Sanggah Kemulan

223 views
banner 468x60

Sanggah Kemulan

Hampir setiap karang perumahan di Bali, pada bagian hulu atau udiknya terdapat sebuah “sanggah”. dimana  palingih disebut “Sanggah kamulan” untuk golongan tertentu disebut juga “Sanggah Kemimitan”. Sanggah Kamulan ini banyak memiliki peran dalam kehidupan masyarakat di bali. Sanggah Kemulan merupakan gambaran umum pemeluk gamabali atau lebih dikenal dengan pengikut ajaran siwa-budha. Dalam perkembangannya Sanggah Kemulan atau dikenal dengan istilah Rong Tiga, karena pada sanggah ini memiliki tiga ruangan (rong).

Karena sanggah tersebut selalu letaknya pada udik atau hulu dari karang, maka disebut juga “Panghulun Karang”. adanya sanggah kamulan selalu berdampingan dengan Sanggah Taksu. sehingga dalam keseharian, masyarakat bali lebih failiar menyebut Pamerajan Alit dengan sebutan Sanggah Kamulan Taksu.

Belakangan ini, di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir praktis, membangun Rumah untuk keluarga kecilnya tanpa membangun Sanggah Kamulan Taksu, Cukup dengan Padmasari (padmasana) saja, bahkan ada yang lebih ekstrem dengan hanya membuat kamar suci saja. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, baik karena persoalan tanah (BTN 1 are), biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya. itu semua tidak salah, namun keliru.

Melalui artikel ini akan dicoba membangun pemahaman betapa Pentingnya Sanggah kemulan Taksu ini. Bagi para pembaca yang berniat membuat sanggah untuk rumah barunya, sebaiknya membaca artikel sederhana ini. Arti Kata Sanggah Kemulan

Secara etimologi kata, Sanggah Kamulan terdiri dari dua buah kata yaitu:

  • Sanggah, dan
  • Kamulan.

Sanggah adalah perubahan ucapan dari pada “sanggar”, arti sanggar menurut pengertian lontar keagamaan di Bali adalah tempat memuja. Misalnya dalam lontar Sivagama disebutkan “nista sapuluhing saduluk sanggar pratiwi wangun” (Rontal Siwagama, lembar 328). Kamulan berasal dari kata “mula” (sanskrit), yang berarti; akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Awalan ka-, dan akhiran –an menunjukkan tempat pemujaan asal atau sumber.

Sanggah Kamulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber, Hyang Kamulan atau Hyang Kamimitan.

Kamimitan berasal dari kata Wit, (huruf m adalah sekeluarga huruf W).

Kamimitan adalah lain ucapan dari kata kawiwitan, berasal dari kata wit, yang berarti asal atau sumber pula (Wikarman, 1998: 2). Dengan pengertian ini sebenarnya kita sudah dapat menarik atau menyimpulkan bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan itu tidak lain yang merupakan sumber atau asal dari mana manusia itu ada.Asal-usul pelinggih Sanggah Kemulan

Asal usul Sanggah kemulan (rong telu) ini belum ditemukannya titik terang, ada yang mengatakan sebagai peninggalan dari ajaran budha yang bersumber dari kerajaan medang kemulan, dengan bukti digunakannya kata "kemulan" untuk menamai tempat pemujaan ini, ada juga yang menafsirkan bahwa Sanggah Kemulan didirikan pada masa Mpu Kuturan saat menggabungkan pemahaman 9 sekte/sampradaya yang pernah ada dibali lewat parum agung di pura samuhan tiga, gianyar. Hubungan Sanggah Kemulan dan Proses Penciptaan

Awalnya tidak ada tapi ada, tuhan disebut: Sat. Om tat sat.
Kemudian melalui yadnya, tuhan membentuk dirinya menjadi potensi penciptaan, pemelihara dan pelebur yang bersimbul ONGkara. inilah yang kemudian disebut SangHyang Kawitan (sumber penciptaan), Sang Hyang Guru (yang maha mengetahui dan guru utama), Sang Hyang Urip (Sumber Kehidupan dan semua yang bergerak).

untuk menciptakan tuhan mewujudkan dirinya menjadi Rwa Bhineda (yang dua merupakan tunggal) : Ang-Ah.

  • ANG merupakan Sanghyang Meme (Predana, Ibu), merupakan Bumi (Ibu pertiwi), tempat berpijak.
  • AH merupakan Sanghyang Bapa (Purusha, Ayah). merupakan Langit (Bapa Akasha), diatas kepala.
    Inilah kemudian desebut Ardhanareswari. Ang-Ah menjadi star david ajaran yahudi, yang / brahman menjdi ajaran sarak selam.

Bersatunya Hyang Meme (predana) dan Hyang Bapa (purusha) mewujudkan Tri Kona: Utpeti-Stiti-Pralina, yang merupakan mekanisme umum penciptaan. ini kemudian menjadi Tri Murti, yaitu:

  • Ang adalah Agni (api), simbolkan Penciptaan (Utpeti), yang dalam perkembangannya dikenal sebagai Bhatara Brahma.
  • Ung adalah Undaram/Ugra (air), simbol Pemelihara (Stiti), selanjutnya disamakan dengan Bhatara Wisnu.
  • MAng adalah MArut (Udara/Angin), simbol Pemurnian/pralaya (Pralina), selanjutnya dikenal sebagai Bhatara Iswara (Siwa).

Ongkara, Ang-Ah dan Ang-Ung-MAng inilah yang distanakan di kemulan, yang merupakan sumber dari sumber yang ada,

Dari tri murti, barulah dimulai penciptaan secara sekala,dimana manusia merupakan ciptaan yang sempurna melebihi ciptaan tuhan lainnya. adapun unsur pembentuk manusia adalah:

  • purusha gunacitta merupakan aspek dualisme manusia, baik-buruk, tinggi-rendah, kaya-miskin dll
  • Tri Guna yang merupakan sifat manusia yaitu Agresif (Rajas), Malas (Tamas) dan Tenang (Satwam).
  • Panca Tan Matra yang merupakan unsur saraf manusia yaitu Rasa, Bau, Rupa, Sentuhan dan Suara
  • Panca Mahabhuta yang merupakan pembentuk tubuh manusia yaitu: unsur padat (pertiwi), unsur cair (apah), unsur cahaya (teja), unsur panas tenaga (bayu) dan unsur pengikat unsur lainnya (akasha).
  • Panca Tanmatra dan Panca Mahabhuta menyatu memunculkan Dasendria yaitu mata, hidung, telinga, lidah, kulit, mulut, tangan, kaki, dubur dan kemaluan

itulah 25 Guna yang membentuk manusia. 25 guna ini merupakan unsur/sifat material (prakerti) dari proses penciptaan. Akibat 25 Guna ini, Sang Atma (Sang Hyang Urip) yakni Tuhan dalam diri manusia terikat dan terpengaruh oleh maya, menyebabkannya keluar dari sifat aslinya. Sifat kemahakuasaan dan kekuatanNya (sakti) semakin berkurang. Dengan Kriya Sakti – Nya, energi Tuhan itu secara terus menerus mengalir pada ciptaannya. Dari energy yang paling halus sampai yang paling kasar, begitu sebaliknya, namun kita tidak pernah menyadarinya. Hal inilah yang menyebabkan manusia terbelenggu oleh ikatan duniawi dan jatuh pada jurang kesengsaraan.  Untuk dapat kembali ke jati diriNya, maka manusia haruslah ingat dengan kewajibanNya (sesana). Dengan menjalankan Kewajibannya, saai itulah Manusia yang disebut Jatma menjadi soso Manusa (manut sesana). Saat itulah si Manusia disebuat Manusa Sakti. Jadi Manusa pada dasarnya berasal dari Hyang Guru yang diwujudkan lewat Sanggah Kemulan.
Sanggah Kemulan dipandang dari sisi Ajaran Siwa-Budha

Pandangan ajaran siwaisme, Sanggah Kemulan merupakan simbol dari penyatuan tiga unsur, yaitu:

  • Agni, yang artinya "Api", dengan aksara suci "A", kemudian menjadi ANG
  • Udaka, yang artinya "Air", dengan aksara suci "U", kemudian menjadi UNG
  • Maruta, yang artinya "Udara/angin", dengan Aksara "M", Menjadi MANG

dari tiga Aksara suci tersebut, muncullah pangringkes Tri Aksara "AUM" yang bersumber pada gabungan "Ang Ung Mang", dan apabila dilafalkan menjadi "OM". Dengan Memahami bahwa Sanggah Kemulan adalah Simbol Tri Aksara, maka Sanggah Kemulan dapat dijadikan tempat memohon obat"Usadha", karena dalam pemahaman gamabali, sumber penyakit juga ada tiga yaitu:

  • Panes/Gerah (panas), yang bersumber dari unsur api
  • Tis (dingin), bersumber dari unsur air
  • Sebaa (antara panas dan dingin), merupakan kombinasi api dan air, faktor utamanya angin.

Pandangan Ajaran Budha, Sanggah Kemulan merupakan simbol tiga mustika sang budha yaitu Budha, Darma dan Sangha, yang perkembangannya disebut dengan stana Sang Tri Ratna, yang dikenal juga dengan istilah Ratnatraya atau Tiratana. Dalam pandangan ajaran budha yang sudah meresap dalam gamabali, Sanggah Kemulan merupakan stana dari sang buddha (guru) dimana:

  • rong tengen, linggih Bodhisatva Avalokitesvara,
  • rong kiwa, linggih Bodhisatya Vajrapani,
  • madya, linggih Buddha Gotama

kemudian dalam perkembangannya, penstanaan sang budha menjadi:

  • sisi kelod, linggih Vajrapani,
  • sisi uttara,linggih Avalokitesvara,
  • tengah, linggih Vairocana.

Kalau kita renungkan lebih mendalam, tentang Sanghyang Tri Atma seperti disebutkan pada Gong Wesi dan Usana Dewa, maka pengertian Hyang Kamulan sesungguhnya akan lebih tinggi lagi. Karena telah disebutkan bahwa Penyatuan Sanghyang Tri Atma adalah hyang Tuduh/Tunggal yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta. Di samping itu, ketiga tingkatan Sanghyang Tri Atma itu juga ditinjau dari segi filsafat Siwa Tattwa, maka “atma” adalah yang menjadikan hidup pada mahkluk. Sivatma adalah sumber atma di alam nyata (sekala) ini. Sedangkan Paratma adalah sumber atma (roh) di alam niskala. Ia adalah atma tertinggi. Ia adalah Tuhan menurut sistim yoga. Ia adalah identik dengan Paramasiva dalam Siva Tattwa. Dalam sistim wedanta ia adalah Tuhan Nirguna Brahma. Dalam mantram “Sapta Omkaratma” disebutkan yang dimaksud dengan Tri Atma, adalah:

  • Am, Atma dewanya Brahma,
  • Antara atma dewanya Wisnu, dengan wijaksaranya Um, dan
  • Parama atma dewanya adalah Iswara dengan wijaksaranya Mang.

