Penggunaan Dupa di Bali

71 views
banner 468x60

Penggunaan Dupa Batang di Bali

dupa-batang-bali

Orang Bali umumnya sangat akrab dengan penggunaan dupa batang, tetapi tidak semua orang mengetahui sejarah dan cara penggunaannya secara lebih mendalam.

Dupa batang pertama kalinya ditemukan di areal situs sungai sindus (india). Para arkeolog mengemukakan bahwa penggunaan dupa batang sudah ada sejak jaman peradaban Sungai Indus, yaitu antara tahun 3.300 s/d 1.300 SM. Catatan tertulis tertua mengenai penggunaan dupa batang untuk upacara dan sembahyang terdapat dalam kitab suci Rig Veda dan Atharva Veda, sedangkan penggunaan untuk pengobatan (aroma terapi) terdapat dalam kitab suci Ayur Veda. Di India dupa batang disebut "agarbhati" atau agaravarthi, sedangkan saat digunakan untuk upacara dan sembahyang disebut "dhupa".

Ketika Agama Buddha lahir di India pada sekitar tahun 400 SM, penggunaan dupa batang ikut menjadi bagian tidak terpisahkan dalam tata cara Buddha. Pada tahun 200 M, sekelompok bhiksu pengembara dari India memperkenalkan penggunaan dan cara pembuatan dupa batang ke China. Pada jaman dinasti Ming (1368 - 1644 M)  penggunaan dupa batang sudah sangat luas dipakai di China. Pada sekitar awal masa itu juga, dari China penggunaan dupa batang menyebar ke Jepang.

Jika berkenan untuk menggunakan dupa secara lebih mendalam, Umat di Bali umumnya mengenal tata cara penggunaan dupa yang mungkin saja ini merupakan hasil akulturasi budaya dengan faham Budha Wajrayana yang sudah menyatu menjadi Siwa-Budha atau Gamabali. Terdapat simbol atau kode niskala di dalam pewarnaan dupa batang yang kita pakai, yaitu :

  • Dupa batang warna kuning atau coklat muda alami untuk sembahyang dan persembahan umum.
  • Dupa batang warna merah untuk sembahyang dan persembahan yang khusus memohon sesuatu.
  • Dupa batang warna hitam untuk menemani kita saat meditasi atau menjapakan mantra.
  • Dupa batang warna hijau untuk sembahyang dan persembahan [upacara] bagi orang meninggal.

Selain itu, terdapat simbol atau kode niskala berapa batang jumlah dupa yang kita haturkan dalam persembahan, yaitu :

  • 1 batang untuk persembahan umum di tempat suci atau palinggih di dalam lingkungan rumah, misalnya saat kita mebanten.
  • 3 batang untuk persembahan umum di tempat suci di luar lingkungan rumah.
  • 5 batang untuk persembahan di tempat usaha atau dagang.
  • 7 batang untuk persembahan yang kita khusus memohon sesuatu secara spesifik.
  • 9 batang untuk persembahan saat kita melakukan puja mantra kepada para Ista Dewata.
  • 11 batang untuk persembahan ke seluruh penjuru alam semesta, agar semua makluk di alam semesta mendapatkan kebahagiaan.

yang perlu diperhatikan saat penggunaan dupa bali dalam bentuk batangan:

  • Menghaturkan dupa batang usahakan berjajar seperti kipas (seperti halnya tradisi budha).
  • Mantra saat meletakkan dupa batang (untuk memuja Bhatara Agni):  "Ong Ang dhupa dipa astra ya namah swaha"
  • Mantra saat ngayabang (menghaturkan) dupa batang "Om agnir agnir jyotir swaha, Om dupam samarpayami swaha".
  • Letakkan dan haturkan dupa batang dengan penuh rasa hormat

Memuja Dewa Agni dengan PASEPAN

Pasepan adalah Homa Yadnya - Pasepan, salah satu bentuk pemujaan Dewa Agni yang dikenal oleh masyarakat Bali Kuno

esensi penggunaan dupa batangan adalah API, tetaplah seperti upacara yadnya lainnya, ini sebagai miniatur dari Agnihotra atau homa yadnya yang intinya adalah sebagai sarana memuja Dewa Agni (Dewa Api)

Pasepan Bali

Di Bali dupa disebut juga PASEPAN yang berasal dari kata ASEP yang artinya ASAP.

