggunakan kereta.

Dan Yudhāmanyu yang perkasa juga Uttamauja yang kuat, putera Subhadra dan para Putera Draupadi yang semua tentunya kesatria hebat yang ahli bertempur dengan menggunakan kereta.

1.7

अस्माकंतुविशिष्टायेतान्निबोधद्विजोत्तम।
नायकाममसैन्यस्यसंज्ञार्थंतान्ब्रवीमिते ॥१-७॥

asmākaḿ tu viśiṣṭā ye tān nibodha dvijottama |
nāyakā mama sainyasya saḿjñārthaḿ tān bravīmite || 1.7

asmākam—milik kita; tu—tetapi; viśiṣṭāḥ—sangat gagah perkasa; ye—yang, itu; tān—mereka; nibodha—perhatikanlah, diinformasikan; dvijauttamabrahmaṇā terbaiknāyakāḥ—komandan; mama—milikku; sainyasya—bala tentara; saḿjñā-artham—untuk informasi; tān—mereka; bravīm—bicarakan, sampaikan; te—kepadamu.

tapi perhatikanlah milik kita, mereka yang gagah perkasa wahai Brahmana terbaik, para komandan pasukanku untuk informasi disampaikan kepadamu.

1.8

भवान्भीष्मश्चकर्णश्चकृपश्चसमितिंजयः।
अश्वत्थामाविकर्णश्चसौमदत्तिस्तथैवच ॥१-८॥

Bhavan bhīṣmaś ca karṇaś ca kṛpaś ca samitiḿ-jayaḥ |
aśvatthāmā vikarṇaś ca saumadattis tathāiva ca || 1.8

bhavān—Anda sendiri; bhīṣmaḥBhīṣmaca—juga; karnaḥ—Karṇaca—dan; kṛpaḥ—Kṛpa; ca—dan; samiti-jayah—selalu menang dalam pertempuran; aśvatthāmāaśvatthāmāvikarnaḥ—Vikarna; ca—beserta; saumadattih—putera Somadatta; tathā—beserta; evā—tentu; ca—juga.

Anda sendiri dan Bhisma, juga Karna dan Kripa yang selalu menang dalam pertempuran, Asvatthama dan Vikarna serta putera Somadatta-Bhurisrava juga tentunya.

1.9

अन्येचबहवःशूरामदर्थेत्यक्तजीविताः।
नानाशस्त्रप्रहरणाःसर्वेयुद्धविशारदाः ॥१-९॥

anye ca bahavaḥ śūrāmad-arthetyakta-jīvitāḥ |
nānā-śastra-prāharaṇāḥ sarve yuddha-viśāradāḥ || 1.9

anye—banyak lainnya; ca—dan; bahavah—dalam jumlah besar, masih banyak; śūrāḥ—pahlawan; mat-arthe—demi kepentingan saya; tyakta—mengorbankan, meninggalkan; jīvitāḥ—nyawa; nānā—banyak; śastra—senjata; prāharaṇāḥ—dilengkapi dengan; sarve—semuanya; viśāradāḥ—berpengalaman; yuddha—peperangan.

Tyakta jīvitāḥ—bersedia mempertaruhkan nyawa; Yuddha viśāradāḥberpengalaman dalam pertempuran.

Dan masih banyak pahlawan lainnya mempertaruhkan nyawa demi kepentinganku yang dilengkapi pelbagai senjata kesemuanya berpengalaman dalam pertempuran.

1.10

अपर्याप्तंतदस्माकंबलंभीष्माभिरक्षितम्।
पर्याप्तंत्विदमेतेषांबलंभीमाभिरक्षितम् ॥१-१०॥

aparyāptaḿ tad asmākaḿ balaḿ bhīṣmābhirakṣitam |
paryāptaḿ tv idam eteṣāḿ balaḿ bhīmābhirakṣitam || 1.10

aparyāptam—tidak terukur; tat—itu; asmākam—milik kita; balam—kekuatan; Bhīṣma—oleh kakek Bhīṣma; abhirakṣitam—dilindungi secara sempurna; paryāptam—terbatas; tu—tetapi; idam—semua ini; eteṣām—itu semua, pasukan para Pandava; balam—kekuatan; bhīma—oleh Bhima; abhirakṣitam—dilindungi dengan teliti.

Kekuatan kita yang tidak terukur itu dilindungi oleh Kakek Bhīṣma, tapi pasukan pandava yang terbatas ini dilindungi oleh Bima.

1.11

अयनेषुचसर्वेषुयथाभागमवस्थिताः।
भीष्ममेवाभिरक्षन्तुभवन्तःसर्वएवहि ॥१-११॥

ayaneṣu ca sarveṣu yathā-bhāgam avasthitāḥ |
bhīṣmam evābhirakṣantu bhavāntaḥ sarva eva hi || 1.11

ayanesu—di posisi strategis; ca—juga; sarveṣu—di mana-mana, kesemuanya; yathā-bhāgam—tersusun dengan berbagai cara, tersusun dalam formasi yang telah direncanakan; avasthitāḥ—terletak, berdiri; Bhīṣmām—Kakek Bhīṣma; evā—pasti, harus; abhirakṣantu—memberikan dukungan; bhavāntah—kalian; sarve—semua; eva—tentu; hi—tepatnya.

kesemuanya berdiri pada posisi strategis diformasi yang telah direncanakan, tentunya semua harus mendukung Kakek Bhisma.

BG I.12 – 20

Sanjaya melanjutkan kembali:

Untuk menambah rasa riang miliknya, kakek buyut keluarga kuru dengan gagah berani meniup terompet kerang menggema keras bagai suara singa. Setelah itu, terompet kerrang, terompet, gendang kecil dan bedug juga berbagai jenis terompet tanduk, tentu (tiupan) seketika bersamaan itu membuat suara riuh.

Kemudian, yang duduk dikereta besar terikat kuda putih tentunya Mādhavaḥ dan Pāṇḍavāḥ terdengar terompet kerang rohaninya. Hṛṣīkeśa dengan kerang yang bernama Pāñcajanya, Dhananjaya dengan kerang yang bernama Devadatta, Vṛkodaraḥ yang sering mengerjakan aktifitas berbahaya meniup terompet kerang besar yang bernama Pauṇḍra. Yudistira putra kunti dengan kerang yang bernama Ananta-vijaya, Nakula Sahadewa dengan kerangnya yang bernama Sughosa dan Manipuspaka. Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat Srikandi, Dhṛṣṭadyumna dan Virata juga Sātyaki yang belum pernah dikalahkan. Drupada dan Para putera Draupadi kesemuanya wahai Prthivi-pate, juga yang berlengan perkasa putera Subhadra, masing-masing meniup terompet kerangnya.

