Canang Sari

145 views
banner 468x60

Canang Sari

banyak yang mengatakan bahwa

Canang sari merupakan upakara (perlengkapan) keagamaan untuk persembahan tiap harinya. Canang sari adalah implementasi dari Bhagawad Gita 9.26 yang condong dalam konteks "persembahan".

semuanya itu tidak salah.... tetapi keliru...

Canang Sari atau dikenal dengan sebutan "Canang Sebit Sari" bukanlah persembahan, tetapi SIMBOL semesta yang juga simbol jati diri kita. Canang Sari bukan juga kelengkapan, tetapi kewajiban dalam sesajen...

canang sari

Canang Sari merupakan salah satu bentuk BANTEN, yang sejatinya memiliki makna yang sangat mendalam.

Frase "canang sari" diperoleh dari kata canang (wadah anyaman daun kelapa) dan sari ("inti, esensi"). kata "canang" terdiri atas dua suku kata bahasa Kawi, "ca" ("indah") dan "nang" ("tujuan"). Dengan demikian, pengertian canang dapat djabarkan menjadi sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Menurut kamus bahasa Bali, "canang" merupakan sebuah kata benda dengan tingkatan bahasa halus yang memiliki arti "sirih". Buku "Sembahyang menurut Hindu" menyebutkan bahwa pada zaman dulu sirih bernilai sangat bernilai tinggi dan menjadi lambang penghormatan. Sirih disuguhkan kepada tamu yang sangat dihormati.

Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Gama Bali adalah kuantitas terkecil namun inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam "setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari". Canang Sari merupakan satu kesatuan simbol (yantra) yang dirangkai menjadi bahasa magis, sehingga elemen/komponen dasar canang sari tidaklah boleh kurang.

Taled medaging pelawa miwah porosan, beduwur talede medaging sampian sari, beras kuning sesantun, minyak wangi lan sekar, suksman nyane, sarin kesucian kayun bakti ring Hyang Widhi tunggal, ritatkala ngaksara kahiwangan

Makna dari Elemen Canang Sari

adapun elemen dari canang sari diantaranya:

  1. tumbuhan (batang, daun, bunga dan buahnya)
  2. Material (bebatuan dan logam)
  3. Api, Air dan Udara

Tumbuhan

merupakan sumber kehidupan (mahabhuta) yang nyata bagi manusia. karena hanya tumbhan yang bisa mengolah panca mahabhuta di dunia ini. tumbuhan bisa makan sari tanah (pertiwi), dibantu oleh air (apah) yang diolah lewat daun dengan bantuan sinasserta panas matahari (teja) maka jadilah tenaga untuk dirinya hidup serta udara untuk nafasnya (bayu) dan semua itu diolah dan disimpan dalam sebuah media, ruang yaitu tubuhnya (akasha). manusia belum dapat hidup langsung dari sumber kehidupan ini (mahabhuta) terutama hidup langsung dari tanah sehingga untuk mendapatkan sari pati pertiwi, manusia memakan tumbuhan. itulah sebabnya tumbuhan merupakan salah satu simbol diri manusia, yang kemudian dirangkai menjadi banten canang.

Api, Air dan Udara

dalam ritual pemujaan jaman purba, Api dan Air memiliki peran yang sangat besar. ini bisa kita jumpai dari berbagai situs purba, yang selalu menggambarkan setiap kegiatan selalu dikaitkan dengan Api. pemanfaatan Api merupakan tonggak peradaman manusia, dan Air merupakan penopang hidup manusia.

Dalam ritual gama bali dijaman purba, mengenal adanya sistim penyatuan 3 unsur yaitu:

  • Api (gni),
  • Air (undaram), dan
  • Udara (marut).

dari penggabungan 3 unsur tersebut muncullah bahasa mistis;

  • Ang (sebagai simbol Agni),
  • Ung (sebagai simbol Undaram), dan
  • Mang (sebagai simbo Marut).

dari sana dalam perjalanan ritual diringkes menjadi AUM, yang dalam pemujaan dirafalkan dengan suara ONG.

Ong untuk sebutan mahapencipta (paratma) dan Wong untuk wadak beliau sang atma. untuk bisa menyatu dengan beliau maka Api, Air dan Angin (mantra) wajib selalu ada dalam setiap ritual gama bali.

untuk kompunen udara (marut), dalam ritual bali digunakan desiran nafas saat mengucapkan mantra "Saa" serta gerakan "ngayab". itulah sebabnya Api, Air dan Saa (ucapan do'a) ataupun gerakan ngayab sangat penting dalam ritual bali.