Sebelum dupa dalam bentuk HIO (Dupa Batang) populer bagi umat Hindu Bali pada masa lampau pa-DUPA-an ataupun pa-ASEP-an adalah berbentuk tungku tanah liat dengan tangkai dibawahnya, untuk meredam panas dan agar mudah dipegang. Pada tungku tanah liat inilah berbagai kayu yang memiliki aroma harum dibakar dan dicampurkan pula berbagai bahan lain berupa menyan, bunga-bunga harum dll, untuk memperkuat aroma harum. Kayu dibakar dan sangat diupayakan agar yang muncul hanyalah kepulan ASAP dan karena itulah Dupa disebut juga Pa-ASEP-an yang berasal dari kata ASEP (asap).

Entah sejak kapan DUPA HIO digunakan diBali dan siapa yang mempopulerkan pertamakali memang masih menjadi misteri. Ada asumsi yang beranggapan bahwasanya penggunaan Dupa/Hio adalah salah satu bentuk akulturisasi budaya dengan negeri TIONGKOK. Beberapa tulisan menyebutkan bahwasnya prototype (bentuk awal) Dupa telah digunakan oleh peradaban MESOPATMIA 4000 tahun lalu untuk berbagai keperluan ritual keagamaan, tetapi para ahli menyimpulkan bentuk/perinsip dasar dupa telah ada jauh sebelum peradaban Mesopotamia yaitu di peradaban Lembah Sungai SHINDU. Peradaban inilah yang nantinya melahirkan SANATANA DHARMA yang kelak lebih dikenal sebagai HINDU.

Leluhur Bali Kuno tampaknya tidak serta merta menerima langsung setiap budaya baru yang hendak masuk dan berkembang dalam peradaban Bali. Setiap pengetahuan baru selalu dilakukan proses filtrasi terlebih dahulu sebelum diterima. Begitu juga dengan Produk Hio yang dijadikan DUPA oleh leluhur Bali adalah karena memiliki prinsip yang sama dengan DUPA BALI. Itulah salah satu kebijakan leluhur kita di masa lampau yang tetap menerima perkembangan jaman (pengaruh luar) tentunya dengan tetap melakukan seleksi berdasarkan kebijakan lokal.

DUPA dalam ajaran Gama Bali (Hindu) bukan hanya sebagai SARANA penting disetiap Upacara, tetapi adalah juga sebagai salah satu simbol ASTRA (senjata Gaib) yang mewakili kekuatan Dewa Maheswara salah satu bagian dari Panca Rudra. Berada pada kiblat Kelod Kangin (Tenggara) dengan warna Merah Muda (dadu).

Pasepan adalah Homa Yadnya

Pasepan merupakan salah satu aplikasi HOMA YADNYA - Agnihotra dibali. Pasepan, salah satu bentuk pemujaan Dewa Agni yang dikenal oleh masyarakat Bali Kuno

Di Bali dupa disebut juga PASEPAN yang berasal dari kata ASEP yang artinya ASAP.

Sebelum DUPA dalam bentuk HIO (dupa batang) populer bagi umat Hindu Bali pada masa lampau pa-DUPA-an ataupun pa-ASEP-an adalah berbentuk tungku tanah liat dengan tangkai dibawahnya, untuk meredam panas dan agar mudah dipegang. Pada tungku tanah liat inilah berbagai kayu yang memiliki aroma harum dibakar dan dicampurkan pula berbagai bahan lain berupa menyan, bunga-bunga harum dll, untuk memperkuat aroma harum. Kayu dibakar dan sangat diupayakan agar yang muncul hanyalah kepulan ASAP dan karena itulah Dupa disebut juga Pa-ASEP-an yang berasal dari kata ASEP (asap).

Entah sejak kapan DUPA HIO digunakan diBali dan siapa yang mempopulerkan pertamakali memang masih menjadi misteri. Ada asumsi yang beranggapan bahwasanya penggunaan Dupa/Hio adalah salah satu bentuk akulturisasi budaya dengan negeri TIONGKOK. Beberapa tulisan menyebutkan bahwasnya prototype (bentuk awal) Dupa telah digunakan oleh peradaban MESOPATMIA 4000 tahun lalu untuk berbagai keperluan ritual keagamaan, tetapi para ahli menyimpulkan bentuk/perinsip dasar dupa telah ada jauh sebelum peradaban Mesopotamia yaitu di peradaban Lembah Sungai SHINDU. Peradaban inilah yang nantinya melahirkan SANATANA DHARMA yang kelak lebih dikenal sebagai HINDU.