Getaran suara itu mematahkan hati putera Dhṛtarāṣṭra, dan tentu gemanya menggemparkan langit juga bumi. kemudian putera Dhṛtarāṣṭra memandang dibawah panji bergambar hanuman, Pāṇḍavāḥ mengangkat busurnya bersiap-siap dalam posisi menyerang dengan senjatanya. Saat itu berkata dengan kata-kata ini kepada Hṛṣīkeśam wahai Paduka Raja.

1.12

तस्यसंजनयन्हर्षंकुरुवृद्धःपितामहः।
सिंहनादंविनद्योच्चैःशङ्खंदध्मौप्रतापवान् ॥१-१२॥

Tasya sañjanayan harṣaḿ kuru-vṛddhaḥ pitāmahaḥ |
siḿha-nādaḿ vinadyoccaiḥ śańkhaḿ dadhmau pratāpavān || 1.12

tasya—miliknya; sanjanayān—menambah; harṣam—rasa riang; kuru—keluarga Kuru; vṛddhaḥ—buyut; pitāmahaḥ—kakek; siḿha—singa; nādam—suara; vinadya—bergetar; uccaih—sangat keras; śańkham—terompet kerang; dadhmau—meniup; pratāpa-vān—gagah berani.

Untuk menambah rasa riang miliknya, kakek buyut keluarga kuru dengan gagah berani meniup terompet kerang menggema keras bagai suara singa.

1.13

ततःशङ्खाश्चभेर्यश्चपणवानकगोमुखाः।
सहसैवाभ्यहन्यन्तसशब्दस्तुमुलोऽभवत् ॥१-१३॥

tataḥ śańkhāś ca bheryaś ca paṇavānaka gomukhāḥ |
sahasāivābhyahanyanta sa śabda stumulo 'bhavat || 1.13

tataḥ—setelah itu; śańkhāḥ—terompet kerang; ca—juga; bheryah—terompet; ca—dan; paṇava—gendang kecil; ānaka—bedug; go-mukhāḥ—terompet tanduk; sahasā—seketika; evā—tentu; abhyahanyanta—dibunyikan bersamaan; saḥ—itu; śabdaḥ—suara; tumulah—gempar, bising, riuh; abhavat—menjadi, membuat.

Setelah itu, terompet kerrang, terompet, gendang kecil dan bedug juga berbagai jenis terompet tanduk, tentu (tiupan) seketika bersamaan itu membuat suara riuh.

1.14

ततःश्वेतैर्हयैर्युक्तेमहतिस्यन्दनेस्थितौ।
माधवःपाण्डवश्चैवदिव्यौशङ्खौप्रदध्मतुः ॥१-१४॥

tataḥ śvetair hayair yukte mahati syandane sthitau |
mādhavaḥ pāṇḍavaś ca iva divyau śańkhau pradadhmatuḥ || 1.14

tataḥ—kemudian; śvetaiḥ—berwarna putih; hayaih—kuda-kuda; yukte—diikatkan, terikat; mahati—sesuatu yang besar; syandane—kereta; sthitau—terletak, duduk; mādhavaḥKṛṣṇa (suami dewi keberuntungan); PāṇḍavāḥArjuna (putera Pāṇḍu ); ca—dan; evā—pasti, tentu; divyau—rohani; śańkhau—kerang-kerang; pradadhmatuh—terdengar membunyikan.

Kemudian, yang duduk dikereta besar terikat kuda putih tentunya Mādhavaḥ dan Pāṇḍavāḥ terdengar terompet kerang rohaninya.

1.15

पाञ्चजन्यंहृषीकेशोदेवदत्तंधनञ्जयः।
पौण्ड्रंदध्मौमहाशङ्खंभीमकर्मावृकोदरः ॥१-१५॥

pāñcajanyaḿ hṛṣīkeśo devadattaḿ dhanañjayaḥ |
pauṇḍraḿ dadhmau mahā-śańkhaḿ bhīma-karma vṛkodaraḥ || 1.15

pāñcajanyam—kerang bernama Pāñcajanya; hṛṣīka-īśaḥ—Hṛṣīkeśa (Kṛṣṇa, yang menguasai/mengendalikan inderanya); devadattam—kerang yang bernama Devadatta; dhanam-jayaḥ—dhanañjaya (Arjuna, perebut kekayaan); paundram—kerang bernama Pauṇḍra; dadhmau—meniup; mahā—besar, mengerikan; śańkham—terompet kerang; bhīma—berat dan berbahaya; karma—orang yang melakukan tugas-tugas aktifitas; vṛka-udaraḥ—Bhima (sang pelahap makanan).

Hṛṣīkeśa dengan kerang yang bernama Pāñcajanya, Dhananjaya dengan kerang yang bernama Devadatta, Vṛkodaraḥ yang sering mengerjakan aktifitas berbahaya meniup terompet kerang besar yang bernama Pauṇḍra.

1.16

अनन्तविजयंराजाकुन्तीपुत्रोयुधिष्ठिरः।
नकुलःसहदेवश्चसुघोषमणिपुष्पकौ ॥१-१६॥

anantavijayaḿ rājākuntī-putro yudhiṣṭhiraḥ |
nakulaḥ sahadevaś ca sughoṣa-maṇipuṣpakau || 1.16

ananta-vijayam—kerang yang bernama Ananta-vijaya; rājā—raja ; kuntī-putraḥ—putera Kuntī ; yudhiṣṭhiraḥ—Yudhiṣṭhira; nakulaḥ—Nakula; sahadevaḥ—Sahadeva; ca—dan; sughoṣa-maṇipuṣpakau—kerang-kerang bernama Sughosa dan Manipuspaka;

Yudistira putra kunti dengan kerang yang bernama Ananta-vijaya, Nakula Sahadewa dengan kerangnya yang bernama Sughosa dan Manipuspaka.

