Dasar Membuat Sanggah Kemulan

47 views
banner 468x60

beberapa hal yang mendasari pembangunan pelinggih sanggah kemulan

Dasar sastra mendirikan sanggah kemulan

Umat Hindu, khususnya Gama Bali pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya seperti leluhur (Dewa Pitara). Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa Prabhu Dasaratha sangat bhakti kepada Tuhan dan tak lupa beliau memuja leluhurnya serta menyayangi keluarganya yang merupakan titipan dari leluhurnya.

Sanggah Kemulan merupakan bangunan suci yang wajib dibuat oleh krama bali, karena mengacu pada dasar sastra gama bali, diantaranya:

  • Lontar Siwagama
    menyatakan bahwa "setiap keluarga yang menempati karang perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kamulan". Jadi lontar Siwagama inilah yang merupakan dasar hukum bagi pendirian Sanggah Kamulan itu. Kamulan dimaksudkan untuk selalu ingat kepada sumber atau asal manusia. Manusia dalam bahasa Sanskrit berasal dari kata 'jatma' yaitu ' ja + atma '.
    • Ja berarti lahir,
    • Atma artinya roh yang merupakan bagian dari Brahman.
    Jatma atau manusia adalah roh yang lahir (reinkarnasi). Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup karena adanya roh yang lahir. Jadi yang menjadi sumber asal manusia adalah roh itu sendiri. Lontar Siwagama adalah merupakan Pustaka suci bagian Smrti dari Sekte Siwa. Oleh karena itu ajaran Siwa seperti yang tercantum pada lontar Siwagama itu wajib diikuti oleh pengikutnya.
  • Lontar Usanadewa dan Lontar Gong Wesi
    menyatakan bahwa kemulan merupakan linggih Sang Hyang Atma (ayah dan ibu) yang berprabawa sebagai Sang Hyang Tuduh.
    Dari Lontar tersebut, dijelaskan bahwa ke tiga rong tersebut, sisi kanan stana Sanghyang Bapa yang lebih dikenal sebagai sang paratma, dan sisi kiri stana Sang Hyang Ibu yang disebut sang Siwatma, dan ditengah Sang Hyang Urip, merupakan Sang Hyang Tunggal. Pada ruang tengah biasanya diisi buah kelapa yang masih bertampuk dan bertangkai serta kulitnya tiada bercacat, disebut: “Tahulan“. Tahulan ini dianggap sebagai sebagai simbul jiwa, Tapuk sebagai Lambang Siwadwara dan tangkai sebagai simbul rambut,sedangkan ruang kanan dan kiri sebagai simbul mata.
    Dari dua kutipan lontar di atas jelaslah bagi kita, bahwa yang bersthana pada sanggah kamulan itu adalah Sanghyang Triatma, yaitu; Paratma yang diidentikkan sebagai ayah (purusa), Sang Sivatma yang diidentikkan Ibu (predana) dan Sang Atma yang diidentikkan sebagai diri sendiri (roh individu). Yang hakekatnya Sanghyang Triatma itu tidak lain dari pada Brahma atau Hyang Tunggal/ Hyang Tuduh sebagai pencipta (upti).
  • Lontar Purwa Bhumi Kamulan
    menyatakan bahwa sanggah kemulan merupakan stana sang hyang atma yang telah disucikan yang disebut Dewapitara.
  • Lontar Tattwa Kapatian
    disebutkan bahwa sanghyang atma (roh) setelah mengalami proses upacara akan bersthana pada sanggah kamulan sesuai dengan kadar kesucian atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci, yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ngurug) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “batur kamulan”.

Dari kutipan-kutipan di atas jelaslah bagi kita bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah juga roh suci leluhur, roh suci Ibu dan Bapak ke atas yang merupakan leluhur lencang umat yang telah menyatu dengan Sang Penciptanya, yang dalam lontar Gong Wesi/ Usana Dewa sebagai Hyang Tuduh atau Brahma, yang merupakan asal muasal adanya manusia di dunia ini.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.