Ketiga dewa tersebut dalam sekte Siwa Sidhanta umum disebut Tri Murti. Ketiga dewa tersebut adalah merupakan roh alam semesta. Sebagai roh (atma) alam semesta ia adalah juga bergelar Tri Purusa atau Trilingga. Dikarenan Sanggah Kemulan adalah linggih Ida Hyang Tri Purusa, maka mantra pada saat memuja beliau di Sanggah Kamulan atau Kawitan adalah sebagai berikut:

Om Dewa-dewi Tri Dewanam
Tri Murti Tri Lingganam
Tri Purusa Suddha Nityam
Sarwa jagat Jiwatmanam.
(Anandakusuma: 45)
Om Dewa-dewi yang bergelar Tri Dewa, adalah Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara) yang juga Tri Lingga, Tri Purusa yang suci selalu, adalah roh (atma) atau semesta beserta isinya (jagat).

Sesungguhnya yang merupakan jiwa (atma) atau roh dari jagat kita ini termasuk mahkluk hidup utamanya manusia adalah beliau yang bergelar Tri Murti., Tri Purusa dengan wujud Trilingganya. Sebagai roh (atma) dengan sendirinya beliau itu adalah Ida Hyang Widhi, yang didalam penunggalan-Nya adalah Ida Hyang Widhi, yang di dalam lontar Usana Dewa dan Gong Wesi disebut Hyang Tuduh / Hyang Tunggal atau Brahma sebagai pencipta alam dengan isinya termasuk manusia.

Siwa adalah Tuhan dalam dimensi imanen (sakala), Sadasiwa adalah Tuhan dalam dimensi sakala-niskala (Ardenareswara), sedangkan Paramasiwa adalah Tuhan dalam dimensi niskala (transcendental). Siwa dalam ketiga wujud di atas, dalam lontar Siwagama digelari Batara Guru, karena beliau (Siwa) menjadi “Dang Guru ing Iswara” di jagat kita ini. Konon gelar Batara Guru dihaturkan oleh murid beliau terpandai yakni Dewa Surya, setelah Dewa Surya dianugerahi gelar Siwa Raditya oleh Siwa sendiri sebagai Dang Guru (Wikarman, 1998: 12). Oleh karena Siwa beraspek tiga, sebagai Tri purusa maka Guru pun ada tiga aspek pula, yakni Guru Purwam, Guru Madyam, Guru Rupam. Guru purwam, guru dalam dimensi niskala, Guru Madyam, guru dalam dimensi sakala-niskala, sedangkan Guru Rupam, adalah guru dalam dimensi sakala. Tri Guru, dalam mantram “ngaturang bakti ring kawitan” juga merupakan objek yang dipuja, seperti dinyatakan:

Om Guru Dewa Guru Rupam

Guru Madyam Guru Purwam

Guru Pantaram dewam

Guru Dewa Sudha nityam. (Anandakusuma, Dewayadnya: 45)
Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (sakala), Guru Madya (sakala-niskala) dan Guru Purwa (niskala) adalah guru para dewa. Dewa Guru Suci selalu

Jadi melihat uraian dan kutipan mantra di atas, jelaslah bagi kita bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan pada hakekatnya adalah Tuhan/Sang Hyang Widhi, baik sebagai Hyang Tri Atma, yang sebagai roh (atma) alam semesta dengan isinya (jagat) yang dewanya adalah Brahma, Wisnu dan Iswara, yang merupakan aspek Tuhan dalam bentuk horizontal dan Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, aspek Tuhan dalam bentuk vertikal (Tri Purusa). Sebagai Tri Purusa beliau juga disebut Guru Tiga. Oleh karenanya umum juga menyebutkan bahwa Sanggah Kemulan “sthana” Bhatara Guru/Hyang Guru.

Dengan demikian pengertian Kamulan atau Kawitan sesungguhnya mengandung pengertian yang sangat tinggi, yang merupakan asal muasal manusia yang tidak lain dari Ida Sang Hyang Widhi sendiri dengan semua manifestasinya. Fungsi Sanggah Kemulan

Dalam Lontar Siwagama Sargah sepuluh menyatakan sba:

"...kramania Sang Pitara mulihing batur Kamulania nguni..."

Karena itulah sang Pitara Sang Pitpara pulang ke asal Kamulannya dulu. Hal yang menyatakan lebih tegas lagi bahwa Pelinggih Kamulan sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Atma adalah Lontar Purwa Bumi Kamulan. Lontar ini menguraikan tata cara upacara Nuntun Dewa Hyang di Kamulan. Lontar ini menguraikan amat rinci tentang tata cara menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan.

Dalam Lontar Gayatri dinyatakan saat orang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah melalui prosesi upacara ngaben roh tersebut disebut Pitra. Setelah melalui upacara Atma Wedana dengan Nyekah atau Mamukur roh itu disebut Dewa Pitara. Upacara ngaben dan upacara Atma Wedana digolongkan upacara Pitra Yadnya. Sedangkan upacara Ngalinggihang atau Nuntun Dewa Hyang dengan menstanakan Dewa Pitara di Pelinggih Kamulan sudah tergolong Dewa Yadnya. Roh yang disebut Dewa Pitara itu adalah roh yang telah mencapai alam Dewa. Karena Sang Hyang Atma yang sudah mencapai tingkatan Dewa Pitara diyakini setara dengan Dewa.

Menstanakan Dewa Pitara di Kamulan juga dinyatakan dengan sangat jelas dalam Lontar Purwabhumi kamulan, Lontar Pitutur Lebur Gangsa dan Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa.

dinyatakan bahwa Sanggah Kamulan adalah tempat Ngunggahang Dewapitara,

… iti kramaning anggunggahaken pitra ring kamulan …” (Rontal Purwabhumi Kamulan, lembar 53).

Dalam Lontar Pitutur Lebur Gangsa dinyatakan sbb:

"...muwang ngunggahang dewa pitara ring ibu dengen ring kamulan.."

Sedangkan dalam Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa dinyatakan sbb:

"...muwah banten penyuda mala karahaken pitra ngarania angunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengen muang ring Kamulan ngaran..."

Ketiga lontar tersebut menyatakan bahwa menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan dengan istilah muwang ngunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengan ring Kamulan. Ngunggahang Dewapitara pada kamulan dimaksudkan adalah untuk “melinggihkan” atau "mensthanakan” dewa pitara itu. Yang dimaksud dengan dewa pitara adalah: roh leluhur yang telah suci, yang disucikan melalui proses upacara Pitra Yadnya, baik Sawa Wedana maupun Atma Wedana.

Ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah mengandung maksud mempersatukan dewa pitara (roh leluhur yang sudah suci) kepada sumbernya (Hyang Kamulan). Kalimat “irika mapisan lawan dewa Hyangnia nguni” mengandung pengertian bersatunya atma yang telah suci dengan sumbernya, yakni Sivatma (ibunta) dan Paratma (ayahta). Hal ini adalah merupakan realisasi dari tujuan akhir Agama Hindu yakni mencapai moksa (penyatuan Atma dengan paratma). Pemikiran tersebut didasarkan atas aspek Jnana kanda dari ajaran Agama Hindu.

Dari segi susila (aspek etika) ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan, adalah bermaksud mengabdikan/melinggihkan roh leluhur yang telah suci pada Sanggah Kamulan untuk selalu akan dipuja, mohon doa restu dan perlindungan. Atma yang dapat diunggahkan pada Sanggah Kamulan adalah Atma yang telah disucikan melalui proses upacara Nyekah atau mamukur seperti dinyatakan dalam rontal :

“… iti kramaning ngunggahakan pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung muah mamukur, ri tutug rwa wales, dinanya, sawulan pitung dinanya…”
“… Ini perihalnya menaikkan dewa pitara pada Kamulan, setelah upacara nyekah atau mamukur, pada 12 harinya, atau 42 harinya…”

Jadi upacara ngalinggihang Dewapitara adalah merupakan kelanjutan dari upacara nyekah atau mamukur itu. Tetapi karena pitara sudah mencapai tingkatan dewa, sehingga disebut Dewapitara, maka upacara ini tidak tergolong pitra yadnya lagi, melainkan tergolong Dewa yadnya.

Dari uraian di atas itu, jelaslah bagi kita, bahwa Sanggah Kamulan tempat memuja Sang Hyang Urip, yang menjadikan semua ini ada (hyang Widhi) dan tempat memuja Kawitan yang bergelar Sanghyang Ibu (ibunta) dan Sanghyang Bapa (bapanta) yang kemudian lebih dikenal dengan tempat memuja leluhur yang telah menunggal dengan sumbernya (Hyang Kamulan). Sanggah Kemulan tempat memuja Bhatara Hyang Guru

Seperti yang telah diulas dalam Dasar membangun sanggah kemulan diatas, bahwa Sanggah kemulan merupakan tempat memuja:

  • Hyang Urip (brahman), Hyang Meme (ibu) dan Hyang Bapa (bapak) - Lontar Usana Dewa
  • Hyang Atma (diri sang pemuja), Siwatma (ibu) dan Paratma (bapak) - Lontar Gong Wesi
  • Hyang Atma - lontar Purwa Bhumi Kemulan
  • Hyang Dewa Pitra / leluhur - Lontar Siwagama
  • Hyang Dewa Pitara/ leluhur - Lontar Pitutur Lebur Gangsa
  • Hyang Dewa Pitara / leluhur - Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa

Hyang Meme Hyang Bapa ataupun Dewa Pitara dalam keyakinan Gama Bali merupakan istilah yang merujuk pada roh suci leluhur yang kemudian dikenal sebagai Batara Hyang Guru. Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru yaitu:

  1. Agni, yaitu sinar suci Hyang Widhi,
  2. Atman yaitu unsur yang tersuci dalam diri manusia yang berasal dari Brahman,
  3. Mata yaitu ibu yang melahirkan kita,
  4. Pita yaitu ayah menyebabkan kita lahir, dan
  5. Acarya yaitu guru yang memberikan ilmu pengetahuan.

Hal inilah yang nampaknya di Bali menjadi ajaran Catur Guru yaitu Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wesesa. Karena Atman sebagai salah satu Guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa itulah nampaknya menjadi dasar pendirian Kamulan sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Batara Hyang Guru.

Atman dalam Upanisad adalah Brahman yang ada dalam diri makhluk hidup yang diselubungi oleh Panca Maya Kosa. Untuk menjadikan Atman itu Guru adalah melalui proses upacara ngaben, mamukur dan Nuntun Dewa Pitara. Proses upacara tersebut sebagai simbol untuk melepaskan Atman dari selubung Atman yang disebut Panca Maya Kosa itu. Dengan demikian Atman yang pada hakikatnya Brahman itu langsung tanpa halangan Panca Maya Kosa dapat menjadi Guru dan umat sekeluarga. Upacara tersebut bagaikan menghilangkan selubung mendung di langit biru yang menutupi sinar matahari sehingga sinar matahari tersebut dapat langsung memberikan penerangan pada bumi ini. Demikianlah proses upacara ngaben untuk melepaskan Atman dari selubung Stula Sarira. Upacara Atma Wedana melepaskan Atman dari selubung Suksma Sarira. Sedangkan upacara Danda Kalepasan adalah upacara untuk mengambil dosa-dosa leluhur oleh keturunannya. Dengan demikian Sang Hyang Atma tanpa selubung lagi sehingga disebut Dewa Pitara.