1.17

काश्यश्चपरमेष्वासःशिखण्डीचमहारथः।
धृष्टद्युम्नोविराटश्चसात्यकिश्चापराजितः ॥१-१७॥

kāśyaś ca parameṣv-āsaḥ śikhaṇḍī ca mahā-rathaḥ |
dhṛṣṭadyumno virāṭaś ca sātyakiś cā parājitaḥ || 1.17

kasyah—Raja  Kāśī (Vārāṇasī); ca—dan; parama-iṣu-āsaḥ—pemanah yang berwibawa; śikhaṇḍī—Śikhaṇḍī; ca—juga; mahā-rathaḥ—kesatria hebat; dhṛṣṭadyumnaḥ—Dhṛṣṭadyumna (putera dari raja  Drupada); viratāḥ—Virata (pangeran yang memberi perlindungan kepada para Pandava selama mereka sedang menyembunyikan diri); ca—juga; sātyakiḥ—Sātyaki (sama dengan Yuyudhāna, kusir kereta Sri Krishna); ca—dan; apa rajitaḥ—yang belum pernah dikalahkan;

Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat Srikandi, Dhṛṣṭadyumna dan Virata juga Sātyaki yang belum pernah dikalahkan.

1.18

द्रुपदोद्रौपदेयाश्चसर्वशःपृथिवीपते।
सौभद्रश्चमहाबाहुःशङ्खान्दध्मुःपृथक्पृथक् ॥१-१८॥

drupado draupadeyāś ca sarvaśaḥ pṛthivī-pate |
saubhadraś ca mahā-bāhuḥ śańkhān dadhmuḥ pṛthak pṛthak || 1.18

drupadāḥ—Drupada, rājā Pāñcāla; draupadeyāḥ—Putera-putera Draupadi; ca—juga; sarvāsaḥ—semuanya; prthivi-pate—penguasa bumi (raja Dhṛtarāṣṭra); saubhadrah—Abimanyu, putera Subhadra; ca—juga; mahā-bāhuḥ—yang berlengan perkasa; śańkhān—terompet kerang; dadhmuh—meniup; pṛthak pṛthak—sendiri-sendiri, masing-masing.

Drupada dan Para putera Draupadi kesemuanya wahai Prthivi-pate, juga yang berlengan perkasa putera Subhadra, masing-masing meniup terompet kerangnya.

1.19

सघोषोधार्तराष्ट्राणांहृदयानिव्यदारयत्।
नभश्चपृथिवींचैवतुमुलोव्यनुनादयन्  ॥१-१९॥

saghoṣo dhārtarāṣṭrāṇāḿ hṛdayāni vyadārayat |
nabhaś ca pṛthivīḿ caivatumulo 'bhyanunādayan || 1.19

saḥ—itu; ghosah—getaran suara; dhārtarāṣṭrāṇām—dari para putera Dhṛtarāṣṭra; hrdayani—hati; vyadarayat—mematahkan; nabhāḥ—langit; ca—dan; pṛthivīm—muka bumi; ca—juga; evā—pasti; tumulah—gempar; abhyanunayan—bergema.

getaran suara itu mematahkan hati putera Dhṛtarāṣṭra, dan tentu gemanya menggemparkan langit juga bumi,

1.20

अथ व्यवस्थितान्दृष्ट्वा धार्तराष्ट्रान्कपिध्वजः।
प्रवृत्ते शस्त्रसंपाते धनुरुद्यम्य पाण्डवः।
हृषीकेशं तदा वाक्यमिदमाह महीपते॥१-२०॥

atha vyavasthitān dṛṣṭvā dhārtarāṣṭrān kapi-dhvajaḥ |
pravṛtte śastra-sampāte dhanur udyamya pāṇḍavaḥ |
hṛṣīkeśaḿ tadā  vākyam idam āha mahī-pate || 1.20

atha—kemudian; vyavasthitān—terletak; dṛṣṭvā—memandang; dhārtarāṣṭrān—putera-putera Dhṛtarāṣṭra; kapi—monyet, hanoman; dhvajaḥ—bendera, panji; pravṛtte—bersiap-siap; śastra—senjata, anak panahnya; sampāte—posisi menyerang, mode siaga tempur; dhanuh—busur; udyamya—mengangkat; PāṇḍavāḥArjuna; Hṛṣīkeśam—kepada Sri Krishna; tadāpada saat itu; vākyam—kata-kata; idam—ini; āha—yang berkata; mahī-pate—wahai Paduka Raja.

kemudian putera Dhṛtarāṣṭra memandang dibawah panji bergambar hanuman, Pāṇḍavāḥ mengangkat busurnya bersiap-siap dalam posisi menyerang dengan senjatanya. Saat itu berkata dengan kata-kata ini kepada Hṛṣīkeśam wahai Paduka Raja.

BG I.21 – 23

Arjuna berkata:

Wahai Acyuta, tolong bawa keretaku diantara kedua pasukan, sehingga Aku dapat memandang semua prajurit yang diatur dalam formasi untuk berperang. dengan siapa diriku bersama-sama harus bertarung dalam usaha perang ini. saya ingin melihat para pejuang siapapun mereka itu yang berkumpul disini, bertempur karena ingin menyenangkan putra Dhṛtarāṣṭra yang memiliki pikiran jahat.

1.21

अर्जुन उवाच

सेनयोरुभयोर्मध्ये रथं स्थापय मेऽच्युत  ॥१-२१॥
Arjuna uvāca
senayor ubhayor madhye rathaḿ sthāpaya me 'cyuta || 1.21

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; 

senayoh—antara pasukan; ubhayoḥ—antara keduanya; madhye—di tengah-tengah; ratham—kereta; sthāpaya—mohon membawa; me—milik hamba; acyuta—Krishna (yang tidak pernah gagal); 

Arjuna berkata:

Wahai Acyuta, tolong bawa keretaku diantara kedua pasukan,

1.22

यावदेतान्निरिक्षेऽहंयोद्‌धुकामानवस्थितान् |
कैर्मया सह योद्धव्यमस्मिन् रणसमुद्यमे ॥१-२२॥

yāvad etān nirīkṣe 'haḿ yoddhu-kāmān avasthitān |

kair mayā saha yoddhavyam asmin raṇa-samudyame || 1.22

yāvat —selama, sehingga; etān—semuanya ini; nirīkṣe—dapat memandang, ketahui; aham—saya; yoddhu—bertempur; kāmān—keinginan; avasthitān—tersusun dalam formasi; kaih—dengan siapa; mayā—olehku, diriku; saha—bersama-sama; yoddhavyam—harus bertempur, bertarung; asmin—dalam ini; rana—pertengkaran, peperangan; samudyame—dalam usaha.

sehingga Aku dapat memandang semua prajurit yang diatur dalam formasi untuk berperang. dengan siapa diriku bersama-sama harus bertarung dalam usaha perang ini.

