Pasu Yadnya dalam kehidupan Hindu Bali

95 views
banner 468x60

apakah PASU YADNYA itu yadnya tamasika? atau rajasika? bukankah banyak orang-orang pintar menyatakan hal demikian? sebelum membaca ulasan PASU-YADNYA, ada baiknya membaca dulu artikel "Satwika Yadnya".

Pasu Yadnya dalam kehidupan Hindu Bali apakah sudah sesuai Sastra Veda?

Seperti yang kita ketahui, yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu Bali selalu diidentikan dengan penggunaan Hewan-Binatang. Merujuk ke acara ritual di Bali, selalu diawali dengan Hari Penampahan, yang bermakna menyembelih binatang. Pada tingkatan Karya Agung, yadnya yang lebih besar "Penampahan" ini dikaitkan dengan ritual "Mepada", ritual mengarak hewan kurban keliling tempat suci yang akhirnya hewan-hewan itu disembelih, bahkan di beberapa Desa Kuno, hewan tersebut terkesan disiksa hingga mati.

pertanyaannya,
apakah perbuatan tersebut termasuk HIMSA Karma?
yang membunuh hewan dengan alasan Ritual Yadnya.

Ritual PASU YADNYA atau penggunaan binatang bukanlah hal yang baru di Nusantara, khususnya di Bali. Dalam Prasasati tertua yang sudah terpengaruh ajaran Weda yakni prasasti Kutai (peninggalan raja Mulawarman) Kalimantan Timur, dan prasasti Tugu (peninggalan raja Purnawarman) Jawa Barat, sudah menyebutkan penggunaan Hewan SAPI sebagai sarana Ritual Yadnya. Kedua prasasti tersebut menyiratkan pentingnya posisi HEWAN sapi dikalangan raja-raja di jaman dahulu.

  • Di PRASASTI KUTAI sekilas menerangkan bahwa sapi dijadikan bintang persembahan kurban oleh sang raja kepada para Brahmana yang membantu menyelenggarakan upacara kurban. Kemudian dalam salah satu Yupa yang ditinggalkan oleh raja Mulawarman ada disebutkan bahwa Sang raja menghadiahkan 20 ribu ekor lembu kepada Sang Brahmana; dan
  • Di PRASASTI TUGU disebutkan bahwa sang raja menghadiahkan 1000 ekor lembu kepada para Brahmana yang membantu menyelenggarakan upacara yadnya yang digelar.

Dalam konteks pasu yadnya di Bali, dapat dilihat dalam beberapa prasasti tertua seperti ; prasasti Bebetin A I, (818 C); Trunyan B, (833 C); Sembiran A I (844 C); Dausa 857 C; Serai 888.C. dan yang lainnya (Goris, 1951-52), semuanya menyebutkan salah satu dari binatang yang dipelihara oleh para petani adalah sapi. Betapa pentingnya sapi dari jaman pra-Hindu sampai jaman kerajaan Bali Kuno dan bahkan sampai saat ini. Khususnya di Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, melihat sejarah panjang tentang keberadaan sapi yang dipandang suci oleh umat Hindu pada umumnya, tidaklah berlebihan bila sapi diperlakukan lebih istimewa dibanding binatang peliharaan yang lainnya.

Secara umum, persembahan Kurban Hewan lebih dekat dengan ritual Bhuta Yadnya, yakni persembahan untuk para Bhuta (ciptaan yang tak kasat mata), yang kemudian dalam istilah bali "awam" dikenal dengan sebutan Bhuta Kala.

Kenapa Bhuta Kala diberikan persembahan?

Karena Bhuta (unsur ciptaan) Kala (waktu) yang tidak harmonis dapat mengganggu kehidupan manusia. Untuk itu diberikanlah sentuhan "URIP" yang bersumber dari bagian tubuh yang hidup, baik dari hewan maupun manusia itu sendiri. Semakin sering diberikan sentuhan "Urip" maka sang Bhuta Kala akan menjadi harmonis, yang nantinya akan berefek positif pada lingkungan sekitarnya. Butha Kala itu sendiri merupakan energi semesta, penguasa waktu. Siapapun tidak dapat selamat dari Sang Waktu ini, yang sudah terlewat (tertelan) tidak akan kembali lagi, itulah sebabnya Sang Bhuta Kala digambarkan menyeramkan, pelahap semua ciptaan, para dewata-pun tak akan luput dari cengkraman sang waktu, apalagi manusia.