Upacara Danda Kalepasan di Bali ada yang menyebutnya upacara Maperas yang artinya keturunan orang yang diupacarai itu mengadopsi utang-utang karma leluhur yang diupacarai tersebut. Yang diwarisi oleh keturunan itu bukanlah berupa kekayaan materi saja. Berbagai utang karma dari leluhur itu juga harus diwarisi juga. Ini artinya pemujaan pada leluhur dalam tradisi Hindu di Bali, baik buruk, lebih kurang dari leluhur itu harus diterima sebagai warisan. Baiknya harus diupayakan untuk terus dipertahankan bahkan dikembangkan eksistensinya supaya lebih berguna bagi kehidupan selanjutnya. Sedangkan buruk dari berbagai kekurangan dari leluhur itu harus direduksi agar tidak berkembang merusak kehidupan selanjutnya.

Pengalaman adalah guru terbaik, demikian orang menyebutkan. Pengalaman yang baik dan buruk dari leluhur itu dijadikan guru dalam hidup ini. Itulah pentingnya pemujaan Batara Hyang Guru di Kamulan. Sanggah Kemulan tempat memuja Leluhur

Ilmu pengetahuan modern telah berhasil mengungkap keberadaan DNA dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai penyimpan dan penyedia informasi. Seluruh informasi yang ada dalam DNA, baik itu keahlian, pemahaman, pengalaman, pengetahuan dan lain-lain adalah sebuah garis informasi yang berkesinambungan dan diteruskan secara turun temurun. Informasi yang ada pada DNA seorang kakek dan nenek (yang tentunya juga berasal dari pendahulunya) akan diturunkan kepada seorang ayah dan ibu. Ketika seorang ayah dan seorang ibu menikah, yang dalam DNA-nya membawa informasi dari pendahulunya, akan menurunkan informasi itu kepada sang anak dalam bentuk DNA. Sehingga dalam DNA sang anak ada segudang informasi berupa pengalaman, pemahaman, kemampuan, keahlian dari beribu-ribu orang dalam garis DNA. Informasi dari DNA inilah yang kemudian mewujud menjadi tiga kecerdasan dasar yaitu logika (IQ), emosional (EQ) dan insting (PQ) – Dalam bahasa Bali : Pepineh, Pengerasa, Kleteg Bayu – Tugas sang anak adalah menggali seluruh potensi ini dalam dirinya agar dapat dipergunakan secara maksimal. Jika sebuah informasi muncul lebih dominan, maka seseorang dikatakan memiliki bakat tertentu. Seluruh informasi dalam DNA tersimpan di alam bawah sadar. Dan semua itu merupakan warisan dari leluhur. Memuja pada Kemulan adalah memuja ketiga kecerdasan dasar yang merupakan manifestasi dari informasi yang diwariskan oleh leluhur, sehingga pemahaman konsep ini tidak menyimpang dari konsep pemujaan terhadap leluhur.

Satu hal yang patut bangga sebagai orang Bali adalah leluhur orang Bali sudah memahami semua itu dalam konteks cara mereka berpikir pada jamannya. Bahkan lalu mewujudkannya dalam bentuk sanggah Kemulan Taksu dan terus mewariskannya secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dan orang Bali yang hidup pada masa sekarang seyogyanya bisa memahami ajaran-ajaran warisan para leluhurnya dalam kerangka berpikir dijaman dimana dia berada. Pokok Ajaran Gamabali - Orang Bali adalah Memuja Leluhur

Pokok ajaran Gama Bali adalah Pemujaan Leluhur, dan leluhur itulah TUHAN.
karena meyakini Leluhur itu Tuhan dan setiap Orang Bali adalah Titisan Tuhan, maka Orang Bali menyebut "AKU"-dirinya sebagai "Titi Hyang"yang kemudian menjadi Tityang atau Titiang, yang bermakna Aku adalah jembatan (titi) leluhur/tuhan (hyang) di dunia ini sebagai "jan banggul" (pijakan untuk kembali ke Hyang).

inilah jawaban, kenapa hanya manusia yang bisa MOKSA (kembali menyatu dengan Tuhan)..?

karena Manusia itu adalah:

jelmaan Tuhan (jatma) yang terikat "maya"
manusia itu bukan sinar tuhan (dewa)
manusia bukan juga kekuatan tuhan (butha),
Manusia adalah Tuhan - tat twam asi.

dan pada saatnya nanti,
saat sang Jatma (tuhan yang terlahir) sudah menjadi Manusa (memahami dirinya "manut sesana") saat itulah dia disebut:

"Manusa Sakti"

dewa ya butha ya
(Manusia adalah dewa dan juga butha kala)
dewa nembah butha nembah
(dewa dan semua yang ada menyembah manusa sakti tersebut)

inilah dasar Ajaran MOKSA

setelah manusia bali meninggal, maka ROHnya yang sudah suci/disucikan akan menyatu kembali dengan Hyang Guru/Brahman. seperti dalam "Panca Brahma: Sang (timur), Bang (selatan), Tang (barat), Ang (utara) dan Ing (tengah). ING artinya Ingsun, didalam diri atau Sang Hyang Urip atau Atma (tuhan itu sendiri). itulah sebabnya do'a untuk orang bali yang meninggal adalah "Mogi Amor Ring Acintya" semoga dapat kembali ke tuhan asalnya yang tak terpikirkan. Secara ritual ditandai dengan menanam abu sanggah urip setelah nyekah di sanggah kemulan. Salahkah Orang Bali Memuja Leluhur?

untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita sebelumnya harus memahami, siapa leluhur itu. Leluhur awalnya berasal dari Manusia, namun setelah meninggal rohnya disucikan. Roh manusia yang sudah meninggal dan disucikan tersebut, yang sebagian besar merupakan orang tua kita disebut leluhur.

Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4, disebutkan bahwa:

Apan ikang dadi wwang uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya Tinulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadanang subhakarma Hinganina kotamamaning dadi wwang ika (Sarasamuscaya 4)
Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik, demikianlah keistimewaan menjadi manusia.

Sloka tersebut merupakan penegasan dari sloka Veda, yang menyatakan bahwa idalam tubuh manusia terdapat tuhan, Tuhan merupakan orang tua manusia, yang dianggap sebagai keluarga dan kawan serta manusia disejajarkan dengan para dewata. Hal ini semakin dikuatkan oleh sloka bahwa Atman merupakan percikan/bagian dari Paratman, sedangkan para dewata adalah sinar suci Paratman yang juga Atman itu sendiri. loka-sloka yang berkaitan dengan pernyataan tersebut terdapat pada Rg Weda VIII. 83.8, Rg Weda X.13.1 dan Atharwa Weda XI.8.13.

Di dalam Rgveda dan kitab-kitab yang belakangan, kata Pitr memunjukkan pengertian ayah atau leluhur dan sedemikian sering sebagai yang menurunkan anak-anaknya ( keturunan/ Janitr), tetapi juga sekali-sekali disebutkan sebagai pelindung anak-anaknya. Dijelaskan bahwa para leluhur berpihak pada kebenaran dan kebajikan ( IV.17.17;VIII.86.4). Disebutkan bahwa Agni dinyatakan sebagai leluhur ( X.7.3), Indra lebih sayang dari seorang leluhur atau ayah ( VII.32.19., VIII.1.6). Seorang ayah (leluhur) memeluk putranya (I.38.1). Dan memangku putranya menempatkan pada pangkuannya (V.43.7), Sementara itu dinyatakan bahwa anaknya menarik kain ayahnya untuk memeluk perhatian bapaknya (III.53.2).

Dalam mantram-mantram yang lain disebutkan bahwa anak-anak (keturunannya) bila mendapatkan bahaya, sangat tergtantung pada pertolongan leluhurnya, dan menyambutnya dengan kegembiraan (X.48.1/Macdonell & Keith,1982: 526).

Lahir sebagai manusia berarti memiliki sifat ketuhanan. Manusia mengadakan kekrabatan semenjak dari rahim sang ibu. Rasa keilahian esensial pada manusia merupakan gambara khusus dalam ajaran Veda dan penghayatan spiritual. Dari segi pandangan inilah agama digambarkan sebagai "perwujudan ketuhanan yang telah ada dalam diri manusia". Disamping keutamaan fisik manusia sesuai sloka diatas, Weda juga memberikan gambaran kedekatan Manusia dengan TuhanNya. Tuhan dianggap Bapak, Ibu dan Sahabat bagi manusia. Sloka yang menyatakan hal tersebut diantaranya: Rg Veda X.82.3, Atharwa Weda II.1.3, Yayur Weda, Sama Weda 1841, Rg Veda VIII.98.11, Rg Veda X.39.6. Sloka Weda tentang pemujaan kepada Leluhur

krama/orang bali mengawali pemujaan leluhur karena beberapa hal, pertama adanya sloka dalam Upanisad, dan yang kedua adanya contoh dari itihasa. dasar sloka suci Taittiriya Upanisad I.11 yang menjadi acuan dalam pemujaan kepada leluhur yang menyatakan bahwa orang tua kita adalah dewa sekala. Dari sloka tersebut, dapat dilihat bahwa orang tua, orang yang menyebabkan kita lahir adalah dewa yang hendaknya kita puja dan hormati. atas jasa-jasa beliau kita bisa hadir didunia ini, karena itu setiap manusia memiliki kewajiban untuk mengingat hal tersebut, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pitra Rna, yaitu hutang atau kewajiban yang harus dijalankan untuk mengenang jasa-jasa orang tua kita beserta orang yang telah mengadakan orang tua kita atau leluhur.

untuk "membayar hutang" (pitra rna) kepada orang tua kita tersebut, terdapat 3 jalan, diantaranya:

  1. semasa hidup dilakukan Manusa Yadnya. Manusa Yadnya disini maksudnya dimana seorang anak/cucu selalu hormat dan melayani orang tua beserta keluarga, dimana orang tua tinggal dan saudara keluarga tempat orang tua kita dilahirkan.
  2. saat meninggal dunia dilakukan Pitra Yadnya. Pitra yadnya dilakuan, mulai dari semenjak meninggal hingga beliau disemayamkan dalam tempat suci keluarga, dan ritual terakhirnya adalah yadnya panilapatian yang maknanya mengangkat status leluhur menjadi hyang guru, sehingga beliau dapat berstana di sanggah kemulan.
  3. dan bukti besarnya ikatan cinta kepada keluarga, dilakukanlah Dewa Yadnya. Dewa Yadnya disini maksudnya, setelah leluhur menjadi hyang guru, kita anak cucu keturunannya senantiasa mengingat keberadaan beliau dengan melakukan yadnya piodalan yang artinya merayakan untuk memperingati pertama kalinya dilaksanakan dewa yadnya untuk sanggah kemulan tersebut.

seruan melakukan yadnya kepada leluhur juga tersirat dalam kekawin ramayana. Dari sebelum kita lahir kita sudah diupacarai kemudian setelah lahir, beranjak remaja hingga akhirnya menikah juga diupacarai. Mereka sangat berperan dalam kehidupan kita. Itulah mengapa dikatakan mulai dari Orang Tua hingga keatasnya wajib untuk kita selalu berbhakti baik ketika masih hidup ataupun sudah wafat.