1.23

योत्स्यमानानवेक्षेऽहं य एतेऽत्र समागताः ।
धार्तराष्ट्रस्य दुर्बुद्धेर्युद्धे प्रियचिकीर्षवः ॥१-२३॥

yotsyamānān avekṣe 'haḿ ya ete 'tra samāgatāḥ |
dhārtarāṣṭrasya durbuddher yuddhe priya-cikīrṣavaḥ || 1.23

yotsyamānān—orang yang akan bertempur, para pejuang; avekse—ingin melihat; aham—saya; ye—siapa; ete—itu; atradi sini; samāgatāḥ—sudah berkumpul; dhārtarāṣṭrasya—untuk putera Dhṛtarāṣṭra; durbuddheḥ—berpikir jahat; yuddhe—dalam pertempuran, berperang; priya—baik; cikīrṣavaḥ—menginginkan.

Priya cikīrṣavaḥ— ingin menyenangkan

saya ingin melihat para pejuang siapapun mereka itu yang berkumpul disini, bertempur karena ingin menyenangkan putra Dhṛtarāṣṭra yang memiliki pikiran jahat.

BG I.24 - 27

Sañjaya berkata:

Wahai Bhārata, demikian disampaikan oleh Guḍākeśena ke Hṛṣīkeśaḥ, ditempatkannya kereta terbaik di antara kedua pasukan. Di hadapan Bhīṣma-Drona dan kesemua pemimpin hebat, berkata seperti ini kepada Pārtha:  “lihatlah mereka semua anggota keluarga Kuru berkumpul.”

Pārthah melihat disana berdiri para Ayah juga Kakek, Guru, Paman dari keluarga Ibu, para saudara selain itu anak-anak, cucu, teman, tentunya juga para mertua termasuk para simpatisan yang ada dikedua sisi pasukan. Dia sang Kaunteyah melihat kesemua kerabatnya itu berdiri, tergugah kasih sayang mendalam sambil bersedih berkata berikut ini.

1.24

सञ्जय उवाच
एवमुक्तो हृषीकेशो गुडाकेशेन भारत ।
सेनयोरुभयोर्मध्ये स्थापयित्वा रथोत्तमम् ॥१-२४॥

sañjaya uvāca
evam ukto hṛṣīkeśo guḍākeśena bhārata |
senayor ubhayor madhye sthāpayitvā rathottamam || 1.24

sañjayaḥ—Sañjaya;uvācaberkata;

evam—demikian; uktaḥ—disapa, disampaikan; hṛṣīkeśaḥ—Sri Krishna; guḍākeśena—oleh Arjuna, sang penakluk tidur; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata (Dhṛtarāṣṭra); senayoh—tentara-tentara, pasukan; ubhayoḥ—kedua; madhye—ditengah, diantara; sthāpayitvā—menempatkan; ratha—kereta; uttamam—yang paling bagus, terbaik.

Sañjaya berkata:

Wahai Bhārata, demikian disampaikan oleh Guḍākeśena ke Hṛṣīkeśaḥ, ditempatkannya kereta terbaik di antara kedua pasukan.

1.25

भीष्मद्रोणप्रमुखतः सर्वेषां च महीक्षिताम् ।
उवाच पार्थ पश्यैतान्समवेतान्कुरूनिति ॥१-२५॥

bhīṣma-droṇa-pramukhataḥ sarveṣāḿ ca mahī-kṣitām |
uvāca pārtha paśya itān samavetān kurūn iti || 1.25

Bhīṣma—kakek Bhīṣma; drona—guru Drona; pramukhataḥ—didepan, dihadapan; sarveṣām—semuanya; ca—juga; mahī-kṣitām—pemimpin hebat; uvācabersabda, berkata; pārtha—wahai Arjuna (putera Pṛthā); paśya—lihatlah; etān—semuanya; samavetānsudah berkumpul; kurūn—Anggota-anggota keluarga besar Kuru; iti—demikian.

Di hadapan Bhīṣma-Drona dan kesemua pemimpin hebat, berkata seperti ini kepada Pārtha:  lihatlah mereka semua anggota keluarga Kuru berkumpul.

1.26

तत्रापश्यत्स्थितान्पार्थः पितॄनथ पितामहान् ।
आचार्यान्मातुलान्भ्रातॄन्पुत्रान्पौत्रान्सखींस्तथा  ।
श्वशुरान्सुहृदश्चैव सेनयोरुभयोरपि ॥१-२६॥

tatrāpaśyat sthitān pārthaḥ pitṝn atha pitāmahān |
ācāryān mātulān bhrātṝn putrān pautrān sakhīḿs tathā |
śvaśurān suhṛdaś caiva senayor ubhayor api || 1.26

tatradi sana; apaśyatdia melihat; sthitān—berdiri; pārthahArjuna; pitṝn—para ayah; atha—juga; pitāmahān—para kakek; ācāryān—para gurunya; mātulān—para paman dari keluarga ibu; bhrātṝn—para saudara; putrān—para putera; pautrān—para cucu; sakhīn—kawan-kawan; tathā—selain itu; śvaśurān—para mertua; suhṛdaḥ—orang yang mengharapkan kesejahtraan, simpatisan; ca—juga; evā—tentu; senayoh—antara tentara; ubhayoḥ—antara kedua belah pihak; api—termasuk.

Pārthah melihat disana berdiri para Ayah juga Kakek, Guru, Paman dari keluarga Ibu, para saudara selain itu anak-anak, cucu, teman, tentunya juga para mertua termasuk para simpatisan yang ada dikedua sisi pasukan.

1.27

तान्समीक्ष्य स कौन्तेयः सर्वान्बन्धूनवस्थितान् ।
कृपया परयाविष्टो विषीदन्निदमब्रवीत् ॥१-२७॥

tān samīkṣya sa kaunteyaḥ sarvān bandhūn avasthitān |
kṛpayā parayāviṣṭo viṣīdann idam abravīt || 1.27

tān—mereka itu; samīkṣya—sesudah melihat; saḥ— dia; kaunteyah—Arjuna (putera Kuntī); sarvān—semua jenis; bandhūn—sanak keluarga, kerabat; avasthitān—terletak, berdiri; kṛpayā—oleh kasih sayang; parayā—bertingkat tinggi, mendalam; āviṣṭaḥ—tergugah; viṣīdan—sambil menyesal, bersedih; idam—demikian, berikut ini; abravītberkata.