Material (logam dan bebatuan)

material merupakan bentuk pemadatan dari unsur pertiwi (tanah). dalam keyakinan kuno, material ini merupakan penghubung manusia dengan semesta dan penciptaNya (paratma). adapun yang digunakan ada 11 bentuk datu yaitu Panca Datu logam (perak, tembaga, emas, perungu serta kuningan), Panca Datu permata (mirah cempaka, mirah bang, cempaka kuning, bangsing dan nawaratna) serta "batu bata" sebagai simbol unsur murni dari pertiwi. dengan pemakaian material ini maka dipermudah "koneksi" hubungan manusia dengan semesta danjuga pada asalnya (paraatma). material ini bagaikan antena pemancar, untuk mempermudah dalam memilih gelombang apa yang akan dipilih oleh yang melakukan ritual.

Komponen Pokok dalam Membuat Canang Sari

adapun Komponen Pokok Canang Sari yang WAJIB ada. berikut susunan dari canang sari, dari bawah ke atas:

1. Canang sari harus dengan dasar/tatakan "Ceper"

Ceper adalah simbol dasar kehidupan dan implementasi dari simbol yantra segi empat, merupakan gambaran alam kehidupan manusia.

ceper sebagai alas dari sebuah canang yang memiliki bentuk segi empat dan melambangkan angga-sarira (badan manusia), yang dibentuk oleh 25 unsur (guna) pembentuk tubuh manusia yang berfungsi mengikat sang Atma, yang menyebabkan Atma menjadi terlena dan berkurang sifat keilahiannya. bagi Manusia yang bisa memurnikan 25 guna sakti tersebut, disanalah seseorang disebut "manusa sakti" yang dapat menunjukan "cadhu sakti" dengan materialitas paling kasar yaitu kawisesan (sakti), sidhhi hingga siddhas.

Adapun ke 25 unsur pembentuk tubuh (unsur pengikat sang atma) diantaranya:

  • Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (unsur padat), apah (unsur cair), teja (unsur api/cahaya), bayu (unsur udara), dan akasa (ruang dan waktu),
  • Panca Tan Mantra yaitu Rupa (benih penglihatan), Rasa (benih rasa), Gandha (benih pencium), Sabda (benih suara), Sparsa (benih rabaan)
  • Panca Buddhindriya yaitu srotendria (rangsang pendengaran), twakindria (rangsang perasa), caksundria (rangsang penglihatan), jihwendria (rangsang pengecap), granendria (rangsang pencium).
  • Panca Karmendriya yaitu Garbendria (rangsang penggerak perut), Panindria (rangsang penggerak tangan), Padendria (rangsang penggerak kaki), Payuindria (rangsang penggerak pelepasan), Upastha/bhagendria (rangsang penggerak kelamin).
  • Tri guna diantaranya Satwam (kebijaksanaan), Rajas (keagresipan/aktif) dan Tamas (kemalasan/pasif)
  • Purusha dan Guna-citta.

itulah unsur-unsur pembentuk diri manusia yang disimbolkan oleh yantra kotak dalam bentuk ceper.  sedangkan Keempat sisi ceper melambangkan pembentuk jalan hidup manusia, yaitu Catur Asrama yaitu Brahmacari (proses pembelajaran), Grahasta (proses praktek dan berumahtangga), Wanaprasta (proses pendalaman ajaran dan menjadi penuntun) dan Sanyasin (proses pendekatan dan penyatuan diri) dengan kombinasi marga yoga sebagai metode manusia dalam mendekatkan dirinya pada penciptaNYA. adapun Catur Marga Yoga diantaranya: Bhakti (pengabdian), Karma (perbuatan), Jnana (kebijaksaan) dan Tapa (spiritualitas).

2. Canang sari harus berisikan "Porosan"

Porosan atau peporosan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir) yang melambangkan Trilogi kehidupan manusia, yaitu

  • Gambir (merah) simbol; bayu - tamas - utpeti (lahir),
  • Sirih (hijau) simbol; sabdha - rajas - stiti (hidup),
  • kapur (putih) simbol ; idep - satyam - pralina (mati).

Porosan simbol silih asih, makna cinta kasih, ketulusan. Porosan memiliki akar kata "poros" yang bermakna pusat kekuatan, sehingga setiap umat harus mempunyai hati (poros) penuh cinta dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

3. Canang sari harus  isi "Bunga"

merupakan simbol kedamaian dan ketulusan hati. belakangan ini berkembang tradisi, agar peletakan bunga disesuaikan dengan arah mata angin atau konsep panca dewata. tetapi secara aturan baku konsep tersebut tidak melekat, yang wajib ada hanyalah bunga, bukan jumlah warna atau jenis bunganya.