Dalam Kitab Sarasamuccaya, disebutkan ada empat pahala bagi mereka yang berbhakti kepada leluhur, yaitu sebagai berikut :

  1. Kirti, “kirti ngaran paleman ring hayu” artinya selalu dipuji dan didoakan untuk mendapatkan kerahayuan.
  2. Ayusa, “ayusa ngaraning urip” artinya berumur panjang atau dapat dikatakan senantiasa akan selalu dalam keadaan sehat.
  3. Bhala, “bhala ngaraning kesakten’ artinya sakti atau kesaktian. Sakti disini ialah dalam arti kita akan menjadi pribadi yang kuat mental / tangguh dalam menjalani hidup.
  4. Yasa, Jasa akan selalu meninggalkan yang baik.  Bagi mereka yang berbhakti kepada leluhur maka akan meninggalkan jasa-jasa baik kepada keturunannya maupun masyarakat luas.

Dari keempat pahala diatas yang telah disebutkan dapat disimpulkan berbhakti kepada Leluhur adalah suatu hal yang baik. Melaksanakan atau menjalani hal yang baik maka kita pun akan mendapatkan hal yang baik. Karena hidup kita didasari oleh Karma. Berbhakti kepada leluhur dalam rangka berbhakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbhakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbhakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa. Karena itu, berbhakti kepada bhuta, pitra dan dewa dalam rangka berbhakti kepada Tuhan.

Dalam Manawa Dharmasastra ada sloka yang menyatakan, bakti kepada leluhur mendahului berbhakti kepada Tuhan. Karena bhakti sebelumnya akan memperkuat bhakti selanjutnya. Jika diambil contoh misalnya, ketika ada seorang anak yang begitu berbhakti kepada orang tuanya maka tentu si anak akan menjadi lebih berbhakti kepada Tuhan yang telah menciptkan orang tuanya. Jadi menurut kami berbhakti (pemujaan) kepada Leluhur bukanlah disamakan dengan menduakan Tuhan akan tetapi sebaliknya yaitu bertujuan untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan.  Maka harus diingat bhakti kepada Tuhanlah bhakti yang tertinggi. Memahami Leluhur dalam Pustaka Gamabali

Shiwa sadashiwa tirthem;shiwa parama nirmalam, boddha tirthem gatem, shiwa tirthan gamanem, Igama ishwara dewa, ugama wishnu dewanem, agama brahma dewatem, mahadewa kreta jnanem.

Yang disebut gama tiga didalam sloka diatas adalah IGAMA, UGAMA, AGAMA. Igama adalah gelaraning kesukmaan, ugama adalah simaloka ning cara dijagat, sedngkan agama adalah prakerti jagat, itulah gama tiga sebagai dharma dari sangyang siwa menciptakan kerahayuan jagat

Tujuan betara siwa mengajarkan apa yang dimaksud agama tirta agar manusia tahu tentang awak sharira dirinya sendiri luar dalam, yang saling amet pinet dengan aksara tiga, adalah swalalita, modre,whehastra, aksara tiga itulah yang kemudian menjadi agama thirta yang terdiri dari UGAMA, AGAMA DAN IGAMA, KETIGANYA TIDAK DAPAT DIPISAHKAN, ugama adalah polah, agama adalah ambek, igama adalah hidep, penunggalan itulah yang bernama gama. Gama tirtha pawitra itu adalah manggala dari adanya gama.
Menurut pakem gama tirtha adalah sebagai berikut :

  • IGAMA, I adalah SHIWA, GA adalah ANGGA, MA adalah MRETHA.
  • UGAMA, U adalah UDHAKA, GA adalah GENI, MA adalah MARUTA.
  • AGAMA, A adalah AWANG-AWANG, GA adalah GENAH, MA adalah MALILANG APADHANG

Pada intinya Sangyang agama itulah yang mengadakan semuanya yang dalam konteks ini berarti penunggalan dari Igama,Ugama dan Agama.

Ajaran tentang keleluhuran tersirat dalam lontar Tutur Bhagawan Indraloka tentang tri karana yaitu rupa, wangsa dan guna. Menurut bhagawan indaloka, WANGSA adalah KAWONGANING WONG. WONG brarti manusia. KAWONGAN adalah ke-manusia-an. WANG berarti ORANG, jadi kawonganing wang adalah kemanusiaan seseorang yaitu asal usul dari leluhur “SIAPA’. Seseorang itu datang ke dunia ini sebagai manusia lebih spesifik lagi siapa BAPA, SIAPA KAKI, SIAPA KOMPI, SIAPA BUYUT, SIAPA KELAB, SIAPA CANGGAH, SIAPA WARENG. Intinya adalah keleluhuran.

Keleluhuran adalah satu fakta yang penting, mungkin seseorang tidak memiliki keturunan tetapi mustahil tidak punya keleluhuran, dimana orang tidak mungkin bisa mengandakan dirinya sendiri didunia ini, pati ada orang tua yang melahirkannya. Dlalam pandangan mistis bali, keleluhuran adalah “AGAMA” yang paling dekat. Sebagai berikut :

Yang disebut tri murti adalah brahma,wisnu iswara. Konsep tri murti sejajar dengan konsep BaKaKo adalah Bapa Kakyang Kompyang. BAPA sebagai leluhur tingkatan kesatu. Kakyang adalah leluhur tingkatan kedua, kompyang adalah leluhur tingkatan ke tiga. Hubungan TRI MURTI dengan BaKaKo adalah BRAHMA adalah bapa (BA), WISNU adalah KAKYANG (KA), ISWARA adalah KOMPIANG (KO).

Bakako itulah tiga tingkatan keleluhuran agama yang paling dekat, apabila ketiganya disatukan dengan melalui proses yoga maka pengabungan dari ketigannya itulah yang melahirkan WINDU CANDRA yang terdapat di bhrumadhya atau pertengahan alis. Inti bija aksara dari WINDU CANDRA adalah ANG AH.

Selanjutnya, diatas TRI MURTHI adalah TRI PURUSHA, yang disebut tri purusha adalah SIWA, SADA SIWA, PARAMA SIWA, konsep tri purusha sejajar dengan konsep BaKaCa. Yang dimaksud BaKaCa adalah BUYUT sebagai leluhur tingkat keempat, KELAB sebagai leluhur tingkat kelima, CANGGAH sebagai leluhur tinggkatan keenam. shiwa disejajarkan secara mistis dengan KELAB (Ba), sada shiwa disejajarkan secara mistis dengan KELAB (Ka), paramashiwa disejajarkan secara mistis dengan CANGGAH (Ca). apabila BaKaCa digabungkan menjadi satu, maka pengabungan dari ketiganya itu yang menjadi WINDU SURYA yang terletak di LALATHA atau pertengahan dahi. Inti dari WINDU SUYA adalah ONG .

Yang ada diatas tri murthi dan tripurusha adalah SHUNYA SIWA. Jadi SHUNYA SIWA adalah tingkatan ketujuh setelah brhma, wisnu, iswara shiwa,sada siwa dan parama siwa. Konsep hunya siwa dalam pandangan balidisejajarkan dengan konsep WARENG, WARENG disingkat RENG adalah leluhur tingkat ketujuh atau tingkatan tertinggi. Diatas tingkatan ketujuh tidak lagi dihitung walaupun secara bilogi WARENG tentu punya orang tua. Dan orang tua wareng pun punya orang tua. Apabila BaKaKo ditambahkan dengan BaKaCaReng maka itulah tujuh tingkatan keleluhuran yaitu Bapa, Kakyang, Kompyang, Buyut, Kelab, Canggah, wareng. Jadi tujuh tingkatan keleluhuran. Selengkapnya adalah bakako bakacareng inilah sesungguhnya KAWONGANING WANG. Fakta tidak bisa diubah oleh apapun dn oleh siapapun, karena fakta ini adalah salah satu kebenaran dari lima srada hindu. Jenis-jenis Sanggah Kemulan

Umat Gama Bali menurut "dimensi" dan "kondisinya", membedakan Sanggah Kamulan menjadi beberapa jenis antara lain :

  1. Turus Lumbung,
    adalah Sanggah Kamulan darurat, karena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanent. Bahannya dari turus kayu dapdap (kayu sakti). Fungsinya hanyalah untuk ngelumbung atau ngayeng Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan. Satu tahun setelah membuka karang baru diharapkan sudah membangun Kamulan yang permanen.
  2. Sanggah Penegtegan,
    adalah kamulan yang berfungsi hanya sebagai tempat negtegang (membuat ketentraman) dengan memuja Hyang Kawitan bagi mereka yang baru berumah tangga. kamulan sejenis ini banyak kita jumpai di daerah Kabupaten Bangli bagian atas. Setiap mereka yang baru kawin diwajibkan membangun sebuah Sanggah rong tiga, sehingga dalam satu pekarangan akan berdiri beberapa yang telah berumah tangga.
  3. Kamulan jajar atau Kamulan Agung.
    Sesuai dengan namanya, kamulan ini memiliki dua saka (tiang) yang berjajar dimuka yang menancap langsung pada bebaturan (palih batur).

Disamping itu, Kamulan jenis ini, disamping mempunyai ruang tiga yang berjajar, juga terdiri dari tiga bagian, yaitu :

  • bebaturan,
  • ruang lepitan, dan
  • ruang gedong sampai atapnya.

Ruang lepitan letaknya dibawah rong tiga yang berjajar itu. Jadi kalau disimpulkan Kamulan jajar ini terdiri dari jajar horisontal dan jajar vertikal, sebagai simbolis dari Hyang Murti dan Tri Purusa.

Apa fungsi ruang lepitan itu?

Belum diketemukan sumber pasti. Namun kita lihat fungsi Kamulan sebagai Palinggih Atma dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Batur Kamulan, Sthana Atma yang masih kotor, yang baru mendapat pengentas pendem (lontar Tattwa Kapatian)
  • Rong tiga, terutama kiri dan kanan adalah tempat Atma suci yang telah dilinggihkan.
  • Ruang lepitan adalah tempat yang dapat dicapai oleh Atma yang sudah diaben.

Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan, Sanggah Kamulan terdiri dari tiga bagian kosmos, yakni bebaturan sebagai Bhur Loka atau pitra loka alamnya para Pitara, yaitu Atma yang sudah diaben, sedangkan Rong tiga sebagai Swah Loka alamnya para Dewa, yang dapat dicapai oleh atma yang mencapai alam kedewaan setelah melalui proses upacara memukur.