Bhuta Kala yang kurang harmonis akan menyebabkan kegelisahan, apabila tidak harmonis akan menjadi keluhan dan penyakit, dan apabila sudah parah dampak negatifnya akan menjadi bencana. Hal yang terbalik bila dapat mengharmoniskannya, akan menjadi berkah bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.

Merujuk Kitab Dharma Sastra, Buthakala yang termasuk golongkan Sadya, yang diciptakan oleh Brahman ( Tuhan). Golongan Sadya itu terdiri dari mahluk astral yang tingkatannya lebih rendah dari Dewa-dewa sangat ditakuti oleh manusia karena sifatnya sangat mengganggu karena sifat-sifat bawaan mereka berkonotasi negatif.

Dalam lontar Pangiwa, Ratuning I Macaling disebut adanya “sesuhunan ring Tengahing Samudra“ dengan pepatihnya “Ratu Gde Mecaling”. Bhatari ini dikenal juga dengan nama “Ratu Kasuhunan Kidul“ atau “Nyi Roro Kidul“ kalau di Jawa. Di Bali beliau juga dikenal dengan nama “Bhatari Nusa Ped“. Beliau inilah yang memegang kekuasaan atas mahluk halus yang menyeramkan itu, termasuk para bhutakala-bhutakali. Menjelang sasih keenem, beliau dengan “wadwa”-nya pergi kedesa-desa yang dapat menimbulkan penyakit baik bagi manusia maupun binatang. Agar manusia, binatang dan alam lingkungannya tidak terganggu oleh mahluk halus ciptaan Durga lainnya, maka diperlukan usaha untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan . Dari sini lahirlah upacara “CARU“ .

Upacara Caru (kurban) dengan mempersembahkan binatang ternak terutama lembu, kambing, domba dll, sudah umum dipakai sebagai binatang kurban dalam upacara-upacara Yajna, yang ditujukan kepada para Dewa. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Prof. Dr. Palgunadhi, bahwa korban binatang sebenarnya sudah ada pada jaman Weda Kuno. Binatang-binatang yang akan dipakai yadnya atau kurban itu harus sesuai dengan warna dari Dewa yang akan mendapat persembahan termasuk juga sifat-sifat dari binatang itu harus disesuaikan dengan warna, kelamin, dan sifat watak dari para dewa yang ditujukan untuk dipersembahkan.

Perihal Pasu yadnya Malabuh Gentuh di Laut, Lontar Bhama Kertih lembar ( 23a ) milik Made Swandra Br. Karadan, Penebel Tabanan yang disalin oleh I Gusti Ngurah Gede pada tanggal 12 Agustus l976 ada menyebutkan sebagai berikut :

Nihan Malabuh Gentuh ring Segara. Lwir upakaraniya, kadi tingkah Ngeka Dasa Rudra. Ring pura, guling pebangkit bawi, ithik, 2, soroh, sarwa putih sowang, upakara desa sangkep, guling pebangkit ithik putih. Munggah ring sanggar tutwan , suci, 2, soroh, macatur wedhya ghana,saji dena genep, sakabehnya sarwa putih, mapanggungan, genep upakaran ing panggungan. Rawuhing Sang amuja mabhusana sarwa putih. Muwah ring daksina, upakaraniya tunggil kadi ring wetan, nanghing sarwa bang. Muwah ring paschima, upakaraniya tunggil kadi ring daksina, nanghing sarwa pitha. Mwang ring utara, upakaraniya tunggil kadi ring paschima, nanghing sarwa ireng.
Mwah ring madhya, ngadegang Sanggar Tawang rong tigasana, madudus agung mapeselang, matiti mahmah kbo luh muwani . Munggah suci ring sanggar kiwa,2, Ring Tengah, 3, mawedhya, maghana pikulan, macatur pandhiri, mapancha saraswati, masaji gnep sowang, manampas mas, mawadhah kada wadhah pasuciyan, campungin mirah tri warna, munggah ring sanggar tawang.
Upakaraniya pabangkit mancha warna, pabangkit, 2, makaras. Manih upakaran, panyegjegang hyanamada hasoroh, kadi panyegjegang manusa, taler maguling pabangkit asoroh. Genep. Mwah upakaran padudusan, hasoroh genep. Guling pabangkit hagong, makaras, maduluran dangsil,2,tumpang 11.dst…………………………