4. Canang sari harus  isi "Kembang Rampai"

Kembang rampai diletakkan di atas susunan bunga dan memiliki makna sebagai lambang kebijaksanaan. Bermacam-macam bungai ada yang harum dan ada yang tidak berbau, melambangkan kehidupan manusia tidak selamanya senang atau susah. Untuk itulah, dalam menata kehidupan, manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan.

5. Canang sari harus  isi "Sesari" Pis Bolong

sesari ini hendaknya menggunakan pis bolong (uang kepeng). pis bolong merupakan simbol windu, simbol penyatuan, yakni penyatuan beberapa elemen alam yang diwakili oleh elemen logam itu sendiri. oleh karena itu, diwajibkan menggunakan pis bolong dengan material tridatu dan kalau bisa gunakan yang terbuat dari panca datu. sesari maknyanya inti (unteng) dari isi hati, yaitu materialisasi kekuatan kosmis agar bisa dinikmati.

5 komponen pokok Canang Sari tersebut merupakan paket, yang tidak bisa dikurangi.

Komponen Tambahan (optional) dalam Canang Sari

dalam perkembangan, Canang sari juga dilengkapi oleh beberapa pelengkap lainnya yang sifatnya tidak wajib.

tetapi, untuk catatan; komponen tambahan ini juga merupakan sebuah paket,
maksudnya, apabila ingin menambah komponen optional ini, maka semua harus ditambah. bila ternyata ada kurang dalam salah satu komponen dalam optional dibawah ini, disarankan menggunakan komponen pokok saja, agar tidak mengurangi makna filosofi dari canang sari ini.adapun beberapa hal yang dapat ditambahkan dalam membuat canang sari, diantaranya:

  1. Sampian uras (Duras) yang dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar merupakan simbol "windu Ongkara" (leluatan matahari), lengkungan uras sari merupakan simbol Arda candra Ongkara (kekuatan bulan). sampian uras yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai yang melambangkan roda kehidupan dengan astaa iswaryanya ("delapan karakteristik') yang menyertai setiap kehidupan umat manusia - diletakkan dibawah bunga (sebagai tempat bunga) dengan ujung lancip dari Uras sari tersebut merupakan simbol kekuatan "Nada Ongkara" (kekuatan Bintang)
  2. Jajan, tebu, dan pisang: menjadi simbol dari wiswa Ongkara (angka tiga aksara bali) yang melambangkan kekuatan Upetti, Stiti, dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta. - diletakkan dibawah Sampian uras
  3. Lepa (boreh miyik) merupakan lambang sebagai sikap dan perilaku yang baik. Perilaku menentukan penilaian masyarakat terhadap baik atau buruknya seseorang. - diletakkan dibawah Sampian uras
  4. Minyak wangi (miyik-miyikan) menjadi lambang ketenangan jiwa atau pengendalian diri. Dalam menata kehidupan, manusia hendaknya hendaknya menjalankannya dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik. - diletakkan dibawah Sampian uras
  5. Beras (wija/bija) melambangkan dewi sri atau yang membuat badan mejadi hidup, melambangkan benih di awal kehidupan yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Ātma. - diletakkan diatas bunga dibawah sesari.

Penataan bunga berdasarkan warnanya di atas Sampian Urasari diatur dengan etika dan tattwa, harus sesuai dengan pengider-ideran (tempat) Panca Dewata. Untuk urutannya saya menggunakan urutan Purwa/Murwa Daksina yaitu diawali dari arah Timur ke Selatan.

  • Bunga berwarna Putih (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna merah muda) disusun untuk menghadap arah Timur, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari (Bidadari) Gagar Mayang oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Iswara agar memercikkan Tirtha Sanjiwani untuk menganugerahi kekuatan kesucian skala niskala.
  • Bunga berwarna Merah disusun untuk menghadap arah Selatan, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Saraswati oleh Prabhawa Nya dalam kekuatanSang Hyang Brahma agar memercikkan Tirtha Kamandalu untuk menganugerahi kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan.
  • Bunga berwarna Kuning disusun untuk menghadap arah Barat, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Ken Sulasih oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Mahadewa agar memercikkan Tirtha Kundalini untuk menganugerahi kekuatan intuisi.
  • Bunga berwarna Hitam (jika sulit dicari, dapat diganti dengan warna biru, hijau atau ungu) disusun untuk menghadap arah Utara, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Nilotama oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Wisnu agar memercikkan Tirtha Pawitra untuk menganugerahi kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga.
  • Bunga Rampe (irisan pandan arum) disusun di tengah-tengah, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Supraba oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Siwa agar memercikkan Tirtha Mahamertha untuk menganugerahi kekuatan pembebasan (Moksa).

