Ngurip Gni Sakti

176 views
banner 468x60

Ngurip Gni Sakti

Ngurip Gni Sakti ini merupakan latihan lanjutan dari "Pemabah Meditasi Gni Sakti", sehingga syarat umum melaksanakan latihan "Ngurip Gni Sakti" ini adalah telah melaksanakan proses meditasi dan brata "Pemabah Meditasi Gni Sakti". Setelah menjalankan ritual dan melatih metode berikut ini, secara umum Gni Sakti (Gni Rahsyam) dalam diri sudah meurip, hanya saja besar power kobaran Gni dari setiap praktisi tentu berbeda-beda, tergantung ketekunan praktisi melatih dan mentaati aturan-aturan baku yang telah disampaikan sebelum-sebelumnya. Semakin besar power kobaran Gni Sakti Anda, tentu kekuatan kawisesan anda semakin besar/tinggi, sehingga mampu menopang ajian-ajian kawisesan yang akan dipelajari berikutnya.

yang pertama harus dipahami guna ngurip gni sakti adalah memahami ajaran Dasa Aksara. namun dalam materi Ngurip Gni Sakti ini, dasa aksara lebih ditekankan pada praktek spiritual yang terkadang agak menyimpang dari teori yang sudah beredar secara umum. Perbedaan-perbedaan ini hanya bisa dilihat apabila praktisi sudah mampu merasakan fibrasi dari setiap aksara atau mampu melihat keberadaan aksara-aksara suci itu didalam tubuh.

adapun beberapa ritual wajib yang harus dilaksanakan setiap malam setelah melaksanakan latihan Pemabah Meditasi Gni Sakti, diantaranya: Ritual Meditasi Dasaksara:

Ritual Meditasi Dasa Aksara

  1. lakukan sikap meditasi, konsentrasilah.. niatkan ke-10 aksara suci muncul di setiap organ tubuh kita sesuai teori dasa aksara secara umumnya.
  2. tetaplah fokus, agar simbol aksara di organ tubuh itu semakin menguat dan muncul warna dari kesepuluh aksara tersebut, kemudian rasakan sifat dari aksara dan organ tubuh kita itu.
  3. setelah terasa sifat-sifat dari aksara dan organ stana dari aksara itu, jadikan aksara itu energi.
  4. gabungkan energi itu semua, yang kemudian menjadi dua; air turunkan kehati dan rasakan fibrasinya di nabi, sedangkan lagi satu jadikan air naikan keatas namun tahan di pangkal kepala bagian belakang (otak kecil / pulo fatimah). tahan kedua energi tersebut hingga mereka bergetar sperti akan meledak.
  5. setelah beberapa lama, maka efek dari menahan energi tersebut akan kembang bunga-bunga energi dari setiap organ tubuh kita yang terlihat seperti bunga teratai/padma. tetap tahan, hingga terasa bunga-bunga energi tersebut terangkat.
  6. setelah beberapa saat, diatas bunga-bunga energi tersebut muncullah aksara panca brahma. jadi terlirat (terasa) ada dua lapis energi, lapis bawah dasa aksara dan lapis atas panca brahma. namun saat sudah terangkat keatas menjadi panca brahma, praktisi akan kesulitan melihat/merasakan energi dasa aksara lagi, karena energi tersebut sudah tertutupi energi panca brahma,
  7. kembali rasakan energi panca brahma yang muncul dari setiap organ tubuh, fokuskan sehingga muncullah aksara, warna, sifatnya.
  8. tetap fokuskan hingga puncak power energinya akan meledak dan muncullah para Bhuta kala dari setiap dewata pemilik aksara tersebut. Mereka akan menyerang, maka segera laksanakan ritual Utpeti-Stiti_pralina sehingga para Bhuta tersebut somia. tetap tahan agar tidak meledak. apabila mampu menahan energi tersebut, maka setiap bhuta akan satu per-satu memeprkenalkan diri, menyampaikan tugas beserta kekuatan dan fungsi mereka hingga cara memanggil bhuta dari setiap aksara. tujuan mendapatkan cara memanggil bhuta ini saat pengobatan, praktisi dapat memanggil para bhuta dari pasien untuk menanyakan sakit dan solusi mengobati sakit pasien. setelah beberapa saat, setelah semua bhuta memeperkenalkan diri, dan energi panca brahma masih mampu ditahan, maka dari bawah (anugrah ibu pertiwi) akan muncul api masuk dibawah melalui jalur cakra dan bersemayam di nabi, setelah tertahan sebentar naik kembali membentuk Ong-kara Gni. Air yang tertahan dipangkal otak belakang (atas anugrah Bapa Akasa) mengalir naik menyusuri jalur cakra belakang hingga mahkota kemudian melingkar ke arah muka depan sampai dialis menjadi Ongkara Sungsang. bertemu di sekitar mulut bagian dalam, menyatu menjadi Tri Aksara. kemudian menyatu kembali di hati.

Demikianlah proses ritual Dasa Aksara yang dijalankan, Konsesntrasi sangatlah penting, goyah sedikit maka moksah sang hyang aksara, tiada manfaat yang diperoleh. latihlah Ritual ini setiap hari tanpa putus selama 33 hari.