Dalam lembar ( 20b ) juga disebutkan pula perihal Caru Tawur Gentuh, yaitu untuk mendidirkan Sanggah Rong Telu, sarana upacaranya Banteng ( sapi ), dagingnya diolah menjadi 55 jenis, Kambing menjadi 99 jenis, celeng olahannya menjadi 44 jenis. Pemanfaatan Pasu dalam Caru Panca Wali Krama, lembar ( 19 ) disebutkan sebagai berikut : Sampi ( sapi ), manjangan, kidang, Kbo, kambing blang, lembu, garuda. Menyimak kutipan Lontar Bhama Kertih di atas, mengindikasikan bahwa, pemanfaatan pasu dalam setiap caru merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak sebelumnya.

Menurut Kamus Sansekerta-Indonesia karangan Prof. Dr. I Gede Semadi Astra ( 2000:246 ) pasu berarti binatang. Pengertian sama ditemukan dalam Kamus Jawa Kuna – Indonesia ( L. Mardiwarsito 1981 : 411 ), kata pasu juga berarti ternak, binatang. Secara leksikologi pasu yadnya berarti kurban binatang dalam kaitannya dengan upacara.

Jika dikaji secara mendalam, istilah pasu yadnya sesungguhnya masih erat sekali kaitannya dengan sarana caru atau mecaru, yang sarananya adalah terdiri dari binatang berkaki dua dan berkaki empat. Bagi kalangan umat Hindu Bali, memang istilah pasu yadnya belum banyak yang mengenal mereka justru lebih banyak mengenal istilah pekelem, caru dan sejenisnya yang pada hakikatnya sarananya juga dari binatang. Pekelem menurut Kamus Bali – Indonesia ( 1991 :327 ) mengandung artii sesuatu yang ditenggelamkan, biasanya di laut atau di danau, di darat (di tanam) dalam hubungannya dengan upacara. Mapekelem berarti : melakukan upacara “ pekelem”. Dalam konteks Pasu Yadnya, istilah Pekelem sesungguhnya kurban kepada buthakala bukan hanya berlaku di laut, di danau tetapi juga berlaku pada upacara kurban di darat. Sehingga, antara Pekelem dan Caru merupakan dua istilah yang berbeda namun memiliki pemaknaan sama. Sehubungan dengan hal tersebut, memang tradisi korban binatang tersebut telah dikenal sejak jaman Weda ( Rig Weda ) di India. Jangankan binatang sapi, lembupun yang dianggap tersuci juga dapat dijadikan kurban ( Phalgunadi, t.t ).

Menurut lontar Bhama Kretih, pasu yadnya sapi dapat difungsikan pada upacara, seperti : Caru Pancha Sanak Agung. Dalam upacara ini sapi dijadikan pakelem di arah bagian Selatan ( Daksina ). Disebutkan pula bahwa dalam Upacara Caru Panca Wali Krama, sapi dijadikan binatang pakelem di arah Timur ( Purwa ). Demikian pula dalam upacara Caru Tawur Gentuh, sapi ditempatkan di Sor ( I Made Suandra, 1976 ).

Dari tiga jenis korban ( pakelem ) tersebut di atas, nampaknya fungsi sapi dalam pakelem Tawur Gentuh itu sangat menarik. Mengapa diletakkan di sor ( di bawah )?. Maksud dibawah ( sor ) tersebut adalah pertiwi. Ini lebih memperjelas lagi bahwa sapi itu adalah sebagai simbul bumi yang menjadi pusat atau sumber dari kesuburan. Bumi sama dengan pertiwi; pertiwi disimbulkan dengan sapi, oleh karena sapi itu menghasilkan susu. Susu dalam kepercayaan Hindu merupakan amerta ( sumber hidup ). Pendek kata, bahwa sapi merupakan ibu yang menghasilkan susu yang menjadi sumber kehidupan semua mahluk yang ada di dunia ini.