Dari pandangan Ritual, yang distanakan di Rong 3 tersebut adalah jiwa - jiwanya para leluhur, dan jiwa itu bersifat cahaya. Dan penempatan Jiwa-jiwa leluhur di areal rumah adat bali, yaitu :

  1. Roh yang belum meninggal posisinya masih ngayah di areal tempat suci di desa setempat, bagi keluarga yang ingin melaksanakan "ritual Munjung" dapat dilakukan di 2 tempat, yaitu: di kuburannya langsung atau di lebuh rumah (depan pintu masuk pekarangan).
  2. Leluhur setelah upacara Ngaben, didalam rumah beliau diberi tempat di "Bale Dagin", itulah sebabnya di bale dangin bagian hulu dibuatkanlah sebuah tempat (lenggatan), yang dijadikan tempat mengaturkan sesajen ataupun munjung. terkadang di beberapa rumah tangga (sanggah gede/pamugeran) beliau distana di palinggih "dewa pitra" yang bertempat di timur "bale daja" biasanya posisinya nempel di tembok luar bale daja sisi timur.
  3. Dewa Pitra, yang kemudian diberikan yadnya "upacara Nyekah",dewa pitra berubah status menjadi "Dewa Pitara", saat ini beliau sudah boleh memasuki areal Sanggah/Pamerajan, yang kemudian malinggih di "Anda Kamulan atau Lepitan Kemulan" posisinya di ruangan di bawah rong tiga. bagi Sentana (keluarga) yang mampu membangun "sanggah palihyangan". kata Palihyangan berasal dari kata "Palingih Hyang"
  4. setelah dilaksanakannya Yadnya Piodalan di Sanggah tersebut, barulah beliau boleh malingih di Rong Tiga, dan saat tersebutlah beliau bergelar "Dewa Hyang".
  5. setelah Dewa Hyang ataupun Dewa Pitara dihaturkan "Yadnya Panilapati", barulah beliau dapat menyatu dengan Tri Murti, yang kemudian beliau bergelar "Hyang Guru". inilah puncak status dari perjalanan Suci Roh/Jiwa Manusia yang belum mencapai "Adi Moksa".

jadi secara umum, yang dapat ber-reinkarnasi secara baik adalah reinkarnasi dari Dewa Pitara, sedangkan posisi lainnya kurang memenuhi syarat baik treinkarnasi, apalagi roh yang belum diupacari Ngaben. apabila belum ngaben roh tersebut sering disebut "pitra dekot(roh yang masih kotor)" biasanya dicirikan dengan adanya banyak halangan semasa hidup sang numadi.Ritual Ngunggahang Dewa Pitara di Sanggah Kemulan

Selain tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sanggah kamulan adalah tempat memuja dan menstanakan roh suci leluhur. Agar leluhur dapat berstana di Sanggah Kamulan tentunya melalui proses upacara yang disebut dengan Ngunggahang Dewapitara. Tata cara mengenai ngunggahang Dewapitara diuraikan dalam Lontal Purwabhumi Kamulan dan Lontal Lebur Gangsa.

Adapun tata cara dalam ngunggahang Dewapitara menurut Lontar Purwa Bhumi kamulan adalah sebagai berikut:

  1. Dewapitara mula-mula dipuja tarpana melalui daksina pangadegan,sebagai simbolik daripada Dewapitara.
  2. Setelah puja tarpana,lalu warganya menyembah kepada Dewapitaranya.
  3. Berikutnya daksina pangadegan Dewapitara itu dituntun ke Sanggah Kamulan.
  4. Kemudian dinaikan dan disthanakan.Kalau laki-laki ditempatkan disebelah kanan,sedangkan kalau perempuan ditempatkan disebelah kiri dari ruang kamulan tersebut.
  5. Setelah itu kembali dijaya-jaya oleh pendeta sekali lagi pula persebahan dilakukan oleh keluarga dan keturunannya.
  6. Terakhir dilaksanakan puja Pralina yang artinya menyimpan dan mengembalikan kepada asal Dewapitara tersebut. Daksina pangadegan dilukar lalu dibakar. Abunya dikumpulkan dan ditaruh di dalam nyuh gading, disertai wangi-wangian,kemudian ditanam pada hulu sanggah kamulan tersebut.

Mengenai upakara atau bebantenan yang digunakan dalam ngunggahang Dewa pitara menurut Lontal Purwabhumi Kamulan adalah bebantenan yang sama seperti bebantenan hari pawedalan dewa dengan disertai:

  1. Saji dewa agung
  2. Jarimpen agung
  3. Sesayut
  4. Pengambeyan
  5. Pangulapan
  6. Panuntunan,yang peralatannya terdiri dari: Tulup yang dialasi dengan beruk berisi beras, Uang kepeng 225, dan Benang Tridatu 3 tukel (warna merah,putih,hitam). Uang kepeng dan benang dikaitkan pada tulup.
  7. Daksina pangadegan Dewapitara.

Dari uraian di atas ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi yaitu:

  • terdapat kalimat "irika mapisanan lawan Dewahyangnia nguni" dapat diartikan menunggalnya Atman individu yang telah disucikan dengan Sumbernya (Hyang Kamulan).
  • Upacara ngunggahang Dewapitara adalah tergolong Dewa Yadnya. Sehingga bebantenannya yang diperlukan sama seperti hari pawedalan dewa, banten apasarean (Odalan pemereman).

Tentang upacara ngunggahang Dewapitara juga diuraikan dalam Lontal Tutur Plebur Gangsa lewat yadnya Pasakapan Nilapati. Dari kutipan di atas perlu digaris bawahi bahwa:

  1. Ngunggahang Dewapitara di Sanggah Kamulan disebut sebagai Pesakapan Nilapati
  2. Tempat ngunggahang Dewapitara adalah Ibu dengen kamulan
  3. Pada upacara ini diperlukan nawur denda kelepasan pitra. Yang maksudnya adalah penebusan dosa-dosa pitra tersebut yang pernah diperbuat semasa hidupnya
  4. Adanya perwujudan Dewapitara berupa daksina palinggan sanghyang Atma.
  5. adanya suatu harapan agar Dewapitara abadi bersthana pada Sanggah Kamulan.

Tata Cara membangun Sanggah Kemulan

Kapan Mulai membangun Sanggah Kemulan?

Sanggah Kemulan mulai dibangun saat pertamakali kita (orang bali) menempati rumahnya.

untuk pertamakalinya, sanggah kemulan berupa turus hidup, dimana batang turusnya terdiri dari kayu dapdap (taru sakti) dan kayu andong bang. Dapdap mewakili tumbuhan obat sedangkan andong bang mewakili tumbukan upakara (yang biasanya dibuat untuk pasupati).

setelah 6 bulan  atau paling lambat 10 odalan (5 tahun), barulah dibuatkan sanggah kemulan permanen. konsekwensi dibangunnya sanggah permanen adalah ditetapkannya odalan sanggah kemulan tersebut melalui ritual Caru Rsighana, Piodalan Pamereman, Mendem Pedagingan (panca datu). Kapan dilaksanakan paket ritual tersebut, saat itu-lah digunakan seterusnya sebagai tegak (hari) piodalannya.

Cara menentukan Lokasi Sanggah Kemulan

Sanggah Kamulan secara umum memakai ukuran tampak kaki pemiliknya yaitu: 11 x 7 tampak rincian jarak; dari Utara ke Selatan 11 tampak ditambah atampak ngandang dan jarak Timur ke Barat 7 tampak ditambah juga atampak ngandang. Pemakaian tampak kaki pemiliknya dan bukan tampak kaki orang lain didasarkan kepada keputusan Sang Hyang Anala yang berbunyi sebagai berikut:

Muwah kenge takna, yan ri kalaning kita ngawe sukat wewangunan tulakakna ring buana sariranto, para ikang mamet, sakeng rika juga pasuk wetunia, yata urip lawan patinia, paweh lawan walinia, suksma mwah maring nguni
Yang patut diingat, pada waktu Anda membuat ukuran bangunan, ukurlah diri Anda, dari sanalah diambil bagian-bagiannya, sebab dari sana jugalah keluar masuknya, demikian pula hidup dan matinya, memberi dan mengembalikannya, pada akhirnya kembali musnah pada asalnya dahulu.

Pada kutipan di atas terdapat pernyataan "tulakakna ring buana sariranta (ukurlah diri Anda), para ikang ngamet (dari sanalah diambil bagiannya)". Jadi untuk mengukur sebuah bangunan digunakan ukuran bagian organ tubuh pemiliknya. Saking rika juga pasuk wetunia ( dari sana jugalah keluar masuknya). Organ tubuh yang dapat menggerakkan manusia untuk dapat bergerak keluar dan masuk adalah kaki. Itulah sebabnya digunakan tampak kaki pemiliknya.

Titik tolak pengukuran Pembangunan Sanggah Kamulan dimulai dan Ersania (Timur Laut) dan Timur, yaitu batas tembok penyengker ke Barat sebanyak 7 tampak. Dimulai dari Timur karena Timur lambang kesucian keutamaan. Pemakaian 7 tampak dari Timur didasari oleh perhitungan Asta Kosala Kosali bahwa perhitungan membuat bangunan didasarkan astawara, yaitu; sri, indra, guru, yama, ludra, brahma, kala dan uma.

Perhitungan ini berlaku kelipatannya, sehingga pemakaian 11 tampak jatuh pada perhitungan "Guru" dan 7 tampak jatuh pada "kala". ini dimaksudkan agar sepanjang waktu (kala) penghuni rumah selalu dilindungi dan diberikan sinarnya (guru). Apabila  kewalahan/lahan tidak memungkinkan, ukuran sanggah kemulan juga bisa di sesuaikan, minimal sri (sejahtera), atau diusahakan indra (berwibawa) - guru (dibimbing).