Dia sang Kaunteyah melihat kesemua kerabatnya itu berdiri, tergugah kasih sayang mendalam sambil bersedih berkata berikut ini.

BG I.28 – 35

Arjuna berkata:

Oh Kṛṣṇa, setelah melihat sanak-keluarga ini yang hadir untuk berperang, anggota badanku semakin lemah, mulut juga terasa kering. badanku gemetar juga sedang terjadi pada bulu romaku, busur-panah terlepas dari tangan tentunya juga kulit terasa terbakar. dan tak mampu berdiri, pikiranku juga seolah-olah terguncang, oh Keśava terlihat juga pertanda malapetaka. dan tak terlihat kebaikan dari membunuh sanak keluarga dalam pertempuran. oh Kṛṣṇa, tidak ada keinginan untuk kemenangan tidak juga untuk kerajaan dan kebahagiaan.

wahai Govinda apa gunanya bagi kita sebuah kerajaan, atau apa gunanya kenikmatan duniawi, mereka yang demi kepentingan kita yang menginginkan kerajaan, kenikmatan dan kebahagiaan. mereka yang berdiri dimedan perang ini siap menyerahkan nyawa dan kekayaan, para guru, ayah pastinya beserta putra dan para kekeknya, para paman, mertua, cucu, ipar beserta sanak keluarganya. oh Madhusūdana, walaupun kemungkinan terbunuh saya tidak ingin membunuh mereka ini. meskipun dengan alasan demi kekuasaan atas tiga alam apa lagi demi bumi ini, kesenangan apa yang mungkin ada untuk kita oh Janārdana dengan membunuh putra Dhristarastra?

1.28

अर्जुन उवाचदृष्ट्वेमं स्वजनं कृष्ण युयुत्सुं समुपस्थितम् ।
सीदन्ति मम गात्राणि मुखं च परिशुष्यति॥१-२८॥

dṛṣṭvemaḿ sva-janaḿ kṛṣṇa yuyutsuḿ samupasthitam |
sīdanti mama gātrāṇi mukhaḿ ca pariśuṣyati || 1.28

Arjunaḥ—Arjuna;uvācaberkata;

dṛṣṭvā—sesudah melihat; imām—semuanya ini; sva-janam—sanak keluarga; kṛṣṇa—Krishna; yuyutsum—bersemangat untuk bertempur; samupasthitam—hadir; sīdanti—lemah, lemas; mama—milik saya; gātrāṇi—anggota badan; mukham—mulut; ca—juga; pariśuṣyāti—terasa kering.

Arjuna berkata:

Oh Kṛṣṇa, setelah melihat sanak-keluarga ini yang hadir untuk berperang, anggota badanku semakin lemah, mulut juga terasa kering.

1.29

वेपथुश्च शरीरे मे रोमहर्षश्च जायते ।
गाण्डीवं स्रंसते हस्तात्त्वक्चैव परिदह्यते ॥१-२९॥

vepathuś ca śarīre me roma-harṣaś ca jāyate |
gāṇḍīvaḿ sraḿsate hastāt tvak caiva paridahyate || 1.29

vepathuh—gemetar; ca—juga; śarīre—pada badan; me—milikku; roma-harṣaḥ—bulu roma tegak berdiri; ca—juga; jāyate—sedang terjadi; gāṇḍīvam—busur Arjuna; sramsate—lepas; hastāt —dari tangan; tvāk—kulit; ca—juga; evā—pasti; paridahyate—terbakar.

badanku gemetar juga sedang terjadi pada bulu romaku, busur-panah terlepas dari tangan tentunya juga kulit terasa terbakar.

1.30

नचशक्नोम्यवस्थातुंभ्रमतीवचमेमनः |

निमित्तानिचपश्यामिविपरीतानिकेशव ॥ १-३० ||

na ca śaknomy avasthātuḿ bhramatīva ca me manaḥ |

nimittāni ca paśyāmi viparītāni keśava || 1.30

na—tidak; ca—juga; śaknomi—mampu, dapat; avasthātum—tinggal, berdiri; bhramati—lupa, terguncang; ivā—sebagai; ca—dan; me—milik saya; manaḥ—pikiran; nimittāni—sebab-sebab, pertanda; ca—juga; paśyāmimelihat; viparītāni—justru lawannya, malapetaka, musibah; keśava—oh Krishna (pembunuh raksasa bernama Keśī).

dan tak mampu berdiri, pikiranku juga seolah-olah terguncang, oh Keśava terlihat juga pertanda malapetaka.

1.31

न च श्रेयोऽनुपश्यामि हत्वा स्वजनमाहवे ।
न काङ्क्षे विजयं कृष्ण न च राज्यं सुखानि च ॥ १-३१॥

na ca śreyo 'nupaśyāmi hatvā sva-janam āhave |

na kāńkṣe vijayaḿ kṛṣṇa na ca rājyaḿ sukhāni ca || 1.31

na—tidak; ca—dan; śreyaḥ—hal yang baik; anupaśyāmi—membayangkan, melihat; hatvā—dengan membunuh; sva-janam—sanak keluarganya sendiri; āhave—dalam pertempuran; na—tidak; kāńkṣe—menginginkan; vijayam—kemenangan; kṛṣṇa—oh Krishna; na—tidak; ca—juga; rājyam—kerajaan; sukhāni—kebahagiaan dari hal itu; ca—dan.

dan tak terlihat kebaikan dari membunuh sanak keluarga dalam pertempuran. oh Kṛṣṇa, tidak ada keinginan untuk kemenangan tidak juga untuk kerajaan dan kebahagiaan.

1.32

किं नो राज्येन गोविन्द किं भोगैर्जीवितेन वा ।

येषामर्थे काङ्क्षितं नो राज्यं भोगाः सुखानि च ||१-३२॥
kiḿ no rājyena govinda kiḿ bhogair jīvitenavā |

yeṣām arthe kāńkṣitaḿ norājyaḿ bhogāḥ sukhāni ca || 1.32

kim—apa gunanya; naḥ—bagi kita; rājyena—kerajaan; govinda—Krishna; kim—apa; bhogaiḥ—kenikmatan; jīvitena—hidup; vā—atau; yeṣām—dari siapa, mereka; arthe—demi kepentingan; kāńkṣitam—diinginkan; naḥ—oleh kita; rājyam—kerajaan; bhogāḥ—kenikmatan material; sukhāni—segala kebahagiaan; ca—dan;

wahai Govinda apa gunanya bagi kita sebuah kerajaan, atau apa gunanya kenikmatan duniawi, mereka yang demi kepentingan kita yang menginginkan kerajaan, kenikmatan dan kebahagiaan.