Demikian pula dengan peletakkan sapi di arah selatan. Bila dikaitkan dengan warna, memang dalam pecaruan sapi termasuk binatang yang berbulu merah, sehingga diletakkan di arah selatan. Namun yang lebih penting lagi yaitu terkait dengan sapi sebagai simbul bumi. Berbicara soal arah selatan akan selalu berhubungan dengan dewa Brahma sebagai pencipta alam semesta dan menguasai arah selatan. Dapat dikatakan arah selatan adalah simbul penciptaan bumi ( alam semesta ) dan dilambangkan dengan sapi. Serta penempatan sapi di arah timur, tidak terlepas sapi sebagai simbul kesucian.Timur adalah arah yang tergolong purwa, dengan simbul warna putih yang mengandung arti suci.

Makna kurban Dalam Rig Weda, ( Mandala I. 162, 21) melalui Prof. Phalgunadi ada disebutkan : “ Engkau tidak disakiti ” ( engkau tidak ) dibunuh ( engkau tidak ) mati, engkau pergi ke tempat para Dewa melalui jalan ( yang benar, suci dan indah), lebih jauh Prof. Dr. Phalgunadi menegaskan bahwa dengan adanya mantra pemujaan ini dalam bentuk kitab Suci Rig Weda dalam upacara Yajna, maka umat Hindu diperkenankan untuk membunuh binatang demi untuk upacara Yadnya-Kurban. Persembahan binatang sebenarnya membantu binatang binatang itu membebaskan dirinya untuk dapat masuk menuju sorga. Dan membawa binatang itu untuk datang ke para Dewa, upacara kurban Yajna itu pula adalah untuk membebaskan dosa-dosa dari binatang-binatang itu dan juga dari orang yang mempersembahkan Yajna-Kurban.

Dalam konteks binatang berkaki empat seperti kuda, sapi, babi, kambing dan sejenisnya dalam kitab suci Rig Weda ( mandala I.163) ada disebutkan sebagai berikut : binatang ( kuda ) yang dikurbankan itu akan lahir kembali sebagai manusia atau ( orang ) yang terpuji dan dihormati oleh semua (orang),pertama akan lahir di angkasa, dengan suara yang riuh rendah untuk menyambut orang yang mempersembahkan Yajna-Kurban ( yajamana yang meninggal ) dengan bersayap seperti burung elang dan dengan kekuatan seperti kijang.

Sapi pada Upacara Agnadheya ( dalam kuliah Prof. Dr. Palgunadhi ) di India ( semacam caru di Bali ) yang merupakan upacara persiapan yang mendahului semua upacara-upacara umum yang akan dilakukan, dimana sapi merupakan salah satu binatang yang sangat diperlukan untuk dikurbankan. Dewa-dewa yang disebutkan dalam kitab Suci Weda, dimana berbagai binatang dikurbankan untuk para dewa itu.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pekelem merupakan pengejawantahan dari keseimbangan hidup manusia antara manusia dengan lingkungan alam, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan oleh umat Hindu dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. Suatu kenyataan sekarang bahwa konsep Tri Hita Karana yang didengung-dengungkan oleh masyarakat Bali tidak lagi dijaga dengan baik oleh manusia, misalnya dimana-mana terjadi ekplorasi, pencurian kayu melalui penebangan liar, pembukaan lahan secara “ merampok “. Hal-hal di atas merupakan awal mula akan tejadinya suatu bencana seperti : banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan sejenisnya yang pada intinya adalah kesalahan dari umat manusia yang serakah.