Setelah itu, 33 hari, tambahkan ritual diatas dengan melakukan ritual Homa Dyatmika. Adapun ritualnya: Ritual Meditasi Homa Dyatmika:

Meditasi Homa Dyatmika

ucapkan Mantra berikut ini sebanyak 11x, kontrasikan dan fokuskan pada mantra, sehingga praktisi dapat merasakan proses Homa Dyatmika ini.

Ūng, ring nabi, trusang ka madyaning nabi, matmahan sirā miñak. Mang, ring pupusuḥ, trusaknā ring soring nabi. Āng, ring ati, trusang maring nabi, maragā sira tunggal, marggayang kā tulang gihing, idӗp ring urung urung gadhing

setelah 7 hari, silahkan lanjutkan dengan menambah ritual Ngurip Gni Sakti dengan menambahkan latihan ritual Meditasi Panca Gni, berikut ini: Ritual Meditasi Panca Gni:

Meditasi Panca Gni

Berikut ini cara ngemedalang Gni amañca wārṇna dari tubuh, diantaranya:

  1. Gni putiḥ dari pupusuḥ, trusaknā mdhalang ring śiwa dwarā, amargga ring urung urung gading.
  2. Gni abāng, ring ati, trusaknā ring cangkӗm.
  3. Gni kuning ring ungsilan, trusaknā mdhalang ring kārṇnā.
  4. Gni īrӗng ring ñali, trusaknā mdhalang ring īrung.
  5. Gni mañca warṇnā, ring tumpuking ati, trusaknā mdhalang ring rambut. Sami īngidhӗp, marggayang ring urung urung gaddhing,

setelah semua proses itu dilaksanakan, ucapkanlah mantra "Sang, Bang, Tang, Ang, Ing" sebanyak 33x.


Ciri-ciri Gni Rahsya yang sudah me-Urip

Banyak informasi berkenaan dengan Kobaran Gni Rahsya ini. Namun jarang yang ada mau menunjukan kemampuan ini. Hal ini disebabkan adanya aturan "larangan" untuk menunjukan kemampuan ini karena berhubungan dengan "Penugran Bhatari". Secara khusus "rahasia" penugran tidak boleh dipertontokan. Apabila ada yang mengumbar promosi bahwa dirinya memperoleh penugran, tentu itu motifnya nyari uang, dagang spiritual, dagang buka cakra dan lainnya.

Ciri umum orang yang sudah Hidup - meurip Gni Rahsya-nya terlihat dari letupan-letupan lidah api di ujung rambutnya. Cara melihat orang yang sudah mampu ngurip Gni Sakti atau Gni Rahsya yaitu dengan menontonnya saat melaksanakan proses meditasi di malam hari atau di ruangan gelap tanpa sinar. Saat pertengahan meditasinya, diujung rambut didaerah telinganya akan keluar cahaya, kemudian seperti ada bara api yang berterbangan seperti halnya arang ilalang terbakar yang diterbangkan angin. Bagi yang sudah melewati tahapan ini, maka seluruh rambutnya mengeluarkan letupan-letupan api, level ini yang dikenal dengan istilah "pabahan ngendih" - ubun-ubunnya bersinar. Capaian level berikutnya api keluar dari uap nafasnya. bila orang yang sampai pada level uap nafasnya berupa api, saat berjalan dimalam hari, uap-uap nafasnya itu yang dilihat oleh orang lain seperti "Ndih Leak" ataupun kunang-kunang dari kejauah. kemudian takap berikutnya keluar dari sinar matanya, dari telinganya, dari jari-jarinya hingga seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya yang terbuat dari uap (letupan-letupan api kecil). inilah ciri orang yang sudah mencapai tahapan Gni Sakti.

Gni Rahsya yang sudah me-urip merupakan fondasi atau materi dasar sebelum menapakan kakinya di dunia spiritual dibali. Berbekal pengetahuan inilah, seseorang dapat menjadi sosok Brahmana - Wiku sejati, yang nantinya sebagai pemenuhan kewajiban untuk melaksanakan HOMA YADNYA alias Agnihotra. seperti yang dijelaskan dalam artikel Agnihotra di Bali, dimana syarat untuk melaksanakan ritual Homa adalah kemampuan ngurip Gni dengan capaian Gni Sakti tingkat tinggi, karena tidak hanya mampu membuat dirinya bercahaya namun mampu membakar apasaja yang ada dihadapannya, dalam hal ini upakara dalam Kunda Agni Hotra.

Demikian Ritual wajib Ngurip Gni Sakti, dengan melatih ketiga ritual wajib disertai Meditasi Pemabah Gni Sakti, maka Gni Sakti Praktisi sudah Urip secara otomatis. Dengan demikian praktisi sudah bole mempelajari ataupun menjalankan Ilmu Kawisesan lainnya dengan "AMAN". Sangat disarankan, praktisi pada tahap ini mulai melakukan "NARTI", sembahyang ke Khayangan Tiga khususnya Pura Dalem, Pura Prajapati dan Pamuhunan atau Uluning Setra setiap Purnama-Tilem dan Kajeng Klion. Demikianlah Akhir dari Dasar Ilmu Kawisesan Gamabali, semoga bermanfaat.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.