Leluhur Bali Kuno tampaknya tidak serta merta menerima langsung setiap budaya baru yang hendak masuk dan berkembang dalam peradaban Bali. Setiap pengetahuan baru selalu dilakukan proses filtrasi terlebih dahulu sebelum diterima. Begitu juga dengan Produk Hio yang dijadikan DUPA oleh leluhur Bali adalah karena memiliki prinsip yang sama dengan DUPA BALI. Itulah salah satu kebijakan leluhur kita di masa lampau yang tetap menerima perkembangan jaman (pengaruh luar) tentunya dengan tetap melakukan seleksi berdasarkan kebijakan lokal.

DUPA dalam ajaran Gama Bali (Hindu) bukan hanya sebagai SARANA penting disetiap Upacara, tetapi adalah juga sebagai salah satu simbol ASTRA (senjata Gaib) yang mewakili kekuatan Dewa Maheswara salah satu bagian dari Panca Rudra. Berada pada kiblat Kelod Kangin (Tenggara) dengan warna Merah Muda (dadu).

Dupa PASEPAN adalah AGNI

Menurut TATTWA GAMA BALI penggunaan Dupa dalam setiap rangkain Upacara adalah mewakili kekuatan AGNI yaitu Dewa API. Disetiap prosesi Upakara diBali selalu menyertakan Agni dengan berbagai wujud misalnya; Linting, Dupa, Api Takep, Obor-obor, Damar Kurung, Damar Sentir, Tatimpug dan lain-lainnya.

Berbagai bentuk AGNI pada sarana upakara dapat dikelompokan menjadi dua yaitu menggunakan Agni yang berwujud NYALA API (linting, Dipa, damar kurung dll) dan Agni yang berwujud ASAP (pasepan, DUPA).

Penggunaan AGNI berwujud Nyala API terlihat pada Banten Pungu-pungu, pada Tebasan Agni Nglayang, AGNI (nyala api) dibuat dari sarana yang disebut Lilit Linting (kapas dipelintir pada tangkai janur).

AGNI dalam Bentuk ASAP tentunya diwakili oleh Dupa dan Pasepan yang lebih mengutamakan kepulan ASAP pada setiap ritual keagamaan.ini banyak dapat kita lihat ritual dikeseharian, baik di canang maupun banten yang selalu menggunakan dupa.

Menurut kitab PRATIMA KOSHA, salah satu gelar Dewa Agni adalah Dhume-Ketu yang artinya Dewa yang memiliki mahkota berupa asap (dhume), maka dari itu tidak ada bedanya antara ASAP dan API, adalah sama-sama MURTHI (perwujudan) Hyang AGNI.

Jargon ada ASAP ada API adalah juga menandakan kaitan antara AGNI dan DHUME yang tiada terpisah.

Ong Ang Astra Kala Gni Rudra ya Namah

adalah Salah satu mantra penting yang digunakan untuk memuja Agni dalam bentuk DUPA yang bermakna sembah pemujaan kehadapan Dewa Agni berwujud sanjata dengan kekuatan KALA dan RUDRA.

Mantram ini khusus diucapkan oleh Dalang Sapuh Leger ketika melakukan Ruwatan Sudha-Mala. Selain menggunakan wujud AGNI sebagai Dhumeketu (Dupa) atribut penting Dalang sebagai simbol AGNI adalah pemakaian Damar Blencong (lampu tradisional khusus untuk pertunjukan wayang).

Dalam konteks sastra dupa adalah aksara tattwa dan dipa adalah sakti tattwa, sebab datangnya dupa dari alam semesta, sedang dipa dari ardha candra gunanya untuk meneguhkan, memantapkam, menajamkan sembah. Ardha candra adalah hulu lambng purusa dari ongkara sedang Omkaranya lambang pradana. Perhatikan weda pendeta disaat melaksanakan surya sevana di pagi hari; yang disebut mantra asep; itulah seruan suci memohon kepada dewa agni untuk menyucikan dan mempersilahkan memimpin upacara.

Ajaran suci mengenai agni itu juga nampak pada tri sadaka; sang katrini; tiga pendeta sebagai pemimpin upacara di bali; ketiga dianugrahi senjata yakni:

  • sang siwa senjatanya agni angalayang,
  • sang budha geni sinarasara,
  • sang bujangga bersentakan Gnisara.

Dengan gni itu, ketiganya menyucikan tri bhuwana, di sebut juga dengan tri bhuwana katon (usana bali).

Dalam buku sara samhita kirana (naskah – terjemahan – penjelasan) Weda Parikrama oleh G. Puja MA SH, Lembaga penyelanggara penterjemah kitab suci Weda (halaman 241) dijelaskan bahwa dalam Sthiti Mantra, yakni proses sthiti (kesucian) bermula dari prakrti (purusha), atma (roh), matahari, dan api (agni) dari Siwa. Semuanya disimbulkan dalam aksara suci: Sa, Ba, Ta, A, I .