1.33

त इमेऽवस्थिता युद्धे प्राणांस्त्यक्त्वा धनानि च  |

आचार्याः पितरः पुत्रास्तथैव च पितामहाः ॥१-३३॥

ta ime 'vasthitā yuddhe prāṇāḿs tyaktvā dhanāni ca |

ācāryāḥ pitaraḥ putrās tathai 'va ca pitāmahāḥ || 1.33

te—mereka semua; ime—ini; avasthitāḥ—terletak, berdiri; yuddhe—di medan perang ini; prāṇān—nyawan; tyaktvā—menyerahkan; dhanāni—kekayaan; ca—juga; ācāryāḥ—para guru; pitaraḥ—para ayah; putrāḥ—para putera; tathā—beserta; evā—pasti; ca—juga; pitāmahaḥ—para kakek;

mereka yang berdiri dimedan perang ini siap menyerahkan nyawa dan kekayaan, para guru, ayah pastinya beserta putra dan para kekeknya,

1.34

मातुलाः श्वशुराः पौत्राः श्यालाः संबन्धिनस्तथा  |

एतान्न हन्तुमिच्छामि घ्नतोऽपि मधुसूदन ॥१-३४॥
mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ śyālāḥ sambandhinas tathā |

etān na hantum icchhāmi ghnato 'pi madhusūdana || 1.34

mātulāḥ—para paman dari keluarga ibu; śvaśurāḥ—para mertua; pautrāḥ—para cucu; śyālāḥ—para ipar; sambandhinaḥ—sanak keluarga; tathā—beserta; etān—semua ini; na—tidak; hantum—membunuh; icchāmi—menginginkan; ghnataḥ—dibunuh; api—walaupun; Madhusūdana—wahai Krishna (sang pembunuh raksasa yang bernama Madhu);

para paman, mertua, cucu, ipar beserta sanak keluarganya. oh Madhusūdana, walaupun kemungkinan terbunuh saya tidak ingin membunuh mereka ini.

1.35

अपि त्रैलोक्यराज्यस्य हेतोः किं नु महीकृते  |

निहत्य धार्तराष्ट्रान्नः का प्रीतिः स्याज्जनार्दन  ॥१-३५॥

api trailokyarājyasya hetoḥ kiṁ nu mahīkṛte |

nihatya dhārtarāṣṭrān naḥ kā prītiḥ syāj janārdana || 1.35

api—walaupun, meskipun; trai—dari tiga; lokyā—alam; rājyasya—kerajaan, kekuasaan; hetoh—sebagai alasan, pertukaran; kim nu—apalagi; mahī-kṛte—demi bumi; nihatya—dengan membunuh; dhārtarāṣṭrān—para putera Dhṛtarāṣṭra; naḥ—milik, untuk kita; kā— apa; prītiḥ—kesenangan, kebahagiaan; syāt—akan ada; janārdana—wahai Krishna (sang pemelihara makhluk hidup).

Trai lokyā rājyasya—kekuasaan atas tiga alam.

meskipun dengan alasan demi kekuasaan atas tiga alam apa lagi demi bumi ini, kesenangan apa yang mungkin ada untuk kita oh Janārdana dengan membunuh putra Dhristarastra?

BG I.36 – 38

Arjuna berkata:

hanya dosa yang datang saat kita membunuh orang-orang jahat ini, karenanya tidak dibenarkan kita membunuh saudara kita para putra Dhrtarastra, Oh Mādhava bagaimana mungkin menjadi berbahagia dengan membunuh keluarga sendiri? meskipun demikian janganlah lihat pikiran mereka yang dipengaruhi oleh keserakaran, malapetaka menghancurkan keluarga dan melakukan kejahatan menghianati teman. mengapa kita yang lebih mengerti tidak menghentikan dosa ini? oh Janārdana, melakukan penghancuran keluarga merupakan kejahatan bagi yang memahami ajaran.

1.36

पापमेवाश्रयेदस्मान्हत्वैतानाततायिनः |

तस्मान्नार्हा वयं हन्तुं धार्तराष्ट्रान्स्वबान्धवान् ।

स्वजनं हि कथं हत्वा सुखिनः स्याम माधव  ॥१-३६॥

pāpam evā 'śrayed asmān hatvai 'tān ātatāyinaḥ |

tasmān nā 'rhā vayaṃ hantuṁ dhārtarāṣṭrān sva-bāndhavān |

sva-janaṁ hi kathaṁ hatvā sukhinaḥ syāma mādhava || 1.36

pāpam—dosa; evā—pasti, hanya; āśrayet—datang, menguasai; asmān—saat kita; hatvā—membunuh; etān—semua ini; ātatāyinaḥ—penyerang, orang jahat; tasmāt—karena itu; na—tidak; arhāḥ—patut, layak, dibenarkan; vayam—kita; hantum—membunuh; dhārtarāṣṭrān—para putera Dhṛtarāṣṭra; sa-bāndhavān—kawan, kerabat sendiri; sva-janam—sanak keluarga; hi—mungkin; katham—bagaimana; hatvā—dengan membunuh; sukhīnaḥ—bahagia; syāmā—akan menjadi; mādhava—o Krishna.

hanya dosa yang datang saat kita membunuh orang-orang jahat ini, karenanya tidak dibenarkan kita membunuh saudara kita para putra Dhrtarastra, Oh Mādhava bagaimana mungkin menjadi berbahagia dengan membunuh keluarga sendiri?

catatan:

  • akkodhena jine kodhaṃ, asādhuṃ sādhunā jine |
    jine kadariyaṃ dānena, saccenālikavādinaṃ || Dharmapada 223
    Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.
  • akrodhena jayet krodham, asādhuṁ sādhunā jayet
    iayet kadaryam dānena, jayet satyena cānṛtam.  
    M..B., Udyogaparva, 38, 73, 74.
    Taklukkan kemarahan orang lain dengan non-kemarahan; menaklukkan pelaku kejahatan dengan kesucian; menaklukkan yang kikir dengan hadiah; menaklukkan kepalsuan dengan kebenaran
1.37