Banten Mlaspas Sanggah kemulan

Dalam lontar Kala Tattwa, sanggah kemulan mendapatkan posisi istimewa daripada sanggah/pelinggih lainnya. ini terlihat dari pembahasan khususnya mengenai ritual pertamakalinya membangun sanggah kemulan. Namun Banten ini sepertinya berhubungan dengan Piodalan pertama kalinya. adapun banten yang dipersiapkan:

  • Pada ruang (rong) bagian tengah: tumpeng 10, guling itik, 2, tumpeng guru 7, tumpeng catur 4, itik digoreng 1, dibuat seperti urip (winangun urip), itik lada 1, byu 4, sasamuhan 4, saraswati 2, pancaphala 2, sasamuhan catur 4, lingga 2, sekah dewa 2, lawe 2, jinah 450, kain putih 2 setel, saput empat warna uang 900, duma uang 50 pala 2, pupus i jenar 16, uang lingga 33, disertai kukumbu, kelapa singgat ditempatkan pada tamas, catur muka waidyagana serta kelengkapannya, Yama Raja, suci seperti yang dulu.
  • Pada ruang (rong) sanggar kanan dan kiri;tumpeng masing-masing 4, itik diguling lengkap masing-masing 2, lada masing-masing 2, sasamuhan masing-masing 2, saraswati masing-masing 2, pancapala 2, saput 1, uang 225, jebugaram 1, berisi duma 25, pupusi jenar 11, suci waidya masing-masing 2, dilengkapi dengan pras ajuman, daksina gede seperti biasanya. (banten) di depan pemujaan sama seperti di depan.
  • Caru di bawah (sor); babi diolah 1, diolah dijadikan sate dengan masing-masing galahan, tulangnya dibuat seperti hidup (winangan urip), babi guling 1, caciri guling babi betina yang masih muda 1, guling itik 1, babangkit 1, tadah 1, pras, benang satu gulung, uang 225, ayam dipanggang 12, uang taled babangkit 225, benang satu gulung, sega cacahan 11 tanding, ikannya gagempungan ditempatkan pada nyiru baru, uang untuk alasnya masing-masing 11, sayur sakawali, glar sangha, sega garuda, timbunan acatu ditempatkan pada nyiru baru, ditulis garuda. Ikannya sate 23.

Banten yang dihaturkan di sanggah kemulan

Sarana pokok dan dalam setiap melaksanakan ritual adalah:

  • adanya Persembahan (banten),
  • adanya Api (dupa),
  • adanya Air (tirta) dan,
  • adanya permohonan dari yang berkepentingan melaksanakan ritual lewat sesontengan ataupun puja mantra (angin).

untuk kelengkapan banten ritual di Sanggah kemulan, dapat dibagi menjadi 2 yakti yang bersifat rutin dan bersifat khusus dalam rangka piodalan.

Upacara yang sifatnya Rutin

Ritual upacara, menghaturkan Banten di sanggah kemulan minimal dilaksanakan pada saat :

  • Purnama
  • Tilem
  • Kajeng Klion Enyitan
  • Kajeng Klion Uwudan
  • Dina Patemon Piodalan Sanggah Kemulan.
    Misalnya Piodalan Sanggah Kemulan pada Budha Umanis Prangbakat, maka setiap hari Budha Umanis, wajib keluarga pangempon menghaturkan Banten.

Adapun Banten wajib yang dihaturkan adalah Canang Sari dan Base Lekesan.
Cukup menghaturkan di rong tengah saja, bila memungkinkan haturkan ke tiga rongnya. ritualnya: Canang sari dan Base lekesan untuk rong di tengah, sedangkan rong kanan-kiri hanya canang sari saja.

Selain menghaturkan Canang sari dan Base lekesan,
ritual upakara yang wajib mengikutinya adalah menghaturkan Segehan Mancawarna di:

  • Natar Sanggah,
  • Natar Pekarangan, dan
  • Lebuh (depan pintu masuk angkul-angkul).

Pada waktu yang sama, canang sari juga wajib dihaturkan di pelinggih pendamping kemulan, yakni:

  • Untuk di Mrajan:
    Sanggah Taksu dan Anglurah Agung (yang diutamakan),
    serta pelinggih lainnya bila memungkinkan.
  • Untuk di natah:
    Sedahan Karang (Pengijeng karang), Dapur (tunggu/tempat api), Sumur (tempat Air) dan Plangkiran di kamar kepala keluarga (yang diutamakan),
    serta pelangkiran yang ada di setiap bangunan rumah ataupun tempat lainnya.
  • Untuk di lebuh:
    palinggih pengapit angkul-angkul (yang diutamakan),
    serta tempat lainnya yang ada diluar rumah seperti indrablaka, tugu pesimpangan, sungai dll

Banten Upacara Piodalan

Banten untuk piodalan disesuaikan dengan kemampuan, tetapi ritual ini wajib dilaksanakan. berikut ini dua contoh piodalan wajib bagi orang yang ingin melakukan dengan kesederhanaan tetapi sifatnya Utama (Kanistan). Namun bila memiliki kemampuan lebih, hendaknya banten piodalan ditingkatkan menjadi Piodalan Madya (Padudusan alit) dan kalau memungkinkan hingga tingkat Utama (karya agung)

  1. Piodalan Alit adapun Banten yang perlu dipersiapakan untuk piodalan alit sama seperti halnya menghaturkan canang sari dan base lekesan pada rerahinan rutin seperti Purnama, Tilem dan Kajeng Klion, hanya saja ada tambahan Banten Pejati yang di haturkan di rong tengah Sanggah Kemulan. setelah dihaturkan Banten Piodalan tersebut oleh Kepala Keluarga atau Tetua keluarga, dilanjutkan dengan sembahyang. setelah semua keluarga sembahyang, dihaturkan Banten Panyineban dengan serana Canang Sari saja.
  2. Piodalan Tebasan untuk keluarga yang lebih mampu, dilaksanakan piodalan Tebasan. adapun banten yang harus disiapkan antara lain:
    • Banten di Sanggah Surya (yang dibuat dari bambu): Daksina Peras Ajuman (a soroh), Canang Lenge-wangi Burat-wangi, Rayunan Putih Kuning, Canang Pengrawos, Toye (air) anyar, Beras Kuning mewadah takir (pewarna kuning dari bahan kunyit), Pasucian, dan Canang Sari.
    • Banten Sanggah Kemulan: Daksina peras ajuman (a soroh), Penek medaging beras kuning, metatakan takir, meraka sakewenang, Canang Lenge-wangi Burat-wangi, Pasucian (pabersihan) a soroh, Toya anyar (untuk tirta ke tunas saat muspa), Canang Sari dan Base Lekesan.
    • Banten Ring Arepan Widhi (Bale Pengias bila memiliki, atau Asagan sebelah Kemulan tetapi tingginya sejajar rong tiga): Ngadegang/mekarya Tapakan Widhi prelinga Ida Bhatara antuk tapakan (wakul mepayas), Daksina Peras Ajuman, Peras Penyeneng, Sayut Pengambeyan, Sodaan putih-kuning, Prangkatan adulang, Penyeneng Taterag, Rantasan dan Pasucian (pabersihan), Sesayut Langgeng Amukti Sakti, (tingkahing; penek medaging kalpika 5, metajer muncuk dapdap merake sakawenang), Sesayut Guru Asih, (tingkahing; alednia kulit sesayut, medaging tumpeng a besik, pacekin sekar cempaka, tunjuk langit lan sandat. iwak sarwa suci), Tebasan Bagia Setate, (tingkahing; penek medaging tipat bagia, tipat sari 6, maiter don kayu sugih, raka sarwa galahan muwah woh-wohan).
    • Banten ring Pelinggih lainnya dan Pelangkiran di Bangunan/Bale: Canang sari
    • Banten Caru eka sata (Brumbun) di natar sanggah.
    Eteh-eteh Nganteban Banten Piodalan Alit.
    adapun yang harus disiapkan dalam menghaturkan piodalan, berikut rangkaian ritualnya:
    • Pebersihan Prayasita, Rantasan (tigasan). Toya Anyar
    • Penastan, Cecepan, Tetabuhan jangkep, Tirta nunas ring sulinggih (tirta penglukatan, pebersihan lan prayasita).
    Banten Pengeluwur Premangkin: Tipat kelanan, Bantal kelanan, Jaja kukus, dan Sumping, serta Canang Sari.

Untuk keluarga yang lebih mampu, hendaknya minimal menggunakan Banten Tebasan ini. Bahkan disarankan untuk menjalankan tingkatan yang lebih dari Banten Piodalan tebasan ini. orang bali mengenal istilah "sikutang ring dewek'e" yang maknanya, dalam melakukan segala sesuatu (yadnya) harus berdasarkan kemampuan yang kita miliki. melakukan yadnya sekecil-kecilnya dengan dalih keiklasan tetapi memiliki kemampuan lebih, itu sama artinya membohongi diri, yang artinya juga menghianati anugrah dan kemampuan yang telah diberikanNYa. Jadi wajarlah kita selalu bermasalah dalam kehidupan, karena dengan yang dipuja saja kita berbohong dan tidak bisa "nyikutang rage".

pertanyaan yang umumnya dilontarkan oleh semeton bali adalah

  • apakah persembahan daging dibenarkan dalam ritual Bali?
  • tidakkah itu disebut HIMSA KARMA?

apabila merujuk pada sastra weda, membunuh binatang dan menggunakan ciptaanNYA dalam hal ini mahluk hidup untuk upacara yadnya itu dibenarkan. adapun dasar sastranya dapat dibaca di Rg Weda I.162.11, Manawa Dharma Sastra V.39-40.

jadi, jangan pernah meragukan ritual yang diwariskan ini.
walaupun tetua kita sering berkilah "nak mule keto" (emang begitu dari dahulu, dari sananya), tetapi bila dicari lebih dalam, tetua kita menginginkan kita fokus pada hal-hal yang menyangkut tanggung jawab Grahasta. tetua kita biasanya menghindari pertanyaan-pertanyaan ini dengan berkilah lewat istilah "Aywa Wera" (belum saatnya diketahui). Sastra akan diberikan saat kita sudah terlepas dari ikatan Grahasta, yaitu Wanaprasta dan wajib diketahui dan dipahami saat sudah menapakan kehidupan pada tahap Sanyasin, atau menjadi sulinggih (Brahmana/dwijati).