trus..
bagaimana jika arah matahari atau arah mata-angin tidak diketahui? misalnya berada di tengah hutan yang gelap atau di tengah goa...?
kebijaksanaan Gamabali tercermin di kasus seperti ini. maka arah timur itu digunakan dengan arah depan kita, arah depan saat meletakkan canang sari. Timur yang dalam sastra disebut dengan PURWA, memiliki arti awal, depan, wit, asal muasal. dari sanalah kita bisa menyatakan arah depan merupakan kiblat kita, sehingga bunga putih itu posisinya di depan, merah di kanan, kuning di belakang dan hitam di sisi kiri.

Sesuai penjelasan di atas, maka canang sari mengandung simbul kekuatan Sang Hyang Panca Dewata.
Maka sudah sepantasnya, "dalam proses pembuatan dan penyusunannya tidak boleh asal-asalan", asal kelihatan seni atau ngawur apalagi berantakan, kita seharusnya memperhatikan makna dan tujuannya.

Kekeliruan yang sering dan lumrah kita lihat dikeseharian adalah tidak memperhatikannya arah mata angin pada saat menghaturkan canang sari, yang mana seharusnya luanan (hulu) mana teben.

Kekeliruan akan terakumulasi mulai dari susunan bunga pada canang yang tidak sesuai ditambah lagi saat menghaturkannya tidak memperhatikan arah mata angin. Misalnya, warna putih seharusnya ke arah timur justru dipasang di arah barat, kemudian merah seharusnya di selatan justru ke timur.

Pernah terdengar keluh kesah dari beberapa kesempatan, mereka mengatakan bahwa,

"saya sudah menghaturkan canang sari dan segehan setiap hari ternyata hidup saya dan keluarga masih kacau balau".

Ironis bukan.....,
jika ditelusuri ternyata kekacauan itu ternyata bukan semata-mata dari luar kita.

Memang kita mungkin sudah menghaturkan canang sari setiap hari,
namun tidak sesuai tata cara dan aturan sesuai Tattwa-nya.

Sehingga yang terjadi adalah, kita menghaturkan canang sari yang isinya kacau balau, arah yang tidak sesuai apalagi ditambah isi yang tidak lengkap. Dengan kata lain, kacau balau dan ketidak sesuaian arah dan kehidupan yang tidak lengkap itulah yang kita mohonkan sesuai seperti kita menghaturkan canang yang kacau balau.

Yang dihaturkan kacau balau, maka anugerah yang diberikan adalah kekacauan… bukankah ini telah sesuai?

Jadi salah siapa?

Menghaturkan canang sari yang terbaik adalah dilakukan pada pagi hari, caranya haturkan canang sari pada tempatnya (seperti rong pelinggih dsb) sesuaikan warna bunga dengan arah mata angin. Kemudian selipkan sebatang dupa, lalu percikkan air menggunakan bunga yang dipegang di tangan. Saat ngayab, pastikan menggunakan tangan yang digunakan untuk makan (umumnya tangan kanan), kemudian bunga pada posisi antara jari telunjuk dan jari tengah sebagai simbolis Siwa di dalam raga kita. Gerakan ngayab harus lemah gemulai dari sisi luar belakang ke arah depan. Harap hanya menggunakan tangan, jangan menggunakan alat bantu lainnya seperti saab atau lainnya yang tidak ada maknanya dalam tattwa.

Menghaturkan canang sari di pagi hari adalah simbolis Utpeti  agar dalam hari tersebut kita mendapat restu anugerah dan karunia Sang Hyang Widhi. Kemudian lanjutkan dengan kegiatan sehari-hari kita yang merupakan Stiti. Kemudian pada sore harinya Salikaon (sesaat setelah matahari terbenam) kita menghaturkan segehan sebagai simbolis Pralina, sebagai ucap syukur dan mempersembahkan atau mengembalikan semua yang kita lakukan pada hari tersebut ke hadapan Sang Hyang Widhi.

Demikian secara singkat tentang ritual sehari-hari beserta maknanya sesuai Tattwa ajaran Hindu Bali.

Semoga bagi yang membaca catatan ini yang kebetulan penganut Hindu Bali agar memperhatikan dan mulai memperbaiki apabila ternyata telah terjadi ketidaksesuaian dengan tattwa di atas. Semoga kehidupan anda dan keluarga akan semakin membaik. demikian sekilas tentang Canang Sari, yang merupakan SIMBOL diri Manusia.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.