यद्यप्येते न पश्यन्ति लोभोपहतचेतसः ।

कुलक्षयकृतं दोषं मित्रद्रोहे च पातकम्   ॥१-३७॥

yady apy ete na paśyanti lobhopahata-cetasaḥ |

kula-kṣaya-kṛtaṁ doṣaṁ mitra-drohe ca pātakam || 1.37

yādi—kalau; api—walaupun; ete—mereka; na—tidak, jangan; paśyānti—melihat; lobha—kelobaan, keserakahan; upahata—dikuasai, dipengaruhi; cetasāh—hati mereka; kula—keluarga; kṣaya—membunuh, menghancurkan; kṛtam—melakukan; doṣam—kesalahan, kejahatan; mitra—teman, sahabat; drohe—pertengkaran, penghianatan; ca—juga; pātakam—reaksi dosa, malapetaka;

yādi apimeskipun demikian;

meskipun demikian janganlah lihat pikiran mereka yang dipengaruhi oleh keserakaran, malapetaka menghancurkan keluarga dan melakukan kejahatan menghianati teman.

1.38

कथं न ज्ञेयमस्माभिः पापादस्मान्निवर्तितुम् ।

कुलक्षयकृतं दोषं प्रपश्यद्भिर्जनार्दन   ॥१-३८॥

kathaṁ na jñeyam asmābhiḥ pāpād asmān nivartitum |

kula-kṣaya-kṛtaṁ doṣaṁ prapaśyadbhir janārdana || 1.38

katham—mengapa; na—tidak; jñeyam—mengerti, memahami; asmābhiḥ—oleh kita; pāpāt—dari dosa; asmāt—ini; nivartitum—berhenti; kula—keluarga; kṣaya—membinasakan, menghancurkan; kṛtam—melakukan; doṣam—kejahatan; prapaśyadbhiḥ—orang yang dapat melihat, memahami ajaran dharma; janārdana—oh Krishna.

mengapa kita yang lebih mengerti tidak menghentikan dosa ini? oh Janārdana, melakukan penghancuran keluarga merupakan kejahatan bagi yang memahami ajaran.

BG I.39 - 45

Arjuna berkata:

menghancurkan keluarga memusnahkan tradisi keluarga yang dulunya abadi. setelah kehancuran tradisi dharma itu seluruh keluarga dikatakan berubah adharma. oh Kṛṣṇa, dengan dominannya prilaku adharma para wanita dalam keluarga menjadi tidak bermoral, dari imoralitas para wanita itu oh Vārṣṇeya akan memunculkan keturunan tak diinginkan. Keturunan yang tak diinginkan menyeret keluarganya sendiri ke kehidupan seperti neraka tentu bagi yang pengacau keluarganya juga. leluhurnya pasti merosot jatuh akibat terhentinya pelaksanaan persembahan makanandan air dari keturunannya.

Semua kejahatan ini disebabkan oleh penghancur keluarga yang menyebabkan munculnya kebingungan sistem varna, menghancurkan berbagai kegiatan sosial juga warisan kuno tradisi keluarga. Orang-orang yang menghancurkan tradisi keluarga oh Janārdana, menurut ajaran yang dengar dari guru yang demikian itu, selalu tinggal dalam kesengsaraan.

Aduh betapa besarnya dosa yang sudah kita lakukan, berusaha membunuh sanak keluarga karena keserakahan untuk menyenangkan raja. diriku yang tanpa senjata tak akan melawan kalaupun mereka menyerang dengan bersenjata, lebih baik putra Dhritarashtra itu akan membunuh diriku dimedan perang ini.

1.39

कुलक्षये प्रणश्यन्ति कुलधर्माः सनातनाः ।

धर्मे नष्टे कुलं कृत्स्नमधर्मोऽभिभवत्युत   ॥१-३९॥

Kula-kṣaye praṇaśyanti kula-dharmāḥ sanātanāḥ |

dharme naṣṭe kulaṃ kṛtsnam adharmo 'bhibhavaty uta || 1.39

kula-kṣaye—menghancurkan keluarga; praṇaśyānti—dihancurkan, memusnahkan; kula—keluarga; dharmāḥ—kewajiban, aturan, keyakinan akan ajaran dharma itu sendiri; sanātanāḥ—kekal, awalnya abadi; dharme—dharma; naṣṭe—setelah dibinasakan; kulam—keluarga; kṛtsnam—seluruh; adharmaḥ—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavāti—berubah; uta—dikatakan.

Kula-dharmāḥ—kewajiban keluarga yang sudah dijalani sejak dahulu, tradisi keluarga;

menghancurkan keluarga memusnahkan tradisi keluarga yang dulunya abadi. setelah kehancuran tradisi dharma itu seluruh keluarga dikatakan berubah adharma.

1.40

अधर्माभिभवात्कृष्ण प्रदुष्यन्ति कुलस्त्रियः ।

स्त्रीषु दुष्टासु वार्ष्णेय जायते वर्णसंकरः   ॥१-४०॥

adharmābhibhavāt kṛṣṇa praduṣyanti kula-striyaḥ |

strīṣu duṣṭāsu vārṣṇeya jāyate varṇasaṁkaraḥ || 1.40

adharma—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavāt—dominan, menonjol; kṛṣṇa—o Krishna; praduṣyānti—dicemari, tidak bermoral; kula—keluarga; striyaḥ—para wanita; strīṣu—oleh kaum wanita; duṣṭāsu—dengan dicemari seperti itu, tidak bermoral; vārṣṇeya—oh krishna, putera keluarga Vṛṣṇijāyate—terwujud, memunculkan; varṇa—profesi; sańkaraḥ—yang tidak diinginkan.

varṇa sańkaraḥketurunan yang tidak diinginkan.

oh Kṛṣṇa, dengan dominannya prilaku adharma para wanita dalam keluarga menjadi tidak bermoral, dari imoralitas para wanita itu oh Vārṣṇeya akan memunculkan keturunan tak diinginkan.