Daftar RefrensiKitab Rg Weda

Sloka Rg Veda tentang Leluhur

Untuk lebih memantapkan keyakinan kita, bahwa memuja leluhur sangat penting, berikut ini beberapa sloka yang berkaitan dengan hal tersebut:

ud iratam avara ut parasa un madhyamah pitarah somyasah
asum ya iyur avrka rtajnas te no 'vantu pitaro havesu
(Rg Weda X.15.1)
Semogalah yang di bawah, paling di tengah, para leluhur pencinta Soma bangkit, semogalah para leluhur itu, yang sangat ramah (penuh persahabatan), yang mengetahui kebanaran, yang hidup dalam keabadian, menganugrahi kami sesuai dengan doa persembahan kami

idam pitrbhyo namo astv adya ye purvaso ya uparasa iyuh
ye parthive rajasy a nisatta ye va nunam suvrjanasu viksu
(Rg Weda X.15.2)
Semogalah dengan kebaktian yang dilaksanakan hari ini, para leluhur yang telah lama pergi dan mereka yang barn saj a meninggal, yang telah duduk di angkasa raya atau yang sekarang bertempat tinggal di tempat yang terang benderang

aham pitrn suvidatram avitsi napatam ca vikramanam ca visnoh
barhisado ye svadhaya sutasya bhajanta pitvas ta ihagamisthah
(Rg Weda X.15.3)
Kami memperoleh berlimpah anugrah dari para leluhur, kakek, dan Sang Hyang Wisnu, mereka yang duduk bertebaran, akan ikut serta dalam acara pemerasan minuman dengan persembahan kepada yang telah meninggal, datanglah kemari dengan penuh kegembiraan

barhisadah pitara uty arvag ima vo havya cakrma jusadhvam
ta a gatavasa samtamenatha nah sam yor arapo dadhata
(Rg Weda X.15.4)
Wahai para leluhur yang duduk bertebaran, datanglah kemari dengan (membawa) pertolongan, upacara persembahan ini kami persembahkan untuk anda, semoga anda berbahagia. Datanglah dengan pertolongan bermanfaat, karuniailah kami kesehatan, rahmat dan bebaskan dari keperihan

upahutah pitarah somyaso barhisyesu nidhisu priyesu
ta a gamantu ta iha sruvantv adhi bruvantu te 'vantv asman
(Rg Weda X.15.5)
Dimohon kehadiannya para leluhur pecinta Soma untuk tempat yang tersimpan dan amat disayangi, tempat yang bertebaran, semogalah mereka (para leluhur) datang kemari, semogalah mereka mendengarkan dan berkenan untuk bercakap-cakap dan memberikan pertolongan kepada kita

acya janu daksinato nisadyema yajnam abhi grnita visve
ma himsista pitarah kena cin no yad va agah purusata karama
(Rg Weda X.15.6)
Duduk bersila dengan kaki terlipat di arah selatan, menganugrahkan karunia yang berlimpah terhadap upacara, tidak melukai kita, wahai para leluhur, berdasarkan alasan ini, perbuatan dosa apapun yang telah kami lakukan kepada anda, wahai para leluhur, itu adalah karena kelemahan kami (sebagai umat manusia)

asinaso aruninam upasthe rayim dhatta dasuse martyaya
putrebhyah pitaras tasya vasvah pra yachata ta ihorjam dadhata
(Rg Weda X.15.7)
Duduk di haribaan fajar merah, memberikan kekayaan kepada penyembahnya yang fana. Untuk putra (keturunan) anda, wahai para leluhur, anugrahkanlah kekayaan itu, demikian pula anda menganugrahkan kekuatan (kepada kami)

agnisvattah pitara eha gachata sadah-sadah sadata supranitayah
atta havimsi prayatani barhisy atha rayim sarvaviram dadhatana
(Rg Weda X.15.11)
Wahai pan leluhur (badan anda) telah dilalap api, datanglah kemari, silakan duduk pada tempat duduk yang telah disiapkan masingsmasing, anda adalah pembimbing (kehidupan), yang menikmati persembahan yang ditaburkan bertebaran, kemudian anda menganugrahkan kekayaan diikuti oleh seluruh putra-putra yang kuat

Sloka Rg Weda yang berhubungan dengan keistimewaan kita sebagai manusia:

pra bhratatvam sudanavo 'dha dvita samanya, maturgarbhe bharamahe (RgVeda VIII.83.8)
"Yang Maha Pemurah, Kita telah mengukuhkan kekerabatan yang lestari, dengan keselarasan di rahim ibu"

Tvam hi nah pita vaso tvam mata satakrato babhuvitha, adha te mumnam imahe (RgVeda VIII.98.11)
"Yang Maha Pemurah, Engkaulah Bapak dan Ibu kami, kini kami memohon karuniaMU"

srnvantu visve amrtasya putra a yedhamani divyani tasthuh (RgVeda X.13.1)
"semoga semua putra yang lahir memiliki sifat ilahi (surgawi)"

Yo nah pita janita yo vidhata dhamani veda muvanani visva, yo devanam nanadha eka eva tam samprasnam bhuvana yantyanya (Rg Veda X.82.3)
"Bapa kami, Pencipta kami, penguasa kami, yang mengetahui semua tempat, segala yang ada, Dialah satu-satunya memakai nama dewa yang berbeda-beda, dialah yang dicari oleh semua mahluk dengan renungan"

Putrayeva pitara mahyam siksatam (Rg Veda X.39.6)
"ajarkanlah kami, seperti halnya Ayah yang mengajari anaknya"

Sloka Rg Weda yang berkenaan dengan penyebelihan binatang untuk yadnya:

Yat te gatrad angina pacyamanad Abhi sulam nihatasyavadhavati Ma tad bhumyam a srisan ma trnesu Devebhyas tad usadbhyo ratam astu (Rg Veda I.162.11)
"apa yang menetes dari daging panggang, yang ada diatas panggangan, jangan dibiarkan tumpah. Persembahkanlah itu semua kepada Beliau (para dewata)"

Yayur Weda

Sloka Yayur Weda yang berhubungan dengan keistimewaan kita sebagai manusia:

sa no bandhur janita sa vidhata dhamani veda bhuvanani visva (Yayur Veda)
"Ia adalah bapak kami, kawan kami, pencipta kami yang mengetahui segala yang ada"

Sama Weda

Sloka Sama Weda yang berhubungan dengan keistimewaan kita sebagai manusia:

Uta vata pitasi na uta bhratota nah sakha (Samaveda 1841)
"Engkau adalah bapak kami, saudara kami, kawan kami"

Athawa Weda

Sloka Atharwa Weda yang berhubungan dengan keistimewaan kita sebagai manusia:

sarvam samsicya martyam devah purusamavisan (Atharva Veda XI.8.13)
"Bila mereka (bapak dan ibu) telah selesai memadukan bakal manusia (bersenggama), Tuhan masuk kedalamNya"

sa nah pita janita sa uta bandhuh (Atharva Veda II.1.3)
"Ia adalah Bapak Kami, Pencipta Kami, Kawan Kami"

Taittiriya Upanisad

Sloka Taittiriya Upanisad berkenaan dengan penghormatan kepada Orang Tua dan Leluhur

matrdevo bhava pitrdevobhava, acaryadevo bhava atithidevo bhava (Taittiriya Up.I.11)
seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah juga dewa dan para tamu pun adalah dewa.

Kitab Manawa Dharmasastra

Sloka Manawa Dharmasastra yang berkenaan dengan penyebelihan binatang untuk yadnya:

Yajnartham pacavah sristah Svamewa sayambhava Yajnasya bhutyai sarvasya Tasmadyajne vadho vadhah (Manawa Dharmasastra V.39)
"Swayambhu telah menciptakan hewan-hewan untuk upacara kurban. Upacara kurban yang telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan keseluruhan bumi. Dengan demikian sembelihlah hewan untuk yadnya, bukan untuk hura-hura"

Osadyah paacavo vriksatir Yancah paksinastatha Yajnartham nidhanam praptah Prapnu vantyutsritih punah (Manawa dharmasastra V.40)
"Tumbuhan, Pohon dan Semak, Ternak dan Burung, yang telah dipergunakan sebagai kurban (yadnya), akan lahir dalam tingkatan yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang"

Kekawin Ramayana

Kekawin Ramayana tentang pemujaan leluhur - Hyang Kamulan

Kutipannya sebagai berikut;

Gunamanta sang Dasaratha, Wruh sira ring weda bhakti ring dewa, Tar malupeng pitra puja, Masih ta sireng swagotra kabeh
Keutamaan sang Dasaratha,Beliau paham akan Weda, berbakti kepada Tuhan, Tidak pernah lupa memuja leluhur, Juga sayang terhadap keluarga dan rakyat

Lontar Siwagama

Lontar Siwagama tentang pendirian Hyang Kamulan

Kutipannya sebagai berikut;

“……bhagawan manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangunen ika mwang kamulan panunggalanya sowing……”
“….. Bhagawan Manohari pengikut Siva, beliau disuruh oleh Sri Gondarapati, untuk membangun Sad Khayangan Kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun "(Pura) Panti". Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun "(palinggih) ibu". Kecilnya 10 keluarga pratiwi harus dibangun, dan "(sanggah) kamulan" satu-satunya tempat pemujaan (yang harus dibangun) pada masing-masing pekarangan…..”Lontar Usana Dewa

Sanggah Kemulan dalam lontar Usana Dewa

Kutipannya sebagai berikut;

“ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang siwatma, ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahma dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh….” (Rontal Usana Dewa, lembar 4)
”Pada sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada kamulan kiri ibu, disebut Siwatma. Pada kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi purusa pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh (Tuhan yang menakdirkan).”Lontar Purwa Bhumi Kamulan

Sanggah Kemulan dalam lontar Purwa Bhumi Kamulan

Kutipannya sebagai berikut;

“riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni……” (Purwa Bhumi kamulan, lembar: #).
“Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sanghyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu..”

Berikut adalah kutipan tentang ritual menglinggihang dewapitara di sanggah kemulan:

Iti kramaning angunggahaken pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung mwang mukur, ring tutug rwawlas dinanya, sawulan pitung dinya, kunang wenang magawe bebanten mangunggahaken pitra agung alit, lwir pabanten kadi piodalan dewa, maduluran; saji dewa putih kuning mwang jarimpen agung, pesayutan, pengambeyan, pangulapan, lawerti warna pada matukel, jinah 225, iniketan ring tulup, matatakan beruk misi beras, saha satsat gegantungan, riwus pinuja, terpana, kinabhaktine dening swagotranira, ring wus mangkana, ikang daksina pangadegan Sang Dewapitara, tinuntunakena maring tengen, yan wadon unggahaken ring kiwa, irika mapisan lawan dwa hyangnia nguni, winastu jaya-jaya depandhita kinabhaktenana mwah dening sawargania mwang santananira. Telas mangkana tutug saparikramania, puja simpen pralina kadi lagi. Ikang adegan wenang lukar saprakarania, wenang gesengakena juga, pushadika winadahan nyuh gading saha wangi, pendem ring ulwaning Sanggah kamulan, saha raramyania,dening kidung kakawin sakawruhan nira. (Lontal Purwabhumi Kamulan, lembar 53).
Berikut ini tata cara menstanakan pitra di sanggah kemulan, setelah melaksanakan ritual nyekah dan memukur, setelah 12 harinya, 47 hari, haruslah dibuatkan banten menstanakan pitra baik tingkat besar ataupun kecil, seperti halnya banten piodalan, dengan sarana; saji dewa putih kuning dengan jarimpen agung, pesayutan, pengambeyan, pangulapan, lawerti warna pada matukel, uang kepeng 225, dikatkan dengan benang tukel di-tulup-nya, beralaskan beruk berisi beras, serta satsat gegantungan, setelah pemujaan, terpana, dilakukan sembahyang (bhakti) oleh semua keluarganya, setelah itu, daksina simbol stana sementara sang dewapitara, apabila lelaki diarahkan kesisi kanan sanggah kemulan, bila perempuan diarahkan kesisi kiri sanggah kemulan, disitulah bersatunya sang pitra yang dihaturkan pemujaan saat ini bersatu dengan leluhur yang sebelumnya, setelah itu kembali pendeta melakukan pemujaan mejaya-jaya sekali lagi serta persebahan dilakukan oleh keluarga dan keturunannya. Terakhir dilaksanakan puja Pralina yang artinya menyimpan dan mengembalikan kepada asal Dewapitara tersebut. Daksina pangadegan dilukar lalu dibakar. Abunya dikumpulkan dan ditaruh di dalam nyuh gading, disertai wangi-wangian,kemudian ditanam pada hulu sanggah kamulan tersebut.