Kemudian C. Hooykaas dalam bukunya: Surya Sevana, the way to God of a Balinese Siva Priest, NV Noord Hollandsche Uitgevers Maatschappij, Amsterdam – 1966, menjelaskan adanya perbedaan dalam keyakinan Hindu di India (Selatan) dan di Bali mengenai kedudukan Dewa Agni.

Di Bali kedudukan Dewa Agni sejajar dengan Dewa-Dewa lainnya, dan dirangkaikan dalam Tri Mandala yang terdiri dari Agni Mandala (api), Surya Mandala (matahari) dan Candra Mandala (bulan). Para Wiku (pendeta) dari Gama Tirta (awal mula nama Agama Hindu – Bali) berpedoman pada Lontar Arga Patra yang memuat ringkasan Weda Parikrama.

didalamnya tersirat arti dupa dan dipa:

"wijil ingdhupa saken wiswa, dipa sakeng ardha candra landepi sembah" - tajamnya sembah bakti itu (dengan) dhupa yang tercipta dari wiswa (sarwa alam) dan dipa yang terdiri dari ardhacandra (bulan sabit) atau dengan istilah lainnya bahwa terwujudnya cipta pujaan itu akan dapat diintensipkan dengan mempergunakan dhupa dan dipa itu.

sehingga mantra yang digunakan adalah:

Om Am Dhupa-Dhipa Astra Ya Namah Swaha

sujud kepada A(m), dupa dan dipa, astra (itu).

kata astra dalam mantra ini maksudnya ngastiti (stiti), bukanlah astramantra.

disamping itu saat mengucapkan mantra dipa pradaksina, siwabha disucikan dengan cara siwabha-pradaksina 7 kali keliling lampu (dipa) sebagaimana dilakukan juga pada tripada. pradaksina pada dipa ini adalah merupakan simbol tuhan adalah agni tattwa (sang hyang iswara, agni tattwa sira, sang sinabah)

Dalam Lontar Arga Patra ada Mudra, yakni bentuk-bentuk gerakan tangan dan jari sebagai niyasa untuk mewujudkan Sanghyang Widhi dalam alam pikiran serta mempersembahkan atau memohon sesuatu kepada-Nya, diawali dengan pemujaan kepada Dewa Agni.

Mudra Trimandala dilakukan dengan mantra:

Om Ing Hring Sring Kpreng Asra Hung Dwadasa Kalatmane Satwa Rajo Adipata Ya Namah, Om Agni Mandala Ya Swaha.
Om Ing Hring Sring Kpreng Asra Hung Dwadasa Kalatmane Satwa Tamo Adipata Ya Namah, Om Surya Mandala Ya Swaha.
Om Ing Hring Sring Kpreng Asra Hung Dwadasa Kalatmane Satwa Tattwa Adipata Ya Namah, Om Candra Mandala Ya Swaha.

Pada akhir pemujaan ada mantra Sangkepi, di mana permohonan kesucian kepada tri mandala diwujudkan dalam bentuk dupa dan dipa, selain unsur lainnya dari panca upakara: bunga, air, ganda dan ksata.

Tegasnya, di Bali pemujaan kepada Dewa Agni tidak dilakukan dalam ritual khusus seperti agnihotra atau homa yajnya. Lontar Arga Patra itu hingga kini menjadi pegangan para Wiku Siwa, Bodha, dan Waisnawa di Bali.

Dalam tradisi yang lebih tua lagi, bagaimana pemangku melakukan 'sehe' dalam lontar Gagelaran pemangku:

"pukulun paduka bhatara brahma, bhatara wisnu, bhatara iswara, bhatara mahadewa, bhatara siwa, bhatara sadasiwa, bhatara paramasiwa, bhatara triguna sakti, bhatara maka lingganing bhuwana kabeh, malingga ring kahyangan iriki, punika pedekan para sedahan anguntap manuhur paduka bhatara dewa gana. Malejeg sang hyang homa ring kukus menyan, majagau, cendana, tumedun pada paduka bhatara bhatari ring kahyangan sakti"

satu catatan penting:

salah satu ciri dan bukti bahwa umat hindu bali sudah memuja Dewa Agni, adalah di setiap akhir mantra pemujaan selalu ada kata SWAHA yang merupakan sakti beliau dan selalu menggunakan dupa saat pengucapan mantra tersebut dalam upacara Panca Yadnya.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.