1.41

सङ्करो नरकायैव कुलघ्नानां कुलस्य च ।

पतन्ति पितरो ह्येषां लुप्तपिण्डोदकक्रियाः   ॥१-४१॥

saṅkaro narakāya iva kula-ghnānāṃ kulasya ca |

patanti pitaro hy eṣāṁ lupta-piṇḍodaka-kriyāḥ ||1.41

śańkaraḥ—anak-anak yang tidak diinginkan seperti itu; narakāya—menyebabkan kehidupan sengsara, seperti neraka; evā—pasti; kula—keluarga; ghnānām—penyebab kekacauan, kehancuran; kulasya—untuk keluarga; ca—juga; patanti—jatuh; pitaraḥ—leluhur; hi—pasti; eṣām—dari mereka, keturunan sesuai dharma; lupta—dihentikan; piṇḍa—dari persembahan makanan, nasi; udaka—air; kriyāḥ—pelaksanaan.

keturunan yang tak diinginkan menyeret keluarganya sendiri ke kehidupan seperti neraka tentu bagi yang pengacau keluarganya juga. leluhurnya pasti merosot jatuh akibat terhentinya pelaksanaan persembahan makanandan air dari keturunannya.

1.42

दोषैरेतै: कुलघ्नानां वर्णसङ्करकारकै: |
उत्साद्यन्ते जातिधर्माः कुलधर्माश्च शाश्वताः ॥१-४२॥

doṣair etaiḥ kula-ghnānāḿ varṇa-sańkara-kārakaiḥ |
utsādyante jāti-dharmāḥ kula-dharmāś ca śāśvatāḥ || 1.42

doṣaiḥ—kesalahan, kejahatan; etaiḥ—semua ini; kula-ghnānām—oleh para pembinasa keluarga; varṇa-sańkara—anak-anak yang tidak dinginkan; kārakaiḥ—yang menyebabkan; utsādyante—dibinasakan; jāti-dharmāḥ—berbagai kegiatan social masyarakat sesuai varna dharma; kula-dharmāḥ—tradisi keluarga; ca—juga; śāśvatāḥ—warisan kuno yang kekal.

semua kejahatan ini disebabkan oleh penghancur keluarga yang menyebabkan munculnya kebingungan sistem varna, menghancurkan berbagai kegiatan sosial juga warisan kuno tradisi keluarga.

1.43

उत्सन्नकुलधर्माणां मनुष्याणां जनार्दन ।
नरकेऽनियतं वासो भवतीत्यनुशुश्रुम ॥१-४३॥

utsanna-kula-dharmāṇāḿ manuṣyāṇāḿ janārdana |
narake niyataḿ vāso bhavatīty anuśuśruma || 1.43

utsanna—dirusak, dihancurkan; kula-dharmāṇām—yang mempunyai tradisi keluarga; manuṣyāṇām—mengenai manusia seperti itu; janārdana—o Krishna; narake—di neraka; niyatam—selalu; vāsaḥ—tempat tinggal; bhavati—terjadi, menjadi seperti itu; iti—demikian; anuśuśruma—ajaran yang diwacanakan oleh guru, mendengar menurut garis perguruan.

orang-orang yang menghancurkan tradisi keluarga oh Janārdana, menurut ajaran yang dengar dari guru yang demikian itu, selalu tinggal dalam kesengsaraan.

1.44

अहो बत महत्पापं कर्तुं व्यवसिता वयम् ।
यद्राज्यसुखलोभेन हन्तुं स्वजनमुद्यताः ॥१-४४॥

aho bata mahat pāpaḿ kartuḿ vyavasitā vayam |
yad rājya-sukha-lobhena hantuḿ sva-janamudyatāḥ || 1.44

aho—aduh; bata—alangkah, betapa; mahat—besar; pāpam—dosa-dosa; kartum—melakukan; vyavasitāḥ—sudah mengambil keputusan; vayam—kita; yat—karena; rājya—raja; sukha—menyenangkan, mebahagiakan; lobhena—keserakahan; hantum—membunuh; sva-janam—sanak keluarga; udyatāḥ—berusaha.

aduh betapa besarnya dosa yang sudah kita lakukan, berusaha membunuh sanak keluarga karena keserakahan untuk menyenangkan raja.

1.45

यदि मामप्रतीकारमशस्त्रं शस्त्रपाणयः ।
धार्तराष्ट्रा रणे हन्युस्तन्मे क्षेमतरं भवेत् ॥१-४५॥

yadi mām apratīkāram aśastraḿ śastra-pāṇayaḥ |
dhārtarāṣṭrā raṇe hanyus tan me kṣemataraḿ bhavet || 1.45

yādi—kalau pun; mām—diriku; apratīkāram—tidak melawan; aśastram—tanpa bersenjata lengkap; śastra-pāṇayaḥ—orang yang menyerang dengan senjata ditangannya; dhārtarāṣṭrāḥ—para putera Dhṛtarāṣṭraraṇe—di medan perang; hanyuḥ—dapat membunuh; tat—itu; me—bagi saya; kṣema-taram—lebih baik; bhavet—akan menjadi.

diriku yang tanpa senjata tak akan melawan kalaupun mereka menyerang dengan bersenjata, lebih baik putra Dhritarashtra itu akan membunuh diriku dimedan perang ini.

BG I.46 – II.1

Sañjaya berkata;

Setelah berbicara demikian di medan perang Arjuna duduk di kursi keretanya, melepaskan busur beserta panahnya, pikirannya diliputi penyesalan dan kesedihan. demikian kepadanya (arjuna) yang diliputi rasa sedih dengan mata penuh berlinang air mata, Madhusūdanaḥ mengatakan kata-kata ini kepada yang bersedih.

1.46

सञ्जय उवाच
एवमुक्त्वार्जुनः सख्ये रथोपस्थ उपाविशत् ।
विसृज्य सशरं चापं शोकसंविग्नमानसः ॥१-४६॥

sañjaya uvāca
eva muktvārjunaḥ sańkhye ratho pasthaupāviśat |
visṛjyasa-śaraḿ cāpaḿ śoka-saḿvigna-mānasaḥ || 1.46

sañjayaḥ—Sañjaya; uvāca—berkata; 

evam—demikian; uktvā—berbicara; Arjunaḥ—Arjuna; sańkhye—di medan perang; ratha—kereta; upasthe—di tempat duduk; upāviśat—duduk; visṛjya—melepaskan, meletakkan di sampingnya; sa-śaram—beserta anak-anak panah; cāpam—busur; śoka—penyesalan; samvigna—berdukacita, kesedihan; mānasaḥ—dalam pikiran.

Sañjaya berkata;

Setelah berbicara demikian di medan perang Arjuna duduk di kursi keretanya, melepaskan busur beserta panahnya, pikirannya diliputi penyesalan dan kesedihan.

Email Autoresponder indonesia

Leave a reply "Bhagawad Gita 1"