Satwika Yadnya

116 views
banner 468x60

Yadnya yang dilakukan SESUAI SASTRA SUCI, dilaksanakan karena KEWAJIBAN itulah yang disebut dengan Yadnya yang Satwika.

Umat Hindu Etnis bali dikenal dengan tradisinya yang senantiasa melakukan ritual yadnya. Pijakan dari tradisi tersebut tentunya tersurat dalam sastra suci, seperti Lontar Sundari Gama, Bhamakertih, Dewa Tattwa, Yama Tattwa dan sebagainya. Setiap yadnya tentu memiliki aturannya tersendiri, baik bentuk upakaranya maupun waktu pelaksanaan upacaranya.

Pelaksanaan Yadnya bagi Hindu etnis Bali, mengacu pada Tiga Tingkatan Yadnya, yakni:

  1. NISTA atau Kanista, yang berakna sederhana, terdiri atas:
    • Utamaning Nista, paling sederhana tanpa sarana materi, yakni mengandalkan ketulusan hati, nunggalang sabda-bayu-idep (pametuan nyet kelawan kleteg), yang biasanya dilaksanakan oleh "Sulinggih". dalam Yadnya ini, capaian spirituallah yang dijadikan pijakan, inilah yadnya "penyupatan dalam wariga-dewasa ayu, dimana Hning sebagai pondasi dan puncak spiritual;
    • Madyaning Nista, yadnya sederhana dengan sarana material yang sederhana ditambah dengan prilaku yang sesuai dharma, disinilah posisi yadnya paling sederhana bagi yang belum midep, disinilah persembahan murni dari hasil karya sendiri, usaha sendiri dipersembahkan, hanya dengan setangkai daum, sekuntum bunga, sebiji buah buahan serta seteguk air seperti yang tertuang dalam Bhagawad Gita 9.26, yang dalam tradisi bali dikemas dengan persembahan "Canang Sari";
    • Nistaning Nista, yadnya sederhana dengan sarana material serta bantuan "tenaga" orang lain, contohnya perlengkapan upacara hasil meminta/pemberian dari tetangga, atau bahka karena kesibukan persembahan canang sari hasil karya orang lain (membeli);
  2. MADYA, yang bermakna sedang, artinya sudah menggunakan material dan sudah melibatkan keluarga besar, dan pemuputnya adalah seorang pemangku (eka jati). Yadnya tingkatan Madya ini juga terbagi atas 3 tahap:
    • Utamaning Madya, yadnya yang memerlukan biaya cukup besar, upakaranya cukup banyak sehingga memerlukan tenaga orang lain (keluarga) dalam melaksanakan ritualnya. Disamping itu sang Pengrajeg Karya (pemilik) memiliki pemahaman atas yadnya yang dijalankan disamping sudah mampu nunggalang Sabda-bayu-idep nya guna melancarkan pemujaan /pelaksanaan yadnya.
    • Madyaning Madya, seperti halnya Utamanging Madya, namun sang pemilik kurang memahami makna dan filsafat yadnya yang dilaksanakan, semua pelaksanaannya hanya berdasarkan petunjuk sastra suci saja.
    • Nistaning Madya, yadnya seperti halnya Madyaning Madya, sang pemilik tidak memahami secara utuh makna dan filsafat yadnya, serta sebagian besar perlengkalapannya bergantung pada orang lain.
  3. UTAMA, artinya besar dan mewah, disamping ritualnya cukup ribet, juga melibatkan masyarakat sekitar, dan umumnya dipuput oleh seorang sulinggih (Dwijati). Yadnya tingkatan utama ini terbagi tiga:
    • Utamaning Utama, yadnya yang memerlukan biaya besar, aturan yang ketat dan ribet, sehingga butuh tenaga pendukung yang cukup banyak, disamping itu semua pelaksana ritual sudah mapan dalam tugasnya masing-masing serta sang pemilik dan/atau pengrajeg karya sudah memahami makna dan filfasat yadnya. Sudah mampu nunggalang sabda-bayu-idep, serta melaksanakan brata khusus guna kesuksesan yadnya;
    • Madyaning Utama, yadnya seperti halnya Utamaning Utama, namun dalam pelaksanaanya sang pemilik belum mampu nunggalang sabda-bayu-idep, sehingga masih bergantung pada orang lain;
    • Nistaning Utama, seperti halnya yadnya Madyaning Utama, disamping pengrajeg diserahkan kepada orang lain, juga kurangnya pemahaman tentang yadnya, yadnya ini hanya didasarkan pada ritual yang tertuang dalam sastra suci;

Disamping Tiga Pakem Tingkatan Yadnya diatas, Yadnya satwika didasari pada 4 hal berikut ini:

  1. Sraddhā, penuh keyakinan. 
  2. Lascarya, dilaksanakan dengan penuh keiklasan. 
  3. Sastra, berlandaskan sumber sastra, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti 
  4. Nasmita, artinya dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk pamer.

untuk yadnya tingkatan madya dan utama dalam ritual keagamaan, juga diwajib memenuhi 3 hal berikut ini:

  1. Daksina, dengan sarana upacara (benda dan uang) 
  2. Mantra, dibarengi dengan Panca Gita (suara Mantra pemujaan, suara genta, suara gambelan/alat musik, suara kentongan/timpug, suara pesantian/kekawin)
  3. Annasewa, adanya jamuan makan kepada para tamu yang menghadiri upacara 

Manawa Dharma Sastra menyatakan 5 ukuran Yadnya dikatakan Dharma Sidhiyatra (Sukses), yaitu :

  1. Iksha, setiap pelaksanaan Yadnya harus jelas tujuan ideal / idiologinya.
  2. Sakti, setiap Yadnya harus dilandasi/ disesuaikan dengan kemampuan (kemampuan meluangkan waktu, tenaga, pikiran, pengendalian diri, dana dan material, secara ikhlas/ lascarya, dll)
  3. Desa, setiap Yadnya harus mempertimbangkan wilayah, tempat, ruang, tradisi, Desa mawacara, Desa dresta, dll
  4. Kala, setiap Yadnya harus mempertimbangkan waktu yang baik (ala hayuning dewasa) dengan berpedoman kepada kitab Jyotisa (astronomi & astrologi)
  5. Tattwa, setiap yadnya harus dipahami filsafat/ hakekatnya agar kita yakin.

Adapun Sloka Weda yang menjadi rujukan Satwika Yadnya:

Idanim dharma pra mananya bavedokhilo dharma mulam smrti sile,
ca tad vidam acarasca iva, sadhunam atmanastustireva ca

Manawa Dharmasastra 2.6

Seluruh pustaka suci Veda (sruti) merupakan sumber utama dharma, kemudian barulah smerti di samping sila (Tradisi, kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang bijak) dan kemudian acara (tradisi-tradisi setempat) serta akhirnya atmanstuti (rasa puas diri sendiri) [MDS 2.6]

karyam so’vekso saktimca, desa-kala-ca tatvatah,
kurute dharmassddhiyartham, viswarupam punah-punah

Manawa Dharmasastra 7.10

Menyukseskan tujuan dharma hendaknya dijalankan dengan lima pertimbangan: iksa (Tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat) dan kala (waktu) dan tidak boleh bertentangan dengan tattwa (kebenaran) [MDS 7.10].

Srutistu wedo wijneyo dharma sastram tu wai smerti,
te sarwatha wam imamsye tabhyam dharmohi nirbhabhau

Manawa Dharmasastra 11.10

Sesungguhnya Sruti adalah Weda, Smerti itu Dharmasastra, keduanya tidak boleh diragukan apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari pada hukum [MDS 11.10]

patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ yo me bhaktyā prayacchati
tad ahaḿ bhakty-upahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ

Bhagawad Gita 9.26

Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya. [BG 9.26]

aphalakanksibhir yajno vidhi-disto ya ijyate
yastavyam eveti manah samadhaya sa sattvikah

Bhagawad Gita 17.11

Yadnya yang dilakukan sesuai kitab suci tanpa mengharapkan hasil, dengan keyakinan yang kuat bahwa itu adalah kewajiban, disebut Yadnya Satwika [BG 17.11].


Sloka Weda diatas merupakan jawaban mengapa Hindu Nusantara berbeda dengan Hindu India, Hindu bali berbeda dengan Hindu Jawa, Hindu Kalimantan berbeda dengan Hindu Lombok, dan mengapa pula ajaran Hindu dalam prateknya selalu meyesuaikan dengan Perkembangan Jaman dan sesuai wilayah dimana penganutnya berada. Demikian pula halnya dengan bahasa yang digunakan. Contoh misalnya ; kitab Mahabharata pada jaman dahulu dirubah menggunakan bahasa Jawa kuno. Banyak sekali kitab Hindu yang berbahasa jawa kuno yang merupakan tafsiran dari kitab Hindu yang berbahasa sansekerta.

Kesimpulan Yadnya yang Satwika adalah:

  1. Pelaksanaanya berdasarkan kewajiban, yang tertuang dalam Sastra Suci;
  2. Sesuai dengan Dresta, Tradisi, Adat setempat;
  3. Juga atas dasar petunjuk tetua/orang suci setempat;
  4. Menyesuaikan dengan kemampuan (tingkatan yadnya)
  5. Dilaksanakan dengan keyakinan penuh sehingga menimbulkan rasa iklas;
Email Autoresponder indonesia

Comments are closed.