Guna menyeimbangkan kembali alam-alam yang telah rusak dan hancur misalnya, maka diwujudkanlah dengan suatu upacara yang disebut dengan bhuta yajna yaitu suatu upacara sebagai korban suci yang bertujuan membersihkan alam semesta beserta isinya dan memelihara serta memberi penyupatan kepada bhuta kala dan mahluk-nahluk yang dianggap lebih rendah dari manusia seperti kehidupan mahluk astral /mahluk halus, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Konsepsi ini didasari oleh ide kesatuan, yakni manusia mesti menyatukan diri dengan alam secara serasi, selaras, dan seimbang. Dalam konsep tersebut dinyatakan bahwa manusia ( bhuana alit ) dan alam ( bhuana agung ) tersusun oleh unsur yang sama atau memiliki sifat yang mirip.

Jenis-Jenis Upacara memanfaatkan Pasu ( binatang )

Bagi kehidupan masyarakat Hindu berbagai jenis upacara yang memanfaatkan binatang sebagai kurban, yang tujuannya tiada lain adalah untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan dinamis dan produktif dalam kehidupan bersama, dalam menjaga keselarasan itu manusia perlu melakukan kurban kepada para bhuta kala supaya tidak mengganggu kelangsungan hidup manusia. Adapun jenis-jenis upacara dengan sarana pasu dalam Lontar Bhama Kertih tercatat sebagai berikut :

  1. Caru Panca Wali Krama, lembar ( 19 ) disebutkan sebagai berikut : Sampi ( sapi ) manjangan, kidang, Kbo, kambing blang, lembu, garuda dan sejenisnya yang hidup di bumi ini.
  2. Caru Tawur Gentuh ( lembar 20 ) sarana pasu : Itik , Banteng ( sapi) dagingnya diolah menjadi 55 jenis, Banteng ( sapi ), dagingnya diolah menjadi 55 jenis, Kambing menjadi 99 jenis, Celeng olahannya menjadi 44 jenis.
  3. Caru Tawur Agung ( lembar 20) sarana pasu : Sampi untuk winangun urip, diolah menjadi 55, Menjangan diolah menjadi 99 jenis. Karena binatang ini langka, maka bisa diganti dengan rerajahan untuk diolah atau diganti dengan bebek putih.
  4. Mamalik Sumpah ring Carik ( Sawah )( lembar:19) sarana pasu seperti : Babi Guling, ayam, bebek.
  5. Caru Panca Kelud
  6. Caru Walik Sumpah ( lembar 18 ) sarana pasu : Angsa, banteng ( sapi ), Babi ( celeng ).

Pasu dan Pekelem

Upacara mulang Pekelem /Caru memilki beberapa fungsi sesuai dengan kebutuhan situasi alam atau situasi negara yang memerlukan ketenangan dan kedamaian negara. Fungsi upacara pekelem adalah sebagai beikut :

  1. Menetralisir kedurmenggalan. Ke- durmenggala-an adalah kejadian yang membahayakan umat manusia seperti : mati salah pati, mati ngulah pati. Seperti yang terungkap dalam Lontar Lebur Sanga ( Widana,2006 :130 ).
  2. Menetralisir kaprewesan. Kaprewesan adalah kekuatan-kekuatan bhuta kala yang bersifat negatif dan sangat mengganggu kehidupan manusia. Misalnya dalam membuka pekarangan baru orang Bali pantang terhadap pekarangan nomplok rurung , apit tukad, berdampingan dengan Balai Banjar, seperti yang diungkapkan dalan Lontar Sengara Bhumi.
  3. Penetralisir merana. Umat Hindu masih percaya bahwa, jika seandainya terjadi gejala alam yang sampai dapat mengganggu ketentraman manusia seperti hama burung, tikus, walang sangit, wereng dan sejenisnya, maka masyarakat segera melaksanakan “Caru “ untuk menetralisir keadaan tersebut. Artinya mereka segera mohon penyupatan kepada manusia. Mahluk itu beranggapan bahwa hanya manusialah yang bisa mengerti dengan keinginannya apa yang mereka lakukan. Hal terungkap dalam Lontar Kutara Kanda Purana Bangsul.
  4. Berfungsi sebagai Pengeruat ( pensucian ). Upacara pengeruat/pensucian memiliki tujuan seperti di bawah ini :
    • Pensucian terhadap Bhuana Alit . Upacara pecaruan yang berfungsi untuk mensucikan bhuana alit. Dalam hal ini memilki makna yang tinggi sehubungan dengan karakteristik manusia yang bersifat asuri sampad agar bisa disucikan atau dinetralisasi pengaruh-pengaruhnya yang bersifat negatif. Contoh : Caru potong gigi, otonan, menek kelih ( ngeraja Sewala)
    • Penyucian terhadap Bhuana Agung. Penyucian Bhuana Agung memiliki makna untuk terujudnya keharmonisan alam semesta dengan segala isinya agar tercipta tujuan Tri Hita Karana. Misalnya caru ini dilaksanakan upacara piodalan pemerajan, panti, penunggun karang dan lain-lain.
  5. Berfungsi sebagai Titimamah . Caru sebagai Titimamah memiliki makna sebagai pengutpeti ( pengastawa ) ke hadapan Brahman dalam manifestasinya sebagai Bhatara ( pelindung ) sesuai wujud bangunan suci agar beliau berstana pada bangunan suci tersebut . Terungkap dalam Lontar Widhi Sastra Medang Kemulan.
  6. Berfungsi sebagai penetralisir/ menyomiakan Bhuta, yaitu dengan persembahan yang tulus ikhlas berupa caru, hal ini terungkap dalam Lontar Sundarigama