Lontar Gong Wesi

Sanggah Kemulan dalam lontar Gong Wesi

Kutipannya sebagai berikut;

“….. ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga….” (Rontal Gong Wesi, lembar 4b).
“…… nama beliau sang atma, pada ruang kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sanghyang Tunggal menyatukan wujud”Lontar Siwagama

Sanggah Kemulan dalam lontal Tatwa Kapatian

Kutipannya sebagai berikut;

“Mwah tingkahing wong mati mapendem, wenang mapangentas wau mapendem, phalanya polih lungguh Sang Atma munggwing batur kamulan” (Rontal Tattwa Kapatian, 1a. 1b).
“Dan prihalnya orang mati yang ditanam, harus memakai tirtha pangentas baru diurug, hasilnya mendapatkan tempat Sang Atma pada Batur Kamulan”Lontar Tutur Plebur Gangsa

Lontal Tutur Plebur Gangsa

berikut beberapa baris petikannya:

Iki pebantennia pesakapan Nilapati pangunakarahaken pitra, angunggahaken pitra ring ibu dengen ring kamulan... Yadnya nawur denda kalepasan pitrane sane sampun liwar yadnya lara tan karuwat dening tamba, mwang panglukatan ika wenang tawurin ring pasakapan Nilapati. Yan sira angunggahaken pitra gawenen daksina makadi linggan Sanghyang Atma, sang pandita wenang ngwastonin ring sampune puput raris muspa sami-sami matur ring Dewapitara mangda jenek malinggih ring kamulan. (Drs.I Ketut Winaya,1989:22)
berikut banten pesakapan Nilapati untuk menaikan derajat sang pitra menjadi dewapitara, menstanakan leluhur di tempat yang bernama ibu dengen kemulan... yadnya membayar denda agar dibebaskan dari dosa leluhur selama hidupnya, dengan cara diruwat dengan obat atau penglukatan, sarananya dengan melakukan ritual pesakapan nilapati. Apabila ingin menganggkat leluhur, buatkan daksina sepertihalnya tapakan sanghyang atma, sang pandita sulinggih yang berwenang sebagai pamuput yadnyanya, kemudian sembahyang bersama mohon kepada dewapitara agar berkenan berstana di kemulan.

Lontar Kala Tattwa

Petikan Lontar Kala Tattwa yang berhubungan dengan Sanggah Kemulan

Kunang yan ngadekaken sanggar rong tiga, maka pratyekan ing babantenya dak tan kawruhakena. Ring rongan ing tengah: tumpeng 10, guling itik, 2, tumpeng guru 7, tumpeng catur 4, itik ginoreng 1, winangun urip, itik lada 1, byu 4, sasamuhan 4, saraswati 2, Pancaphala 2, sasamuhan catur 4, lingga 2, sekah dewa 2, lawe 2, jinah 450, wastra putih 2 paradeg, saput catur warna jinah 900, duma jinah 50 jebugarum 2, pupusi jenar 16, jinah lingga 33, mawor kukumba, nyiuh singgat mawadah tamas, catur muka waidyagana sahedayan, yama raja suci kayeng lagi. Ring sanggar kiwa tenggen: tumpeng pada 4, itik ginuling pada 2, lada pada 2, sasamuhan pada 2, saraswati pada 2, Pancaphala 2, saput 1, jinah 225, jebugarum 1, maisi duma 25, pipisan pupus ing jenar 11, suci waidya pada 2, saruntutanya pras ajuman, daksina gede kadi nguni. Ring aaping pamujan samangkana kadi aap. Malih caru ring sor: bawi recah 1, ingolah kakatikan sarwa galahan, balunge winangun urip, celeng guling 1, caciri bawi daha 1, guling itik 1, babangkit 1, tadah 1, pras, benang atukel, jinah 225, sata pinanggang 12, jinah taled babangkit 225, sale satukel, sega cacahan 11 tanding, iwaknya gagempungan mawadah tapi anyar, taled 11 sowang, jangan sakawali, gelar sangha, sega garuda, timbunan acatu awadah tapi anyar, sinurat garuda. Iwaknya jajatah 23. Mwang sapratyekaning adudus agung tiningkahakena ring Aji Tapahini uliken, irika telas inarcanan sapratekaning yajna, mwang ring plutuk, ring putru sangkara pada telas kabyaktayang tekang sapratekaning sawa wedana, asti wedana, atma wedana, prasama sampun kaarcanan. Kawruhakena juga pwa ya, aja epeka, apan pakenan ing kadi kitanaku juga adabeyang tadaha, maka nguni ring Rogha Sanghara ning Bhumi mwang Prakempa.
Kalau mendirikan sanggar rong tiga, ketahuilah rincian sesajennya olehmu.Pada ruang (rong) bagian tengah:  tumpeng 10, guling itik, 2, tumpeng guru 7, tumpeng catur 4, itik digoreng 1, dibuat seperti urip (winangun urip), itik lada 1, byu 4, sasamuhan 4, saraswati 2, pancaphala 2, sasamuhan catur 4, lingga 2, sekah dewa 2, lawe 2, jinah 450, kain putih 2 setel, saput empat warna uang 900, duma uang 50 pala 2, pupus i jenar 16, uang lingga 33, disertai kukumbu, kelapa singgat ditempatkan pada tamas, catur muka waidyagana serta kelengkapannya, Yama Raja, suci seperti yang dulu. Pada ruang (rong) sanggar kanan dan kiri; tumpeng masing-masing 4, itik diguling lengkap masing-masing 2, lada masing-masing 2, sasamuhan masing-masing 2, saraswati masing-masing 2, pancapala 2, saput 1, uang 225, jebugaram 1, berisi duma 25, pupusi jenar 11, suci waidya masing-masing 2, dilengkapi dengan pras ajuman, daksina gede seperti biasanya. (banten) di depan pemujaan sama seperti di depan. Caru di bawah (sor); babi diolah 1, diolah dijadikan sate dengan masing-masing galahan, tulangnya dibuat seperti hidup (winangan urip), babi guling 1, caciri guling babi betina yang masih muda 1, guling itik 1, babangkit 1, tadah 1, pras, benang satu gulung, uang 225, ayam dipanggang 12, uang taled babangkit 225, benang satu gulung, sega cacahan 11 tanding, ikannya gagempungan ditempatkan pada nyiru baru, uang untuk alasnya masing-masing 11, sayur sakawali, glar sangha, sega garuda, timbunan acatu ditempatkan pada nyiru baru, ditulis garuda. Ikannya sate 23. Tatacara upacara Adudus Agung telah dijabarkan dalam Aji Tapahini, pelajarilah. Di situ telah dimuat rincian masing-masing yajna dan pada Plutuk, pada Putru Sangkara juga telah dijelaskan termasuk rincian Sawu Wedana, Asti Wedana, Atma Wedana, semuanya telah dimuat. Hal itu patut diketahui, janganlah sembarangan, karena sepetutnya juga engkau yang memiliki sebagai santapan, terutama dalam Rogha Sanghara Bhumi dan Prakempa (pada masa kekacuan dunia dan pergolakan dunia).

Tutur Bhagawan Indraloka

"hana ta tri karana ngwang warah sira anaku, yan sedeng enak penangkilaning bala, haywa angluwarana tumuli apa ta rupa rupanen, wangsa-wangsanen,guna gunanen, rupa ngaran anngawasaken rupa ning wwang aluhung. Wangsa ngaran angawasaken wwang saguna ika ta kang tatiga, wenanglingganing popaya sandi, apan kang titiga wishesa ngaran"

Landasan dan Dasar Hukum

Landasan dan Dasar Hukum
Wedo khilo dharma mulam smerti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam atmanas tustirewa ca.
(Manawa Dharmasastra II.6)Terjemahannya:
Weda (sruti) sumber utama dari pada hukum, kemudian barulah smerti dan tingkah laku orang-orang baik, kebiasaan dan atmanastuti.
Šrutistu vedo vijñeyo dharmaṡāstram tu vai smṛtiá,
te sarvātheṣva mimāmsye tābhyāṁ dharmohi nirBabhau.
(Manawa Dharmasastra II.10)Terjemahannya:
“Yang dimaksud dengan Sruti, ialah Veda dan dengan Smrti adalah Dharmasastra, kedua macam pustaka suci ini tak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya itulah sumber dharma” .

Hukum Hindu adalah sebuah tata aturan yang membahas aspek kehidupan manusia secara menyeluruh yang menyangkut tata keagamaan, mengatur hak dan kewajiban manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, dan aturan manusia sebagai warga negara (tata Negara). berdasarkan sloka diatas, urutan prioritas sebagai dasar hukum untuk menilai sebuah prilaku adalah: Sruti ( Wahyu ). Smerti ( Dharmasastra - Penjabaran wahyu ). Sila ( Etika ). Acara ( Tradisi / kebiasaan yang di lakukan oleh orang-orang suci ). Atmanastusti ( Rasa Kepuasan hati ). SRUTI adalah Kitab POKOK agama hindu, yang kemudian disebut dengan kata Weda. Weda terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Samhita) yang dikenal dengan Catur Veda (Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda atau Atharva Veda). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Sruti. SMERTI merupakan kitab-kitab penjabaran dan/atau penjelasan dari Kitab Sruti, sehingga apabila terjadi pertentangan dalam penjabarannya, maka yang dijadikan rujukan utamanya adalah kembali ke Sruti. Kitab-kitab Smerti ini terdisi atas Upaweda, Anggaweda, termasuk kitab Itihasa (sejarah) yang didalamnya termuat Bhagawadgita, Kitab Purana (mitologi kuno) dan Kitab Sarasamuscaya SILA yakni tauladan pada maharsi, yang termuat dalam berbagai Kitab Itihasa/purana serta Lontar Bali dan kitab lainnya. ACARA merupakan tradisi yang hidup yang ada dimana umat berdiam. ATMANASTUTI yakni kepuasan hati atas apa yang dilakukan/dilaksanakan.

untuk menutup ulasan ini, ada satu do'a yang sangat berkaitan dengan pengakuan keberadaan  hyang kemulan ini, bahwa beliaulah sang penguasa hidup kita ini;

Ong sang hyang meme, sang hyang bapa, sang hyang uriping urip,
ingsun meminta sih kerthawara nugraha paduka sida sadya rahayu
Ong astu tat astu ya nama swaha
Oh Tuhan selaku Ibu dan Ayah serta sang pemberi kehidupan ini,
hamba mohon anugrahmu agar terpenuhi kebutuhan hamba.
Atas kuasaMU, semoga permohonan hamba terrealisasi.

Sedemikian pentingnya Sanggah Kemulan, sehingga menjadi sangat keliru bila ada Orang Bali yang menganut Gama Bali tidak memiliki pelinggih Kemulan Taksu. Demikian sekilas tentang Sanggah Kemulan, semoga bermanfaat.

Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.