Pada kehidupan masyarakat Hindu di Bali, umumnya istilah-istilah caru dan sarananya diatas sudah dikenal. Yang perlu diberikan pemaknaan, bahwa semua jenis caru baik yang tingkatannya yang paling besar sampai pada yang paling kecil memakai sarana pasu. Pada jenis caru yang berskala besar ( Panca Bali Krama ) memerlukan binatang-binatang pilihan yang umumnya di Bali sangat susah di cari. Salah satu contoh misalnya burung garuda, burung ini di Bali tidak ada yang mengenal, mereka hanya mengenal burung garuda sebagai lambang negara yang dapat di beli di pasar dan swlayan. Namun kenyataannya setiap ada upacara besar di Bali masyarakat ada saja yang kedatangan burung itu. Realitas seperti ini menandakan adanya suatu kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa dulunya binatang itu belum kita kenal, akhirnya dengan adanya upacara besar kita mengenal dengan sendirinya wajah-wajah binatang kurban itu.

Daftar Pustaka

Alih Aksana Lontar Bhama Kertih 1976 Gianyar: Badan Pelaksana Pembina Lembaga Adat Kabupaten Daerah Tk. II Gianyar.

Darmayasa, 1993, Keagungan Sapi Menurut Weda.

Goris, R, 1951-52, Prasasti Bali I

Kartodirdjo, Sartono. 1975. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta :

Depdikbud.

Mantra, IB. 1970. Bhagawad Gita, Alih Aksara dan Penjelasannya.

Phalgunadi, Prof.Dr. Lit. I Gusti Putu M.A.Ph.D. 2006. Tantrayanan ( Peper )

Hasil Ceramah Tantrayana pada Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan. Denpasar : UNHI Denpasar.

Phalgunadi, Prof.Dr. Lit. I Gusti Putu M.A. Ph.D. 2001 Pasu Yadnya Dalam

Jaman Weda di India ( Terjemahan ). New Delhi

Raka, Anak Agung Gde 2008 Fungsi Sapi Dalam Upacara Pekelem di Bali.

Makalah disampaikan Dalam Seminar Akademik UNHI Denpasar.

Mardiwarsito, 1981 Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah

Suwandra, 1976 Alih Aksana Lontar Bhama Kertih Gianyar: Badan Pelaksana Pembina Lembaga Adat Kabupaten Daerah Tk. II Gianyar.

Tim Penyusun 1991 Kamus Bali Indonesia. Denpasar: Dinas Pendidikan Propinsi Bali

Wikarman, 1998 Caru Pelemahan dan Sasih. Surabaya : Paramita

Widana, 2006 Upacara Mulang Pakelem di Danau Segara Anak Gunung Rinjani Lombok Suatu Kajian Teologi

Perspektif Hindu. Surabaya: Paramita.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.